5CM
Karya Hasri Imroatul Izza
Langit malam
tengah tersenyum. Bintang bulan pun ikut serta menyambut dengan senang hati.
Aku tak luput menghentikan senyum di saat seperti ini, saat bersama membunuh
waktu dengan orang-orang tersayang. Orang-orang itu sahabat. Aku sepertiberada
dalam lingkaran bunga-bunga warna bermekaran. Terasa sangat nyaman. Mereka
selalu ada, bahkan sampai 10tahun ini. Genta, Arial, Zafran dan Ian, merekalah
pahlawanku. Aku Riani, sosok tercantik diantara mereka. kita berbeda, namun
perbedaan itulah kita bisa bersama hingga 10tahun ini. Malam ini seperti biasa kita
berkumpul dipelantaran rumah Arial yang memang sudah dijadikan basecame untuk
kita. Selalu aja ada topik pembicaraan dalam kebersamaan kita. Jika pada
akhirnya tak ada topik pembacarraan ketahuilah tertawa tanpa sebabpun sangatlah
menyenangkan.
Perut selalu
terisi, senyum pun selalu terukir dari mulut kita malam hari ini sebelum Genta
akhirnya mengeluarkan suara.
“aku ngerasa
kita gini-gini aja”
“aku masih
inget pas ian bilang kalau dia gak punya temen lagi selain kita berlima. Bener gak si?”
“mungkin ada
baiknya kita nggak usah ketemuan dulu”
Aku
menengadahkan kepalaku. Menatap genta dengan tatapan ‘nggak mau’. Yah aku jadi
orang yang paling tidak menginginkan keputusan Genta. Hingga tak terasa butiran
air turun tanpa perintah pada pipiku. Mereka menenangkanku layaknya princes,
meskipun pada akhirnya kitapun sepakat untuk tidak bertemu untuk sekita
3bulanan.
“kita ketemu
lagi tanggal 14 Agustus. Pokoknya nanti aku bikin reminder untuk tanggal
14Agustus dihandphone, tanggal 7 agustus aku kasih tau planningnya lewat sms
dimana kita kita bakal ketemuan. Aku yakin rencana kali ini nggak akan kita
lupain”
Kalimat itu
keluar sebagai penutup kebersamaan terakhir malam ini sebelum kita memutuskan
untuk tidak bertemu dan tidak berkomunikasi. Aku masih belum yakin apakah aku
bisa melewati tantangan dari genta. Tapi aku yakin Genta telah menyiapkan
rencana besar dipertemuan kita nanti.
Hari pun
berlalu, hujan telah turun menemani dinginnya malam. Seakan mengerti akan
perasaanku malam ini. Ku tengok bingkai yang senantiasa berdiri disudut meja
kerjaku. Terpampang jelas foto kita berlima dengan senyum bahagia. Rindu kian
memuncak membuatku ingin menghabiskan hari dengan cepat.
Kupandangi
laptop 7 Agustus jam 09.00 pagi, Genta mengirim SMS kepada 4 temannya. Selamat
pagi semuanya gw kangeeeen bgt sm kalian semua, sumpah! Tgl 14 agt nanti qta
ktm di stasiun kereta api senen jam 2 siang. Trus kl ada acara dr 14 – 20
Agustus lo batilin dulu yaa. Please... ini yg hrs dibw kl gak ada minjem ya.
Kan ada wkt seminggu: Carrier. Bajuanget yg bnyk.senter dan batere. Makanan dan
snack buat 4 hari.... kacamata item.betadine,obat.sendal sepatu.kl bs mulai
hari ini olahraga kecil kecilan, apalagi buat Ian.gitu aja ya.sampai ktm
distasiun senen jam 2. Genta yg lg kangen.
14 Agustus.
Satu lebih tiga puluh lima menit. Siang itu daerah Senen panas sekali. Di
stasiun Senen, Genta dengan bawaannya yang superbanyak, menikmati makan siang
di salah satu restoran Padang di situ. Tiba-tiba sosok Zafran terlihat oleh
Genta dengan carriernya yang gede, baju oranye menyala, celana pendek, dan
kacamata eighties ala Erik Estrada di film CHIPs-membuat Zafran terlihat
nyentrik. Sosok Ian dan Riani penuh senyum berlari kecil memasuki Restoran
Padang. Arial datang dengan membawa adiknya, Dinda.
Pukul
setengah tiga lebih, mereka berenam plus barang bawaan yang mirip rombongan
pecinta alam pun menuju ke kereta yang siap berangkat. Kereta ekonomi MATARMAJA
yang entah sudah berapa tahun melayani trayek Malang-Jakarta pulang pergi ini
tampak begitu tua dan kumuh, dengan kaca-kaca yang sudah pecah. Setelah
membereskan barang bawaan, mereka duduk berenam, berhadap-hadapan. Riani dan
Dinda duduk berhadapan di pojok dekat jendela. Genta di sebelah Riani
berhadapan dengan Arial, dan Zafran di sebalh Arial berhadapan dengan Ian. Lima
menit kemudian kereta pun mulai bergerak meninggalkan Stasiun Senen. Kereta
bergerak perlahan dengan sesekali mengeluarkan angin dari sambungan gerbongnya.
