Sabtu, 12 September 2015

Cerpen Kewirausahaan 'Antara Asa dan Reaita'



Antara Asa Dan Realita
Karya Hasri Imroatul Izza

Ketika bintang  mulai menampakan diri, aku masih tak bergeming dari tempatku. Masih dalam posisi yang sama, menatap lurus tanpa fokus. Hanya secercah cahaya keajaiban yang senantiasa aku harapkan. Lagi-lagi, aku memikirkan akan seperti apa masa depan aku dan adik-adiku kelak. Tepat tahun ini aku mulai masuk jenjang masa putih abu-abu, dan dengan bersamaan pula adik keduaku pun memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama. Perbedaan umur yang terpaut 3tahun membuat ibu yang saat ini berstatus single parent semakin gelisah . Ya, tepat 5tahun lalu ibu melahirkan anak ketiga yang memang memiliki keterbelakangan mental. Namun ayah tak bisa menerima kenyataan hingga kemudian memilih pergi. Semenjak itu hanya ibulah yang kami punya. Ibu membesarkan kami dengan penuh cinta dan pilu. Ingin rasanya aku tak melanjutkan sekolah dan membantu ibu. Namun selalu ditolak mentah-mentah olehnya.

Hingga suatu hari, aku menatap pantulan cermin usang dikamarku lalu seutas senyum terukir dari bibirku. Dari pantulan cermin itu, terlihat aku untuk pertama kalinya sedang mengenakan seragam putih abu-abu. Segera aku berniat menunjukannya pada ibu, namun seketika niatku terurung tatkala melihat ibu yang berulang kali mengusap keringat sembari menyiapkan jajanan kecil yang selama ini dijadikan barang untuk menunjang hidup kami. Tersirat raut pilu penuh derita dari wajah keriputnya. Kulangkah kan kaki ku menuju ibu..
“ibu, aku tak ingin melanjutkan sekolah lagi, aku ingin membantu ibu saja”
“kamu harus sekolah nak, ibu tidak mau kamu menjadi seperti ibu kelak, kamu harus sukses nantinya”
Aku kemudian memeluk ibuku dengan erat dan tak sengaja air mata jatuh dari dalam mataku. Segera aku usap airmata itu.
“bu, bagaimana kalau Rani bantu ibu jajakan dagangan disekolah? Pasti teman-teman disekolah baru Rani suka. Jajan buatan ibu kan enak”

Aku mengatakan itu dengan raut antusias yang menghiasi wajah manisku. Awalnya, ibu menolaknya karena sekolah ku ini merupakan sekolah elite di kotaku. Aku pun tak menyangka dapat masuk kesekolah yang berkebalikan dengan kehidupanku ini. Namun ini bukanlah kemauanku tapi berkat beasiswa yang aku terima. Hingga kemudian rasa antusiasku ini akhirnya dapat meluluhkan hati ibu. Dan mulai hari ini aku membawa sebagian jajanan itu untuk aku tawarkan di sekolah nanti.
“Yo ayo dibeli jajanan kecil buatan ibuku, enak lho coba deh murah lagi”
Hari pertama aku jualan disekolah mendapat puluhan sikap tak mengenakan. Bahkan ada segerombolan lelaki yang sengaja menjatuhkan daganganku. Aku tak menghiraukannya. Segera ku pungut jajanan itu lalu pergi meninggalkan mereka. Namun aku tak menyalahkan mereka, mereka tak salah karna memang aku lah yang sebenarnya salah memasuki tempat. Tetapi aku masih bersyukur masih ada orang yang berbaik hati membeli jajanan kecil buatan ibuku bahkan mau jadi temanku.
Hingga tak terasa sudah berhari-hari aku melakoni pekerjaan ini. Pekerjaan yang hanya aku lakukan ketika bel istirahat berbunyi. Aku melakukannya dengan senang hati. Sebenarnya rasa malu seringkali menghantuiku namun malu itu terasa lenyap begitu saja ketika raut pilu ibu terputar di otakku. Aku bersyukur karna Allah memberiku kemudahan sehingga daganganku laris manis.

Hari ini seperti biasa aku berangkat sembari menenteng tas kuning berisi jajanan ditangan kananku. Namun langkahku terhenti tatkala segerombolan lelaki yang akhir-akhir ini menggangguku tiba-tiba muncul, ya sekarang aku mengetahui dialah Dimas cs. Ia menjatuhkan tas ku dan menginjak-injak jajananku. Aku memberontak namun apa daya jajananku telah hancur dan mereka pergi meninggalkanku begitu saja dengan jajanan yang berserakan ditanah. Aku menangis sembari memungutinya. Lalu dengan langkah gontai aku kembali melanjutkan perjalanan ke sekoah.

Sepulang sekolah segera ku mencari ibu,berniat meminta maaf karena telah merusak jajan buatannya. Namun kulihat ibu sedang menangis disebelah Shinta adiku yang memilii keterbelakangan mental. Kudatanginya hingga aku tau bahwa adiku ini demam tinggi. Aku menangis. Baru tadi pagi aku mendapat musibah dari Dimas dan kawan-kawan, sekarang aku lihat Shinta demam tinggi. Aku lihat dagangan ibu diluar pun masih utuh, kita tak punya uang sama sekali untuk biaya pengobatan adiku. Aku memeluk ibu, mencoba tenang akan musibah yang bertubi-tubi ini.
Semenjak itu, kami semua bekerja lebih giat agar segera dapat uang untuk pengobatan Shinta. Selama ini shinta hanya diberi obat alakadarnya, adiku yang kedua yang meracikan obat herbal hasil cariannya di hutan setiap sore. Sedang ibu, kini bekerja siang malam. Ketika pagi hingga sore menjual jajanan kecil buatannya, dan ketika malam datang ibu menjadi tukang cuci tetangga. Hasil yang tak seberapa namun setidaknya cukup untuk makan serta untuk berobat shinta seadanya. Selain ibu aku pun bekerja lebih giat lagi. Setiap pulang sekolah aku langsung menuju perempatan jalan Hanoman untuk mengamen disana. Suara ku yang bisa dibilang merdu membuat aku mendapatkan uang lebih banyak. Aku melakukan ini tanpa sepengatahuan ibuku. Sepulangnya aku menyerahkan semua uang pada ibu dan mengatakan aku telah belajar kelompok .Sungguh aku terpaksa berbohong seperti ini.

Keesokan harinya aku membawa dagangan lebih banyak dari biasanya. Aku ingin membantu ibu lebih banyak lagi. Namun lagi-lagi Dimas menggangguku. Ia mulai memporak-porandakan daganganku. Wajah pilu ibu dan adiku shinta tiba-tiba datang dalam otaku dan membuatku berontak keras seketika
“kalian itu apa-apaan sih? Aku salah apa sama kalian sampai kalian jahat sama aku? Pernah aku nglukain kalian nyakitin kalian? Selama ini aku diam aja karna aku yakin kalian bakal berubah. Tapi aku salah kalian malah makin menjadi-jadi. Aku memang orang miskin yang bahkan seharusnya ngga pantas disini. Kalau aku emang punya salah sama kalian aku minta maaf. Dan kalau kamu benci aku, pukul aku! Jangan rusak daganganku! Karna aku butuh ini untuk biaya pengobatan adiku!”
Aku menangis seraya memunguti jajanan yang sudah separuh terhempas dilantai lalu segera pergi meninggalkan mereka. aku tau pasti mereka teramat kaget melihat reaksiku yang seperti itu namun aku tak peduli, karna ini memang demi adiku, demi keluargaku. Dalam hati ku berkata aku benci mereka.

Setelah menyalami ibu, seperti biasa aku membawa tas kuningku lalu mulai melangkahkan kaki. Namun kali ini, bukanlah sekolah tujuan ku akan tetapi sebuah warteg dijalan Hanoman lah tujuanku. Segera aku titipkan daganganku untuk dijual disana lalu bergegas berganti baju dan segera mengamen. Semenjak ulah Dimas cs kemarin, aku berniat untuk tidak bersekolah dan memilih merauk uang di jalan Hanoman, aku hanya takut jajanan yang seharusnya dapat menghasilkan uang justru malah sia-sia tak berhasil karena ulah Dimas. Telah satu minggu sudah aku melakoni sandiwara ini. Ya Allah apa yang aku perbuat, aku sudah membohongi ibu selama ini.. tapi Demi Allah aku melakukan ini karena himpitan ekonomi yang memaksaku. Dalam hati ku menangis, ibu maafkan Rina

Sore harinya, aku pulang dengan wajah sumringah menenteng segepok uang hasil bekerjaku seharian ini. Tak lupa juga dengan mengenakan seragam putih abu-abu yang aku kenakan saat aku pergi tadi pagi. Segera kudatangi ibu dan menyerahkan uang hasil kerjaku.
“ibu tidak butuh uang dari cara yang tidak benar”  aku kaget bukan main ketika mendengar kalimat itu keluar dari mulut ibu ku.
“ibu..”
“kemana saja kamu satu minggu ini tidak sekolah? Ibu mendapat surat peringatan dari sekolah bahwa kamu tidak sekolah tanpa keterangan satu minggu ini. sejak kapan kamu pandai berbohong? Ibu tidak pernah mengajari kamu berbohong.”
“ibuu Rina minta maaf bu, Rina terpaksa melakukan ini karna Rina ingin bantu ibu lebih banyak. Rina Cuma ingin Shinta mendapat peengobatan yang layak. Rina minta maaf bu..” aku menangis tersedu yang kemudian tersungkur di depan ibu
“membantu itu tidak dengan cara yang salah. Untuk apasih kita punya berjuta-juta uang tapi didapat dari cara yang salah? Kejujuran itu kunci kehidupan. Tapi kamu merusaknya. Ibu kecewa Rina”
Sekarang aku dapat melihat bulir-bulir air mulai jatuh dari dalam mata sayu nya.. dada ku semakin sakit melihat orang yang paling aku sayang menangis karena sikapku. Segera ku peluk kakinya dan menangis tenggelam disana.
“Rina minta maaf bu.. Rina janji Rina nggak bakal ngulang ini lagi, Rina nggak bakal ngecewain ibu lagi.. demi Allah bu.. pegang janji Rina”
Ibu membangunkanku dari kakinya, lalu kemudian memeluku dengan erat. Aku kian menangis dalam pelukannya. Kata maaf tak hentinya terucap dari bibirku..
“iyaa nak nggapapaa tak usah menangis lagi.. jangan diulangin yaa.. ibu nggak mau anak ibu jadi pembohong seperti itu”
“iyaa bu Rina janji nggak akan ngecewain ibu kedua kalinya”

Semenjak itu, aku selalu berhati-hati dalam bertindak. Tak ingin mengecewakan ibu untuk kedua kalinya. Aku beraktivitas seperti biasa lagi berangkat sekolah dengan menenteng tas kuningku. Namun kali inilangkahku  kembali ke tempatku menimba ilmu sekaligus berniaga, ya itulah sekolahku. Aku menjalani hari ini dengan ceria tanpa ada pengganggu yang memporak-porandakan jajananku lagi. Seharian ini aku tak bertemu dengan Dimas cs, entah kemana mereka aku sama sekali tak peduli. 

Langit sudah mulai menghitam seakan mengajakku untuk segera pulang. Aku melangkahkan kakiku dengan ceria, menuju gubuk reyot tempatku selama ini tinggal. Namun tak kudapati siapapun didalamnya. Hanya alat-alat rumah tangga ala kadarnya yang tersisa. Segera aku datangi rumah tetangga untuk menanyakan keberadaan ibu. Namun betapa terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa ibu dan adiku sedang membawa Shinta ke Rumah Sakit. Senyum tak sengaja tersungging di bibir ku. Dan tanpa basa basi aku segera berlari menuju Rumah Sakit yang telah ditunjuk tetanggaku.
Sesampainya di Rumah Sakit segera aku cari atas nama adiku dan menuju ke ruang yang telah diberi petunjuk resepsionis. Kulihat dari kejauhan wanita tua dengan anak seusia SMP. Ya, itu ibu dan adik keduaku. Aku kemudian menghampirinya dengan langkah tak santai.
“ibu, uang kita sudah cukup untuk biaya berobat Shinta ya bu? Allhamdulillah”
“bukan ibu yang membawa Shinta kesini, tapi teman-teman kamu”
Keningku seketika berkerut mendengar ucapan ibu “Teman-temanku?”
“iyaa.. itu mereka dibelakang kamu”

Segera aku menoleh kearah yang ditunjuk ibu. Betapa terkejutnya aku ketika melihat Dimas cs lah yang ibu maksud. Aku masih menatapnya tak percaya. Bagaimana mungkin mereka melakukannya? Atau ibu yang sedang membohongiku? Tapi ibu tak mungkin berbohong kepadaku. Kulihat langkah mereka kian mendekat kearahku. Lalu kulihat pula salah satu diantara mereka mulai mencoba mengeluarkan suara, dia Dimas.
“ini sebagai permintaan maaf kita Rin. Kamu tak usah memikirkan biaya karena semua sudah menjadi tangung jawabku. Aku sadar ggak seharusnya aku ngejahatin kamu yang tak bersalah sama sekali. Sebenarnya dari awal aku tertarik sama kamu. Dan inilah yang menjadikan alasan aku untuk terus mengerjai kamu. Hanya karna aku ingin selalu menjadi sosok yang selalu kamu fikirkan. Tapi cara aku salah. Ini justru menyiksa kamu, sangat menyiksa. Aku dan teman-temanku minta maaf.. aku harap kamu bisa memaafkan kami dan mau bersahabat dengan kami”

Darahku seketika terasa membeku. Aku terpaku. Tak mampu mengatakan apapun, aku telah dibuatnya mati gaya. Bukan hanya karena pernyataan perasaannya, tetapi akan sikapnya yang selama ini ia kenal arogan menjadi lembut bagaikan malaikat.
“Rina anak baik, ia pasti akan memaafkan kalian kok. Iya kan nak?”
Ibu yang sepertinya menyadari sikapku mencoba mengisi keheningan diantara kita. Aku yang masih dalam proses pembiasaan diri pun hanya bisa menganggukan kepala, dengan arti aku meng-iya kan apa yang telah ibu bicarakan.
Mulai saat itu, aku berteman baik dengan Dimas dan kawan-kawannya. Dan mereka senantiasa membantuku menjajakan daganganku ke sekitar sekolah. Sekarang aku mengerti , keberubahan akan terjadi pada siapapun dan kapanpun waktunya. Dan setiap musibah pasti ada hikmah yang dapat diambil Mulai sekarang aku selalu berhati-hati dalam bertindak dan selalu jujur dalam berucap.









Unsur intrinsik
1.      Tema                           : Perjuangan membantu perekonomian keluarga
2.      Penokohan/watak        :
a.       Aku
-          Suka membantu (dramatik) Hingga kemudian rasa antusiasku ini akhirnya dapat meluluhkan hati ibu. Dan mulai hari ini aku membawa sebagian jajanan itu untuk aku tawarkan di sekolah nanti
-          Sabar (dramatik) : Bahkan ada segerombolan lelaki yang sengaja menjatuhkan daganganku. Aku tak menghiraukannya. Segera ku pungut jajanan itu lalu pergi meninggalkan mereka
-          Giat Bekerja (analitik) : Selain ibu aku pun bekerja lebih giat lagi. Setiap pulang sekolah aku langsung menuju perempatan jalan Hanoman untuk mengamen disana. Suara ku yang bisa dibilang merdu membuat aku mendapatkan uang lebih banyak.
-          Menghalalkan segala cara (dramatik) :  Setiap pulang sekolah aku langsung menuju perempatan jalan Hanoman untuk mengamen disana. Suara ku yang bisa dibilang merdu membuat aku mendapatkan uang lebih banyak. Aku melakukan ini tanpa sepengatahuan ibuku. Sepulangnya aku menyerahkan semua uang pada ibu dan mengatakan aku telah belajar kelompok .Sungguh aku terpaksa berbohong seperti ini.
-          Dapat belajar dari peristiwa (dramatik) : Semenjak itu, aku selalu berhati-hati dalam bertindak. Tak ingin mengecewakan ibu untuk kedua kalinya. Aku beraktivitas seperti biasa lagi berangkat sekolah dengan menenteng tas kuningku.
b.      Ibu
-          Pekerja Keras (dramatik): Sedang ibu, kini bekerja siang malam. Ketika pagi hingga sore menjual jajanan kecil buatannya, dan ketika malam datang ibu menjadi tukang cuci tetangga. Hasil yang tak seberapa namun setidaknya cukup untuk makan serta untuk berobat shinta seadanya.keriputnya
-          Sabar (dramatik) : Ya, tepat 5tahun lalu ibu melahirkan anak ketiga yang memang memiliki keterbelakangan mental. Namun ayah tak bisa menerima kenyataan hingga kemudian memilih pergi. Semenjak itu hanya ibulah yang kami punya. Ibu membesarkan kami dengan penuh cinta dan pilu
c.       Dimas
-          Pengganggu (analitik): Hari ini seperti biasa aku berangkat sembari menenteng tas kuning berisi jajanan ditangan kananku. Namun langkahku terhenti tatkala segerombolan lelaki yang akhir-akhir ini menggangguku tibatiba muncul, ya sekarang aku mengetahui dialah Dimas cs.
-          Baik hati dan dapat mengakui kesalahan (dramatik dengan tingkah laku): ini sebagai permintaan maaf kita Rin. Kamu tak usah memikirkan biaya karena semua sudah menjadi tangung jawabku.
d.      Adik Kedua
-          Tekun : Adiku yang kedua yang meracikan obat herbal hasil cariannya di hutan setiap sore
.
3.      Alur
Alur maju (Progresif)



Tahapan Alur:
a.       Pendahuluan :
Ketika senja mulai menampakan diri, aku masih tak bergeming dari tempatku. Masih dalam posisi yang sama, menatap lurus tanpa fokus. Hanya secercah cahaya keajaiban yang senantiasa aku harapkan. Lagi-lagi, aku memikirkan akan seperti apa masa depan aku dan adik-adiku kelak. Tepat tahun ini aku mulai masuk jenjang masa putih abu-abu, dan dengan bersamaan pula adik keduaku pun memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama. Perbedaan umur yang terpaut 3tahun membuat ibu yang saat ini berstatus single parent semakin gelisah . Ibu membesarkan kami dengan penuh cinta dan pilu. Ingin rasanya aku tak melanjutkan sekolah dan membantu ibu. Namun selalu ditolak mentah-mentah olehnya.
Hingga suatu hari, aku menatap pantulan cermin usang dikamarku lalu seutas senyum terukir dari bibirku. Dari pantulan cermin itu, terlihat aku untuk pertama kalinya sedang mengenakan seragam putih abu-abu. Segera aku berniat menunjukannya pada ibu, namun seketika niatku terurung tatkala melihat ibu yang berulang kali mengusap keringat sembari menyiapkan jajanan kecil yang selama ini dijadikan barang untuk menunjang hidup kami. Tersirat raut pilu penuh derita dari wajah keriputnya.
b.      Komplikasi/Penanjakan :
Hari pertama aku jualan disekolah mendapat puluhan sikap tak mengenakan. Bahkan ada segerombolan lelaki yang sengaja menjatuhkan daganganku. Aku tak menghiraukannya. Segera ku pungut jajanan itu lalu pergi meninggalkan mereka. Namun aku tak menyalahkan mereka, mereka tak salah karna memang aku lah yang sebenarnya salah memasuki tempat. Tetapi aku masih bersyukur masih ada orang yang berbaik hati membeli jajanan kecil buatan ibuku bahkan mau jadi temanku.

c.       Konflik
-          Hari ini seperti biasa aku berangkat sembari menenteng tas kuning berisi jajanan ditangan kananku. Namun langkahku terhenti tatkala segerombolan lelaki yang akhir-akhir ini menggangguku tibatiba muncul, ya sekarang aku mengetahui dialah Dimas cs. Ia menjatuhkan tas ku dan menginjak-injak daganganku. Aku memberontak namun apa daya jajananku telah hancur dan mereka pergi meninggalkanku begitu saja dengan jajanan yang berserakan ditanah. Ia melakukan itu hampir setiap hari
-          Baru tadi pagi aku mendapat musibah dari Dimas dan kawan-kawan, sekarang aku lihat Shinta demam tinggi. Aku lihat dagangan ibu diluar pun masih utuh, kita tak punya uang sama sekali untuk biaya pengobatan adiku. Aku memeluk ibu, mencoba tenang akan musibah yang bertubi-tubi ini.
-          Telah satu minggu sudah aku melakoni sandiwara ini. Ya Allah apa yang aku perbuat, aku sudah membohongi ibu selama ini.. tapi Demi Allah aku melakukan ini karena himpitan ekonomi yang memaksaku. Dalam hati ku menangis, ibu maafkan Rina
-          Ibu pada akhirnya mengetahui kebohonganku karena mendapat surat peringatan dari pihak sekolah. Ibu sengat kecewa padaku karena aku telah tega membohonginya dan diriku sendiri.

d.      Peleraian
-          Semenjak itu, aku selalu berhati-hati dalam bertindak. Tak ingin mengecewakan ibu untuk kedua kalinya

-          Mulai saat itu, aku berteman baik dengan Dimas dan kawan-kawannya. Dan mereka senantiasa membantuku menjajakan daganganku ke sekitar sekolah. Sekarang aku mengerti , keberubahan akan terjadi pada siapapun dan kapanpun waktunya. Dan setiap musibah pasti ada hikm ah yang dapat diambil Mulai sekarang aku selalu berhati-hati dalam bertindak dan selalu jujur dalam berucap.


4.      Setting/Latar
a.       Tempat:
-          Kamar : Hingga suatu hari, aku menatap pantulan cermin usang dikamarku lalu seutas senyum terukir dari bibirku
-          Jalanan : Aku menangis sembari memungutinya. Lalu dengan langkah gontai aku kembali melanjutkan perjalanan ke sekoah.
-          Jalan Hanoman : Setiap pulang sekolah aku langsung menuju perempatan jalan Hanoman untuk mengamen disana
-          Gubuk Reyot : Aku melangkahkan kakiku dengan ceria, menuju gubuk reyot tempatku selama ini tinggal
-          Sekolah : Namun kali inilangkahku  kembali ke tempatku menimba ilmu sekaligus berniaga, ya itulah sekolahku
-          Rumah Sakit: Sesampainya di Rumah Sakit segera aku cari atas nama adiku dan menuju ke ruang yang telah diberi petunjuk resepsionis.
b.      Waktu
-          Malam : Ketika bintang mulai menampakan diri, aku masih tak bergeming dari tempatku
-          Sore Hari : Sore harinya, aku pulang dengan wajah sumringah menenteng segepok uang hasil bekerjaku seharian ini.
c.       Suasana
-          Sedih : Namun ayah tak bisa menerima kenyataan hingga kemudian memilih pergi. Semenjak itu hanya ibulah yang kami punya. Ibu membesarkan kami dengan penuh cinta dan pilu
“Aku memberontak namun apa daya jajananku telah hancur dan mereka pergi meninggalkanku begitu saja dengan jajanan yang berserakan ditanah. Aku menangis sembari memungutinya. Lalu dengan langkah gontai aku kembali melanjutkan perjalanan ke sekoah.”
“Aku menangis tersedu yang kemudian tersungkur di depan ibu”
“Aku menangis. Baru tadi pagi aku mendapat musibah dari Dimas dan kawan-kawan, sekarang aku lihat Shinta demam tinggi”
-          Bahagia
“Sore harinya, aku pulang dengan wajah sumringah menenteng segepok uang hasil bekerjaku seharian ini.”
“Aku bersyukur karna Allah memberiku kemudahan sehingga daganganku laris manis”

5.      Sudut Pandang
Sudut pandang orang pertama : “Hingga suatu hari, aku menatap pantulan cermin usang dikamarku lalu seutas senyum terukir dari bibirku”




6.      Amanat
“Jangan terpaksa menghalalkan cara yang salah walau dalam keadaan sesulit apapun itu”
“Jujurlah dalam hal sekecil apapun karena jujur adalah kunci kesuksesan”
“Membantu kecil dengan cara yang halal akan jauh lebih baik daripada dalam skala besar namun dengan kesalahan besar pula”

7.      Gaya Bahasa
a.       Personifikasi : “. Dalam hati ku berkata aku benci mereka”
b.      Hiperbola : “Segera ku peluk kakinya dan menangis tenggelam disana
“Darahku seketika terasa membeku. Aku terpaku. Tak mampu mengatakan apapun, aku telah dibuatnya mati gaya. Bukan hanya karena pernyataan perasaannya, tetapi akan sikapnya yang selama ini ia kenal arogan menjadi lembut bagaikan malaikat.
Unsur Ekstrinsik
Tidak ada Latar belakang dan Biografi Pengarang.
Nilai-nilai Sastra :
a.       Agama : “Aku bersyukur karna Allah memberiku kemudahan sehingga daganganku laris manis”
b.      Sosial : “ini sebagai permintaan maaf kita Rin. Kamu tak usah memikirkan biaya karena semua sudah menjadi tangung jawabku.”
c.       Moral : “membantu itu tidak dengan cara yang salah. Untuk apasih kita punya berjuta-juta uang tapi didapat dari cara yang salah? Kejujuran itu kunci kehidupan. Tapi kamu merusaknya”






















Struktur Kebahasaan Cerpen
1.    Abstrak
Aku hanya tinggal bersama ibuku dan kedua adiku setelah ayahku memilih pergi meninggalkan kami ketika ibu melahirkan anak ketiga yang memiliki keterbelakangan mental. Semenjak itu, hanya ibulah yang membesarkan kami dengan berjualan jajanan kecil buatanya.
Sebenarnya aku tak ingin melanjutkan sekolah karena ingin membantu ibu, namun ibu selalu menolaknya dan menyuruhku untuk tetap bersekolah. Akupun kemudian melakoni keduanya, bersekolah sembari berjualan. Tak jarang aku mendapat cemoohan dari teman-temanku. Ya wajar karna sekolahku sekolah elite dan aku pun dapat disini karena beasiswaku.
Suatu hari aku bertemu dengan segerombolan lelaki yang memang sering menggangguku. Bahkan seringkali ia dengan sengaja menjatuhkan jajanan jualanku. Lambat laun aku mengenalnya, dialah Dimas cs. Aku hanya bisa bersabar ketika ia mulai melakukan aksinya.
Saati ini adiku terkena demam tinggi. Ibuku semakin bingung. Ia kemudian bekerja siang malam. Akupun berniat membantu ibu lebih giat lagi. Hingga suatu hari aku berbohong dan selalu menyempatkan diri setiap pulang sekolah untuk mengamen di perempatan hanoman. Aku terpaksa melakukan ini. Itu aku lakukan berulang-ulang. Hingga suatu ketika dimas cs kembali berulah. Ia memporak-porandakan jajananku. Kali ini aku tak lagi sabar. Aku berontak. Sampai keesokan harinya aku memilih untuk tak sekolah dan menitipkan jajananku diwarteg. Sedangkan aku berlari menuju perempatan untuk kembali mengamen.
Tak kusangka, seminggu sudah aku melakoni ini. Hingga pada suatu hari ibu mengetahui kebohonganku itu kecewa besar terhadapku. Aku hanya sanggup menyesal. Dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
Hari-hari kulewati dengan biasa, ketika aku pulang sekolah aku tak mendapati siapapun dalam rumah. Akupun bertanya pada tetangga kemana ibu dan adiku sekarang. Mereka mengatakan jika ibu sedang membawa adik bungsuku berobat di Rumah sakit. Tak sabar aku segera kesana dan menemui ibu untuk mengungkapkan kebahagiaanku karena dapat membawa adik berobat. Namun ibu mengatakan jika yang membawa adik kesini ialah Dimas cs. Aku terkejut bukan main. Lebih terkejut ketika mendengar pengakuan Dimas yang mengatakan jika ia tertarik denganku sejak awal pertemuan kita. Dan melakukan semuanya semata-mata ingin menjadi sosok yang senantiasa aku fikirkan. Aku tak menghiraukan pengakuanya karna aku tak ingin mengenal cinta dahulu. Dan akhirnya kita pun bersahabat dan Dimas kini tak lagi mengganggu, tetapi membantuku.

2.    Orientasi
a.       Ketika bintang  mulai menampakan diri, aku masih tak bergeming dari tempatku. Masih dalam posisi yang sama, menatap lurus tanpa fokus. Hanya secercah cahaya keajaiban yang senantiasa aku harapkan. Lagi-lagi, aku memikirkan akan seperti apa masa depan aku dan adik-adiku kelak.
b.      Hari pertama aku jualan disekolah mendapat puluhan sikap tak mengenakan. Bahkan ada segerombolan lelaki yang sengaja menjatuhkan daganganku. Aku tak menghiraukannya. Segera ku pungut jajanan itu lalu pergi meninggalkan mereka
c.       Hingga tak terasa sudah berhari-hari aku melakoni pekerjaan ini. Pekerjaan yang hanya aku lakukan ketika bel istirahat berbunyi. Aku melakukannya dengan senang hati. Sebenarnya rasa malu seringkali menghantuiku namun malu itu terasa lenyap begitu saja ketika raut pilu ibu terputar di otakku. Aku bersyukur karna Allah memberiku kemudahan sehingga daganganku laris manis.
d.      Langit sudah mulai menghitam seakan mengajakku untuk segera pulang. Aku melangkahkan kakiku dengan ceria, menuju gubuk reyot tempatku selama ini tinggal. Namun tak kudapati siapapun didalamnya. Hanya alat-alat rumah tangga ala kadarnya yang tersisa. Segera aku datangi rumah tetangga untuk menanyakan keberadaan ibu. Namun betapa terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa ibu dan adiku sedang membawa Shinta ke Rumah Sakit.

3.      Komplikasi
Semenjak ayah pergi meninggalkan kami, hanya ibulah harapan kami. Ingin rasanya aku berhenti sekolah untuk membantu ibu berjualan. Namun ibu menolak mentah-mentah dan pada akhirnya aku memutuskan untuk sekolah sembari berjualan. Ketika berjualan disekolah, aku mendapat tatapan yang tak mengenakan dan cemoohan dari temanku. Maklum saja sekolahku sekolah favorit. Selama menjajakan dagangan, tak jarang aku mendapat gangguan dari segerombolan lelaki yang kuketahui Dimas cs. Ia sering menggangguku bahkan menghancurkan daganganku.

4.    Evaluasi
Dimas cs semakin sering menggangguku hingga menjatuhkan daganganku sampai akhirnya tak dapat dijual. Aku pasrah saja. Hingga pada suatu hari adiku terkena demam tinggi. Ibu semakin risau bekerja siang malam mengumpulkan uang. Aku pun begitu. Setiap sekolah aku selalu menyempatkan diri ke perempatan hanoman untuk mengamen disana, ketika pulang aku hanya mengatakan usai belajar kelompok.
Dimas kembali menggangguku dan mengacaukan daganganku. Dan mulai saat itu aku memilih tak masuk sekolah dan menitipkan daganganku di warteg sekitar jalan Hanoman, sedang aku mengamen disana. Tak terasa telah seminggu sudah aku membohongi ibu. Dan suatu ketika ibu mengetahui kebohonganku dari surat pernyataan dari sekolah. Ibu sangat marah dan kecewa terhadapku.

5.                         Resolusi
Semenjak itu, aku selalu berhati-hati dalam bertindak. Tak ingin mengecewakan ibu untuk kedua kalinya. Aku beraktivitas seperti biasa lagi berangkat sekolah dengan menenteng tas kuningku. Namun kali inilangkahku  kembali ke tempatku menimba ilmu sekaligus berniaga, ya itulah sekolahku. Aku menjalani hari ini dengan ceria tanpa ada pengganggu yang memporak-porandakan jajananku lagi. Seharian ini aku tak bertemu dengan Dimas cs, entah kemana mereka aku sama sekali tak peduli.
Suatu hari aku tak menemui ibu dan adik-adiku. Ketika aku bertanya pada tetangga mereka mengatakan jika ibu sedang membawa adiku berobat. Aku langsung menuju rumah sakit. Dan betapa terkejutnya aku ketika mengetahui jika Dimas cs lah dibalik semuanya. Ia yang membiayai biaya perobatan adiku. Aku lebih terkejut ketika mengetahui pernyataan Dimas bahwa dia telah menyukaiku sejak awal pertemuan kami. Dan semua gangguan sengaja ia lakukan untuk menarik perhatianku. Dan pada akhirnya sekarang kita menjadi sahabat dan ia bukan lagi sosok pengganggu melainkan sahabat yang senantiasa membantuku.

6.                         Koda
“Jangan terpaksa menghalalkan cara yang salah walau dalam keadaan sesulit apapun itu”
“Jujurlah dalam hal sekecil apapun karena jujur adalah kunci kesuksesan”
“Membantu kecil dengan cara yang halal akan jauh lebih baik daripada dalam skala besar namun dengan kesalahan besar pula”
KAIDAH KEBAHASAAN

1.      Kosa Kata
a.       single parent          : sebutan untuk orang tua yang hanya satu (entah cerai atau ditinggal meninggal)
b.      tatkala                    : ketika
c.       memporak-porandakan: menghancurkan
d.      arogan                    : berantakan/angkuh

2.      Kata Benda dan Kata Kerja
a.       Kata benda
1)      Aku           : Hari pertama aku jualan disekolah mendapat puluhan sikap tak mengenakan
2)      Ibu                         : Hingga pada suatu hari ibu mengetahui kebohonganku
3)      Dimas        :Dimas cs semakin sering menggangguku hingga menjatuhkan daganganku
4)      Seragam Putih abu-abu : terlihat aku untuk pertama kalinya sedang mengenakan seragam putih abu-abu
5)      Cermin usang         :Hingga suatu hari, aku menatap pantulan cermin usang dikamarku lalu seutas senyum terukir dari bibirku
6)      Alat-alat rumah tangga : Hanya alat-alat rumah tangga ala kadarnya yang tersisa
7)      Jajanan                  : Ia menjatuhkan tas ku dan menginjak-injak jajananku.
b.      Kata Kerja
1)      Menatap     : Masih dalam posisi yang sama, menatap lurus tanpa fokus
2)      Membesarkan : Ibu membesarkan kami dengan penuh cinta dan pilu.
3)      Memilih     : Namun ayah tak bisa menerima kenyataan hingga kemudian memilih pergi
4)      Menoleh    :  Segera aku menoleh kearah yang ditunjuk ibu
5)      Membawa  :  seperti biasa aku membawa tas kuningku itu ..
6)      Melakukan :  Tapi Demi Allah aku melakukan ini karena himpitan ekonomi yang memaksaku.

3.      Makna Denotasi dan Konotasi
a.       Makna Denotasi
-          Namun ini bukanlah kemauanku tapi berkat beasiswa yang aku terima
-          Keesokan harinya aku membawa dagangan lebih banyak dari biasany
-          Semenjak itu, aku selalu berhati-hati dalam bertindak
-          Mulai saat itu, aku berteman baik dengan Dimas dan kawan-kawannya.
b.      Makna Konotasi
-          Hanya secercah cahaya keajaiban yang senantiasa aku harapkan
-          Langit sudah mulai menghitam seakan mengajakku untuk segera pulang.
-          Darahku seketika terasa membeku. Aku terpaku
-          . Bukan hanya karena pernyataan perasaannya, tetapi akan sikapnya yang selama ini ia kenal arogan menjadi lembut bagaikan malaikat.


4.      Gaya Bahasa
a.       Majas Perumpamaan/ Asosiasi
-          sikapnya yang selama ini ia kenal arogan menjadi lembut bagaikan malaikat.
b.      Personifikasi
-          Dalam hati ku berkata aku benci mereka”
c.       Hiperbola
-          Segera ku peluk kakinya dan menangis tenggelam disana
-          Darahku seketika terasa membeku.
-          Aku terpaku. Tak mampu mengatakan apapun, aku telah dibuatnya mati gaya. Bukan hanya karena pernyataan perasaannya, tetapi akan sikapnya yang selama ini ia kenal arogan menjadi lembut bagaikan malaikat.
d.      Metonimia
-          Seperti biasa aku membawa tas kuningku lalu mulai melangkahkan kaki

5.      Kalimat yang menjelaskan peristiwa terjadi
-          Segera aku berniat menunjukannya pada ibu, namun seketika niatku terurung tatkala melihat ibu yang berulang kali mengusap keringat sembari menyiapkan jajanan kecil yang selama ini dijadikan barang untuk menunjang hidup kami
-          Sepulang sekolah segera ku mencari ibu,berniat meminta maaf karena telah merusak jajan buatannya.
-          Sore harinya, aku pulang dengan wajah sumringah menenteng segepok uang hasil bekerjaku seharian ini.

6.      Konjungsi
a.       Konjungsi Waktu
-          Sepulang sekolah segera ku mencari ibu,berniat meminta maaf karena telah merusak jajan buatannya
-          Sore harinya, aku pulang dengan wajah sumringah menenteng segepok uang hasil bekerjaku seharian ini.
-          Setelah menyalami ibu, seperti biasa aku membawa tas kuningku lalu mulai melangkahkan kaki.
-          Sesampainya di Rumah Sakit segera aku cari atas nama adiku dan menuju ke ruang yang telah diberi petunjuk resepsionis
b.      Konjungsi Sebab
-          Demi Allah aku melakukan ini karena himpitan ekonomi yang memaksaku
c.       Konjungsi Akibat
-          Hingga tak terasa sudah berhari-hari aku melakoni pekerjaan ini
-          Namun ayah tak bisa menerima kenyataan hingga kemudian memilih pergi
d.      Konjungsi Pertentangan
-          Namun ibu mengatakan jika yang membawa adik kesini ialah Dimas cs.
-          Namun ayah tak bisa menerima kenyataan hingga kemudian memilih pergi
-          aku tak menyalahkan mereka, mereka tak salah karna memang aku lah yang sebenarnya salah memasuki tempat.
-          Namun ini bukanlah kemauanku tapi berkat beasiswa yang aku terima.




7.      Kata Ulang
a.       Kata ulang asli/utuh
-          Baru tadi pagi aku mendapat musibah dari Dimas dan kawan-kawan, sekarang aku lihat Shinta demam tinggi
-          Namun langkahku terhenti tatkala segerombolan lelaki yang akhir-akhir ini menggangguku tiba-tiba muncul
-          alat-alat rumah tangga ala kadarnya yang tersisa

b.      Kata ulang berimbuhan
-          Mulai saat itu, aku berteman baik dengan Dimas dan kawan-kawannya

c.       Kata ulang sebagian
-          memporak-porandakan jajananku
-          Aku memeluk ibu, mencoba tenang akan musibah yang bertubi-tubi ini.
-          Tapi aku salah kalian malah makin menjadi-jadi.
-          Semenjak itu, aku selalu berhati-hati dalam bertindak.

8.       Keterangan Waktu
-          “Sore harinya, aku pulang dengan wajah sumringah menenteng segepok uang hasil bekerjaku seharian ini. Tak lupa juga dengan mengenakan seragam putih abu-abu yang aku kenakan saat aku pergi tadi pagi. Segera kudatangi ibu dan menyerahkan uang hasil kerjaku.”
-          “Hari ini seperti biasa aku berangkat sembari menenteng tas kuning berisi jajanan ditangan kananku. Namun langkahku terhenti tatkala segerombolan lelaki yang akhir-akhir ini menggangguku tiba-tiba muncul, ya sekarang aku mengetahui dialah Dimas cs. Ia menjatuhkan tas ku dan menginjak-injak jajananku. Aku memberontak namun apa daya jajananku telah hancur dan mereka pergi meninggalkanku begitu saja dengan jajanan yang berserakan ditanah. Aku menangis sembari memungutinya. Lalu dengan langkah gontai aku kembali melanjutkan perjalanan ke sekoah.
-          “Hari pertama aku jualan disekolah mendapat puluhan sikap tak mengenakan. Bahkan ada segerombolan lelaki yang sengaja menjatuhkan daganganku. Aku tak menghiraukannya. Segera ku pungut jajanan itu lalu pergi meninggalkan mereka. Namun aku tak menyalahkan mereka, mereka tak salah karna memang aku lah yang sebenarnya salah memasuki tempat. Tetapi aku masih bersyukur masih ada orang yang berbaik hati membeli jajanan kecil buatan ibuku bahkan mau jadi temanku”

Sabtu, 24 Januari 2015

Ulang Tahun Syfa yang Tak terlupakan.



Ulang Tahun Syifa
Sabtu, 29 Maret 2014.

Hari ini malem minggu, tepatnya tanggal 29 Maret 2014. Dan tepat sehari yang lalu syifa ulang tahun yang ke 15
Dan malam ini, dia ngajak kita pergi bareng buat makan-makan ngrayain ulang taunya ini. kita makan di Ropita. Aku senenggggggggg banget karna akhirnya kita bisa kumpul bareng-bareng lagi.. bareng enamsemprul lah pastinyaaaa...

Pas lagi makan, heran aja gitu sama izzul megang apa-apa selalu jatoh. Ngga megang capucino lah, megang roti bakarnya lah, megang apa aja deh.
Pas udah makan juga kunci motornya aku sempet ngilang- panik kan ya pastinyaa. Eh tau-tau kunci motorku diizull. Kan kampret bangettttt. Pas kunci motorku udah ketemu, teng teng teng teng kuncimotor izzul yang gantian ilang-  huuuh karma kali ya garagara ngumpetin kunci motorkuu-_-

Sebagai sahabat yang baik *eaaa* kan kita sibuk nyari tuh kesana kemari, sampai ke pot pot pohon gitu. Dan douyouknow.....ternyata kuncine di tas. Kan bangkeeeeee-____--

Nah abis makan, kita tuh naik becak goes bareng ber-enam. Seneng bangett lah pastinya bisa naik becak goes bareng merekaaa. Mereka? Iya mereka yang selalu ada, mereka yang selalu ngertiin dan mereka yang udah aku anggep keluarga keduakuuu

Kita muter-muter tuh keliling kota tegal wkwkwk  belum lama tragedi kunci sempet ngilang itu terjadi, nah muncul tuh masalah baru. Rantai yang hesty genjot copot dan yang lebih parah ‘hp zakiyyah ilang’  hh frustasi mennnnn_-
Nah akhirnya uh mau ngga mau kita puter balik kan, dan lewat jalan yang waktu kita berangkat tadi.
Pas lagi pada sibuk tengak tengok nyari hp zakiyyah, kan izzul yang nyetir tuh, eh langsung dilepasin gitu aja tuh setir dan izule langsung lari. Ya jelaslah kita hilang keseimbangan dan nabrak bagian samping SMANSA-_-dan usut punya usut tuh si izzul gitu karna dia nemuin hp zakiyyah dan nyelametin hp biar ngga diketabrak. Wihhhh prokprok izzul si pahlawan kesiangan.
Nyelametin sih nyelametin, tapi nggausah nabrakin kita juga kelesss-_-

Belum cukup sampai disitu masalah kita malam ini, pas mau balik ke alun-alun nya kan lewat alaun alun bagian jual ikanikan gitu.. nah ilham yang sekarang jadi pemegang stir sekaligus petunjuk arah itu salah pilih jalan, yang seharusnya kita lewat lurus, ilham itu belok:; lewat jalan yang sempit gitu lah.. sebenernya sh engga sempit, tapi ya karna dibagian kanan-kirinya juga dijadikan lahan parkir liar jadi sempit banget. Udah jalannya sempit, ditambah lagi banyak banget motor yang lewat sini. Ya otomatislah kemacetan terjadi. Kemacetan ini garagara ilham yang salah pilih jalan sih. Eh lebih tepatnya garagara kita. Nggabaik dong ya kita nyalahin satu orang dalam masalah? Sahabat harus bareng-bareng nanggung kan?

Dan disinilah kerundagan yang over benerbener terjadi. Bayangin aja kita berada paling depan dan dibelakang kita macet. Motor dari arah lawan pun nggada yang mau ngalah satu pun. Bisa bayangin kan gimana jadi kita, gimana rundagnya kita, disalahin sana sini, diklaksoninin tiap detik, dibilangin ini itu dansebagainya. Ah gilaa pengin nangis banget deh waktu ituu. Hampir iap orang  yang lewat deh nyalah-nyalahin kita. Tapi.. emang salah kita sih, tapi kan ngga sepenuhnya salah kita.. lagian itu kan jalan umum, nggada larangan buat kita lewat sini,. Suruh sapa njadiin jalan jadi lahan parkir. Wajar lah kalo jadi sempit, wajarlah kalo jadi macett-




Andfinally, kita masih terjebak macet masih berada dalam neraka malam minggu-
Tapi Untung banget deh ada ilham izzul zakiyyah yang mau turun ngatasin masalah ini, aku sih diem aja duduk ditengah tengah wkwk bukan apa-apa, bukan nggamau mbantu tapi emang takut + nggabisaaa:D
Nah setelah sekitar 15menit berada di neraka kemacan, kita terbebaassyeyyy!^_^

Pas udah terbebas kita liat waktu, ternyata masih ada waktu 10menit lagi buat ngembaliin tuh becak goes.. nah rencananya kita itu mau lewat pasar pagi gitu. Nah pas udah belok gitu... bretbretbrett rantai yang hesty genjot lepas lagi men- dan mengharuskan kita buat puter balik ditambah  karna waktu memang sudah malem :D

Sekitar jam 9’an kita barumau otw pulang. Gila banget kan malem bangetttt-_- nah makanya aku sama hesty udah bener-bener rundag disitu takut bakal dimarahin-

Seperti biasa beberapa diantar kita bertugas buat nganterin pulang aku sama hesty. Tapi kali ini beda. Kita harus nganterin zakiyah pulang dulu nah habis itu aku. Kenapa ngga hesty? Karna biar orang tua aku percaya kalo aku pergi sama mereka. Sahabat-sahabatku. Bukan sama cwo. Iyasih ini juga ada cowonya. Tapi kan udah akrab juga, udah sering main kerumah, mamah bapa juga udah saling kenal, udah aku anggap keluarga sendiri lagi

Pas udah sampe rumah , aku masuk. Dan kalian tauuuuuuu... bapaku nggada- aku seneng bangetttt!! Akhirnya terbebas dari marahan bapa-_-aku juga bersyukur banget juga karna pas bapaku pulang, ilhamizzul syfa hesty masih di aku and soooo bapaku percaya dong ya kalo aku pergi rame rame. Ngga berdua sama cowo-_-hh dewi furtuna berada pada pihak sayaa;3

Bukan Cuma berada pada pihak saya, dewi fortuna pun berada dipihak hesty.hesty yang biasa dimarahin kalo pulang malem,  malem ini engga! Padahal kita pulang jam sembilan lebih. Allhamdulillah banget kannn....


Oh iya inget banget pas lagi makan trus tibatiba izzul dengan frontalnya ngentut-_-ilfil banget kan ya- bukan Cuma itu ada juga  pengamen yang kaya charly, HAHA ada pelayan yang plongor juga-_- inget pas izul salah ambil minuman di mbak pelayan, inget juga sama cerita ilham tentang mba aida boongan wkwkwk ngakak;33 ah seneng banget lah pokonya cerita kesana kemari, bercanda ini itu, ngakak bareng, gilagilaan bareng.seruuuu bangettt!!!!! Seeneng banget lah ya pokoknya bisa bareng bareng lagi setelah sekian lama pada sibuk belajar buat ngadepin LUN sama US-

Pas lagi perginya senengnya bukan main, yaa meskipun ada beberapa masalah sih. Tapi tetep seneng lah. Nah pas sampai dirumah?nyesekkkkk!! bukan apa-apa , Cuma mikir aja kita bentar lagi Ujian, kelulusan, perpisahan, kita SMA  dan kita bakal pisah..
Apa mungkin kita bakal bisa kaya gini lagi pas SMA?
Apa mungkin kita masih bisa pergi bareng kaya gini?
Apa mungkin kita masih bisa bercanda-candaan , gilagilaan bareng?
Apa mungkin kita bisa ina-ina’an lagi kelak?
Apa mungkin aku bisa nemuin sosok seperti kalian di SMA nanti?
Apa mungkin aku masih bisa bertemu dengan kalian?
Apa mungkin aku masih bisa mendapatkan kebahagiaan tak ternilai ini di SMA?

Tuhan, tolong jangan pisahkan kami..
Jangan hancurkan persahabatan kamii..
Jangan pisahkan kita satu sama lain..
Jangan biarkan jarak memisahkan kami..
Jangan biarkan kehancuran merusak persahabatan kami..

Tuhan..
Aku sayang mereka..
Jaga mereka Tuhan..
Lindungi mereka dimanapun mereka berada..
Tegur mereka jika salah..
Luruskan mereka jika keliru..
Dan jangan biarkan airmata membahasi pipi mereka..

Aku sayang kalian dan selamanya akan sayang kalian!! Kalian terbaik dan selamanya akan tetap menjadi yang terbaik! Kita enamsemprul dan akan selalu menjadi enamsemprul!!

Kamis, 14 Agustus 2014

Tugas B.Indonesia (Anekdot)

Assalamualaikum Wr.Wb

Teman-teman, disini aku akan menceritakan pengalaman pribadi aku bersama teman sepermainanku saat masih duduk dikelas 5SD.
Sore itu dibulan Ramadhan, seperti biasanya aku dan teman-teman berangkat ke masjid At-Taqwa guna mengikuti kuliah asar.

Nah saat itu, kebetulan sekali Khotib pengisi kuliah asar kali ini berasal dari luar kota yang tidak bisa menggunakan bahasa Tegal. Dan saat itu aku dan teman-teman duduk tepat didepan  sang Khotib.
Saat sedang berceramah panjang lebar, ada sesuatu yang mengganjal dari pandanganku saat aku menatap khotib di depan. Tanpa babibu aku langsung menanyakannya pada teman samping kananku Vivi
"eh kue neng irunge ustade ana apanesih?"
"embuh kue.. upil apa ya?" jawab temanku
"his dudu weh. Tapi Upaaa" sambung temanku yang lain, Lia.
kalian tau upa kan?tau lah tau dong pastinyaaa;3
kami pun ber-oh ria seraya memantuk-mantukan kepala pertanda mengerti.

beberapa saat kemudian, tetap saja 'Upa' itu sangat mengganggu pemandangan kami. Sampai pada akhirnya temanku Lia mengatakan perihal ini kepada ibu-ibu disamping kanannya , bu Supri.
Setelah panjang lebar ceramah telah diucapkan, seperti  ustad2 yang lain beliau memberikan waktu untuk para jamaah bertanya mengenai apapun yang berkaitan dengan isi ceramah yang ia bawakan.
Dan dengan PD nya ibu Supri yang tepat duduk disamping kanan lia mengangkat tangan kanannya.
"monggoh ibu mau tanya apa?" Ucap Sopan si Ustad
"nyuwun sewu paak ustad, nyuwun sewu sanget."
"iya ibu, kenapa? mau tanya apa?"
"mboten pak ustad, itu di hidungnya ada nasi sendiriaan"
dengan perasaan malu sang ustad langsung menyentuh hidungnya dan barulah mengetahui bahwa ada nasi sendirian atau yang biasa kita kenal dengan 'u-p-a'dihidungnya.
dan serentak, seluruh penghuni masjid pada waktu itu tertawa dengan lantangnyaaa.
sungguh betapa polosnya ibu supriii :v

Selasa, 12 Agustus 2014

Tulisan Ulang Dari bukudiary,

Tegal, 4 september2013

Pernah nggasih kamu berfikir bahwa ada sesorang yang mencintaimu dengan tulus disini?
iya, aku masih disini. ditempat ini, dihati ini.
masih bertahan akan perasaan ini. Perasaan yang ngga pernah aku atau kamu inginin.
Perasaan yang selalu terlihat tak kasat mata oleh kamu.
Tetapi tenang saja, aku masih disini kok. masih dengan perasaan yang sama. Masih akan menjaga perasaan ini,
sakit? setidaknya berpura-pura terbiasa jauh lebih baik :)

Tau nggasih> saat aku melihatmu tertawa bahagia bersamanya, saat itu lah aku merasa gagal.
Gagal karena tak bisa membuatmu sebahagia itu saat bersamaku.
Mungkin kamu akan beranggapan bahwa ini hanya hasil copastan, Kamu salah. ini aku tulis tulus dari hati.
Hati yang selama ini aku gunakan untuk menyimpan namamu lekat-lekat.
Hati yang selama ini mungkin telah terbiasa menangis karena terlalu lama menahan sakit. Sakit akan adanya perasaan ini. Perasaan yang selalu dianggap sampah.

Tahukah kamu? bayangmu selalu hadir dalam setiap lamunanku..
hadirmu selalu menghantui alam mimpiku.
Namun, apa pernah aku hadir dalam fikiranmu meski hanya secepat kilat?
apa pernah aku hadir dalam mimpi indahmu walau hanya mungkin akan menjadi pemain figuran yang hanya melihatmu bersamanya?

Dalam diam aku berfikir, untuk apa aku selalu memikirkan orang tak pernah menghargai ?
untuk apa aku begitu mencintai orang jelas begitu mencintai orang lain?
untuk apa aku memperdulikan orang yang jelas tak pernah peduli terhadapku.
untuk apa? aku pun tak tahu.

perasaan ini muncul dengan sendiri dan tanpa diinginkaan.
banyak orang yang menilaiku bodoh karena terus menjaga perasaan yang selalu dianggap sampah.
Namun aku lebih senang dibilang bodoh daripada aku harus tersiksa dengan keadaan yang memaksaku untuk memuang jauh perasaan ini.

Dalam diamku aku berfikir. bukankah aku dahulu yang menyayangimu?
namun, kenapa justru dia yang kamucinta?
yang jelas-jelasbelum tentu menyayangimu setulus aku.

Namun sejenak aku berfikir.Aku paham. Aku mengerti jika ini soal perasaan.
Bukan masalah seberapa lama. Namun seberapa jeli ia memilih seseorang untuk pantas dicintai.
aku percaya suatu hari akan tiba saatnya aku dan kamu menjadi kita. Entah kapanpun waktunya itu pasti,  aku percaya!

Hasri Imroatul Izza.