Ian lalu
lancar bercerita tentang jumpalitannya selama dua bulan. Ia yang pantang
menyerah, dua kali penolakan kuisionernya, menakjubkannnya Sukonto Legowo, Mas
Fajar, keriputnya tangan Papa-Mama, sidangnya, pokonya semua Ian ceritakan.
Arial mulai bercerita tentang Indy, wanita yang telah merebut hatinya, Indy
yang tampangnya biasa aja tapi enak dilihat dan nggak bikin bosen. Indy yang
selalu mengisi hari-hari Arial selama ini.
Setengah
malam telah lewat. Kereta tua yang tak kenal lelah itu mulai menyapa kota-kota
di Jawa Tengah, melaju cepat di atas tanah Jawa di malam hari. Jalan desa dan
jalan kota-kota tua yang damai dan sepi. Setengan tiga malam di Stasiun
Lempuyangan, Jogjakarta. Genta, Riani, Zafran, dan Dinda turun dari kereta,
menginjakkan kaki di ubin putih yang mulai kekuningan di stasiun Lempuyangan
Jogjakarta. Mereka berjalan ke toilet stasiun yang ada di antara para pedagan
yang masih mencari rezeki di malam yang terasa lain di hati mereka berempat.
Mereka
berempat segera berjalan masuk ke kereta. Perlahan tapi pasti, kereta mulai
berjalan meninggalkan Stasiun Lempuyangan. Kereta mulai melaju cepat melewati
hutan jati antara Madiun dan Nganjuk. Keenam anak manusia ini pun sudah dari
kantuknya, mulai bercanda lagi di kereta. Pagi di luar sangat cerah seakan
berdatangan menyambut rombongan yang jauh dari rumah ini.
Pukul
setengah tiga lebih mereka tiba di Stasiun Malang. Matahari sore yang sudah
enggan mengeluarkan panasnya datang menyambut. Sebelum meninggalkan kereta,
sekali lagi mereka pandangi kereta yang terdiam lelah setelah berlari seharian
penuh; kereta yang dalam diamnya telah banyak bercerita tentang beragam
manusia. Di stasiun Malang, rombongan pecinta alam itu menarik perhatian banyak
orang. Rasa pegal-pegal belum hilang benar dari badan mereka sehingga
mereka putuskan untuk duduk sebentar di bangku stasiun yang panjang-meluruskan
kaki dan menghilangkan penat.
Matahari
sore masih tersisa sedikit, menembus pepohonan di jalan desa kecil. Sore itu di
Tumpang banyak sekali kesibukan jip-jip menunggu pendaku yang mulai berdatangan
dengan berbagai macam tas carrier besar. Penampilan mereka mirip semua karena
memang mempunyai tujuan yang sama: MAHAMERU.
Mereka mulai
melangkah, menyusuri jalan berbatu desa yang akhirnya berbelok ke jalan setapak
kecil menuju ke punggung Mahameru. Perjalanan berlanjut menembus-mendaki
pinggir hutan punggung Mahameru.Dari ketinggian pinggiran lereng hutan
Mahameru, Ranu Kumbolo perlahan muncul seperti tetesan air raksasa yang jatuh
dari langit dan membesar di depan mereka.
Pukul 02.00
malam, dingin di atas tiga ribu meter. Rombongan itu berdiri di depan tenda.
Keenam anak manusia itu tertegun melihat Mahameru dalam gelap malam. Rombongan
mulai bergerak, berjalan melewati hutan cemara yang gelap. Puncak Mahameru
seperti sebuah gundukan pasir mahabesar dengan tebaran batu karang gunung di
mana-mana. Jalur pendakian terlihat terang dipenuhi sinar bulan dan cahaya
senter para pendaki mulai mendaki Mahameru.
Matahari
pagi tujuh belas Agustus pun terbit, sinar matahari yang hangat menyapa badan
dingin mereka. Keenam anak manusia itu seperti melayang saat menjejakkan kaki
di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Waktu seperti terhenti, dataran luas berpasir
itu seperti sebuah papan besar menjulang indah di ketinggian menggapai langit,
di sekeliling mereka tampak langit biru-sebiru-birunya-dengan sinar matahari
yang begitu dekat. Awan putih berkumpul melingkar di bawah mereka di mana-mana,
asap putih tebal yang membubung di depan mereka sekarang terlihat jelas sekali
kepulannya. Para pendaki tampak berbaris teratur di puncak Mahameru. Di depan
barisan tertancap tiang bendera bambu yang berdiri tinggi sendiri dengan latar
belakang kepulan asap Mahameru dan langit biru.
”…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kamu. Dan…sehabis itu
yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalar lebih
jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih
banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering
melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras
dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa…percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu”
kata Zafran
dengan penuh yakin.
Sepuluh tahun
kemudian, Minggu pagi di secret garden. Keluarga besar itu berkumpul di
bungalow secret garden. Riani dan Dinda memejamkan matanya. Sekarang mereka
menjadi seorang ibu. Bungalow secret garden hari itu penuh dengan doa, mimpi,
dan keyakinan tulus di hati anak manusia. Semuanya saling pandang dan tersenyum
hangat satu sama lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar