Rabu, 12 Juli 2017

you've changed.


4tahun sudah saya mengenal kamu.

Namun, baru kali ini saya mencintai kamu se-gi-la ini.

Kamu sudah banyak berubah. Rambutmu tak lagi berhiaskan poni yang kala itu selalu menjadi penghalang saya untuk menatapparas tegar  kamu.

Kamu sudah banyak berubah. Kamu kini telah menjadi sosok pria yang kian dihargai keberadaanya; tak lagi dianggap biasa.

Kamu sudah banyak berubah. Menjadi sosok yang selalu dinanti-nantikan kedatangannya oleh siapapun.

Kamu sudah banyak berubah. Tawa senantiasa terlukis pada bibirmu; bukan lagi tangis yang kala itu kamu jadikan hobi saat kehilangan gadis bodoh 4 tahun lalu.

Kamu sudah banyak berubah. Menjadi sosok yang tawanya selalu dirindukan oleh siapapun.

Kamu sudah banyak berubah. Tak lagi penuh cinta (dengan saya).  Saya bersyukur kamu tidak lagi menggantungkan seluruh cinta pada saya. Saya bangga atas cara kamu yang telah menjadikan sakitmu untuk bangkit. Namun, saya masih ingat jelas bagaimana kamu memperlakukan saya dengan sebaik yang kamu bisa. Saya masih ingat jelas bagaimana kamu menggantungkan seluruh cinta yang kamu miliki pada saya. Saya masih ingat ketika kamu selalu rela menepikan motor hanya untuk membalas cepat pesan dari saya yang kala itu kamu anggap bidadari.

Saya masih ingat bagaimana kamu begitu berjuang untuk saya. Dan saya pun masih ingat betapa berengseknya saya selalu tidak menghargai kamu. Bahkan saya rasa, kata berengsek pun tak sanggup menggambarkan betapa busuknya saya kala itu. Jika suatu hari ada yang bertanya siapa orang paling tidak punya malu di dunia, tolong jawab saya.

Ya. Saya adalah orang paling tidak tahu malu didunia. Saya sudah mencampakan kamu. Namun kamu selalu menjadi baik pada saya. Saya yang selalu buat kamu tak lagi tegar selalu kamu buat senyum setiap harinya. Saya yang dahulu tak lagi menggunakan hati namun kamu selalu memastikan saya selalu aman. Betapa saya baru menyadari betapa tanggung jawabnya kamu dalam hal apapun dan pada siapapun. Kamu selalu berlaku baik. Selalu menebar hal positif. Selalu menjadi bumbu penyedap dalam persahabatan kita. Ya. Bahkan semenjak saya dan kamu memilih berpisah, saya dan kamu memilih bersahabat. Dalam hati saya berkata; betapa dewasanya kita kala itu.

Bahkan dalam persahabatan, kamu membuang jauh rasa kecewa kamu terhadap saya.  Seakan saya dan kamu tak pernah terikat oleh cinta dan terpisah oleh kejahanaman. Ah sebenarnya bukan membuang; menyembunyikan mungkin lebih tepatnya. Ku akui, caramu membuat kita biasa saja patut saya acungi 100 jempol. Karena kepiawaian kamu itu, saya dan kamu bisa sedekat nadi. Kamu mampu menjadi siapapun dalam hidup saya. Bahkan, hingga saya kamu buat bergantung kepada kamu. Ya. Kali ini, saya yang dibuat cinta. Kali ini, saya terlena. Kali ini, saya menyerah pada hati. Hati saya telah kembali jatuh; namun bukan lagi pada orang baru. Namun pada sosok lelaki yang pernah saya jadikan kekasih beberapa tahun lalu. Bahkan, saya dan kamu kini telah lebih dari seorang sahabat. Kita..sepasang kekasih.

Entah, bibir saya amatlah kelu mengucap nya. Sepasang kekasih? Ke-ka-sih? Saya dan kamu kini kembali mengukir cinta? Bagaimana mungkin kamu kembali mencinta saya? Sudah kubilang, saya memang perempuan paling tidak tau malu didunia, berani-beraninya kembali mencinta sosok penuh tanggung jawab seperti kamu. Dan kamu, karena kamu telah memilih saya lagi, gelarmu bukan lagi sang pecinta kopi. Namun pecinta saya. He he he.

Saya pernah bercerita tentang karma dan saya percaya itu. saya percaya akan selalu ada balasan atas hal apapun. Saya percaya jika kesakitan dalam hati pun akan terbalaskan hal serupa. Maka dari itu, saya siap menjadi baja. Siap membawa tameng, dan saya siap jatuh tersungkur. Mengingat seakarang yang begitu mencintai dan yang berlebihan memang selalu menyesakkan dada. Saya berharap, kamu bisa jauh lebih baik dari saya. Kamu tida seberengsek seperti saya kala itu. kamu telah sukses membuat saya kembali mencinta dan kamu tak akan ada bedanya dengan saya jika kamu balas dendam hal serupa yang saya lakukan dulu. Saya tahu kamu tidak sebodoh saya. Terimakasih, jutaan kasih saya beri untuk kamu yang telah lama pergi dan baru menampakan diri.

Kamis, 06 Juli 2017

Welcome (back), love.



Ada kabar gembira yang akan aku tujukan pada hati. Selamat, kini kau telah terbebas dari siksaan bodoh buatanku sendiri. Selamat, tubuhmu tak lagi penuh akan goresan-goresan rindu yang kian memuakan . Selamat, luka lebammu tak lagi kian menganga. Selamat, jutaan cinta aku berikan pada hati yang senantiasa menahan luka. Tak apa, karena  kini kau  telah terbebas akan itu, hai hati.
 
Tulisan kali ini aku tulis dengan penuh cinta. Bukan lagi dengan derai tangis seperti tulisan-tulisan sebelum ini. 

Tulisan kali ini aku tulis dengan senyum. Bukan lagi dengan sendu  yang kian hari kian menyesakkan.

Tulisan kali ini aku tulis dengan mata berbinar. Bukan lagi dengan mata yang kala itu membendung airmata.

Aku ingin bertanya, pernahkah kalian merasakan jatuh hati dengan sosok lalu? Ah tidak, kali ini aku tidak sedang dan tidak akan lagi membahas tentang saku yang selama ini namanya memenuhi blog-ku. Aku ingin menceritakan sosok baruku; ah tidak juga. Sebetulnya, dia sosok lama. Terlalu lama membenamkan diri dalam rulung hati hingga baru sekarang aku temukan (lagi). Sosok lama yang sudah terbenam sejak tahun 2013 lalu. 

Sebetulnya, aku masih tak percaya akan ini. Aku begitu dibuat kagum oleh dirinya. Sebenarnya lucu; bagaimana mungkin aku baru dibuat kagum jika selama ini dia-lah yang selalu mendukungku setiap waktu? Bagaimana mungkin aku baru dibuat cinta jika selama ini dialah orang no.1 paling bangga atas apapun pencapaianku? Bagaimana mungkin aku baru dibuat jatuh hati jika selama ini dialah yang selalu mengajariku arti kehidupan? Ah bukan, dia bukanlah seorang kekasih. Bukan pula sosok yang biasa kalian sebut ‘gebetan’. Namun, kita lebih dari seorang teman. Ya, kita bersahabat. (setidaknya, kala itu) 

Sekarang baru aku mengerti. Betapa status ‘sahabat’ dapat membuat segala rasa menjadi biasa. Membuat segala hal yang sebenarnya melampaui batas seakan masih dalam batas wajar. Iya, betapa aku tak pernah menyadari bahwa perhatian yang selama ini aku beri adalah bentuk dari mencinta. Betapa aku tak menyadari jika semua dukungan dan motivasi yang aku beri adalah bentuk dari kasih sayang. Betapa aku tak pernah menyadari jika tatapan kagumku selama ini adalah sebuah tatapan penuh arti dalam mencinta. Betapa aku tak pernah menyadari bahwa lelucon bahasan masalalu yang kala itu tak henti membuat ku tersenyum adalah sebuah pengharapan untuk kembali dalam masa itu. 

Ah, tak kusangka mencintai sahabat sendiri lebih rumit dari biasanya.
Namun kau tau, ini lebih asik dari biasanya. Ini lebih mendalam dari biasanya. Dan yang pasti, ini akan berjalan lebih tulus dari biasanya.

Jadi, siapapun kamu, aku ingin kau-pun mencobanya. Aku ingin kau merasakan betapa menyenangkanya mencinta sahabat sendiri, sama seperti aku. Ah tidak. Jangan. resikonya besar he he . terlebih, kau harus siap mencinta sendirian. Kali ini, aku hanya berharap; bukan hanya aku yang mencinta.

lots of love,
your bestfriend
your ex too.

Sabtu, 12 Maret 2016

Keluargaku, Harapanku.(Karya Hasri imroatul Izza)



Namaku Alyssa Putriana Haling, atau orang-orang biasa memanggilku Alyssa. Aku terlahir dari keluarga  Haling. Siapa yang tak kenal dengan keluarga Haling? Keluarga pemilik  puluhan perusahaan ternama yang tersebar diseluruh dunia. Ya, aku terlahir dari keluarga kaya raya yang sangat berkecukupan, bahkan harta keluargaku tidak akan habis sampai 7keturunan. Hidupku sangatlah sempurna secara materi. Aku anak kedua dan memiliki keluarga yang lengkap yang serba berkecukupan, bahkan aku tergolong gadis andalan disekolahku karena aku saat ini mampu menguasai 3 bahasa, yakni Indonesia, Perancis dan Inggris. Hal ini membuat teman-temanku iri mengenai hidupku. Namun mereka tak pernah tau, bagaimana hidupku ketika dirumah. Keluargaku memanglah lengkap, tapi mereka sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Bahkan aku sudah terbiasa hidup seperti ini, seperti tak memiliki orangtua.
Aku merupakan gadis aktif dan pandai bergaul. Namun sampai saat ini aku tak memiliki seorang teman dekat. Bukan karna apa-apa, aku hanya telah tebiasa sendiri, bahkan bangku dikelaspun aku rasa sendiri lebih baik. Namun itu tak menghalangi niatku untuk hanya berteman ria dengan teman sekelasku kala aku bosan, atau saat mereka membutuhkanku.

Hingga suatu pagi, kala langit telah menangis semenjak pagi buta, suara nyaring sepatu terdengar jelas ditengah derunya rintik hujan yang mengenai atap sekolahku. Terlihat sosok wali kelasku yang muncul dari balik pintu menggandeng seseorang ditangan kanannya. Sosok perempuan cantik berpakaian seragam sama sepertiku masuk dengan seutas senyum dari bibirnya, mencoba menyapa teman kelas barunya. Yap. Tebakanku tak meleset, kelasku mendapat murid baru, pindahan dari luar kota. Ia pun mulai memperkenalkan dirinya, dan kini aku mengetahui gadis baru itu bernama shinta. Dan benar saja. Bu guru sudah pasti meminta Shinta ini duduk bersamaku, karna hanya bangku sampingku lah yang tersisa. Meski sebenarnya aku lebih suka sendiri, namun aku tak keberatan jika harus berbagi tempat duduk dengannya. Apalagi, Shinta terlihat merupakan anak yang baik dan pendiam.

Tak seperti jam istirahat biasa yang selalu aku habiskan dengan berbagai macam buku, kali ini aku memilih bangkit dari bangku-ku dan segera saja kuajak teman baruku itu mengelilingi sekolah, sekedar mengenalkan sekolah kita ini kepadanya. Banyak hal yang kita perbincangkan. Hingga baru ku ketahui rumahnya yg tak jauh dari rumahku. Wah kebetulan yang sangat menyenangkan, pikirku. Setidaknya aku akan memiliki teman dekat, walau sebenarnya aku tak butuh itu.

Bel pulang berbunyi. Aku benci ini. aku benci ketika aku harus kembali memasuki istana bak neraka itu. Rumahku memanglah besar, namun kasih sayang didalamnya sangatlah sempit, bahkan hampir tak kurasa akan adanya kasih sayang dalam istana ini. Sekali lagi, aku benci rumah, dan aku benci keluargaku. Itu karena mereka hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri, tak pernah peduli tentangku juga tentang kakak perempuanku, atau bahkan tentang satu sama lain. Jangankan peduli, sekedar bertanya kabar kami pun hanya mereka lakukan satu bulan sekali, itupun jika mereka mengingat bahwa ada buah hati yang merindukannya dinegeri asalnya sana.  Hidupku dirumah berantakan, sangat berbeda dengan hidupku kalamana aku disekolah. Disekolah, aku termasuk populer bahkan menjadi gadis impian gadis lainnya. Aku pun tak mengerti bagaimana bisa aku memiliki dua sisi hidup yang berkebalikan seperti ini, kehidupan yang menurutku sangat lucu karena untuk pertama kalinya aku merasakan cinta kasih seorang guru bahkan lebih besar dibanding orangtuaku sendiri. Teman-teman hanya melihatku secara materi, tak pernah tau bagaimana hidupku yang sebenarnya. Hidup yang bahkan tak merasakan bagaimana rasanya dikasihi atau sekedar mencicipi masakan mamah setiap harinya seperti mereka. Ya, sesederhana itu.  Jika boleh memilih, aku tentu akan memilih hidup seperti mereka, sederhana namun kaya akan cinta kasih.

Hingga suatu malam, kala jam telah menunjukan pukul 11 malam, kakak perempuanku tak kunjung pulang sedari keluar kuliah siang hari tadi. Aku menunggunya, tentu ditemani mbok Parti dan pak Bagyo yang telah mengadu nasib di keluarga kami 5tahun belakangan ini. Tak lama,  kulihat dari kejauhan mobil putih telah masuk pada gerbang rumahku. Itu jelas kakaku. Aku kaget kala mengetahui kakakku kini setengah tak sadarkan diri. Ia meracau tak jelas dan mengamuk tak karuan. Aku tenangkan ia sebisaku hingga tiba-tiba ia menangis dan memeluku erat. Aku tau, ia pasti tengah menanggung beban yang berat. Hingga pada akhirnya ia membuka mulut dan mengatakan ia telah hamil. Aku kaget setengah mati. Aku bingung. Aku hanya seorang gadis kelas 1 SMA. Apa yang bisa dilakukan gadis sepertiku? Aku hanya mampu menutup mulut rapat-rapat, sesuai dengan permintaan kakaku yang memintaku untuk diam.

Semenjak itu, kakaku jadi tak karuan. Hidupnya hancur berantakan. Aku yang tak kuat melihatnya terus-terusan menderita membuatku malas untuk menghabiskan waktu dirumah. Ya, tiba-tiba saja aku mengingat Shinta, teman baruku yang kuketahui rumahnya tak jauh dari rumahku. Segera saja aku kesana. Sesampainya disana, aku tak menceritakan apapun kepadanya karna bagiku itu tak penting.  Ia yang menyadari akan tidak baiknya kondisiku saat ini segera untuk menyodorkan minuman ungu kepadaku.
“ini diminum dulu” katanya menyodorkan minuman berwarna ungu tersebut

“apa ini?” tanyaku yang merasa aneh akan bau yang menyengat pada air ini

“hanya sirup anggur, cobalah mungkin ini bisa menenangkan fikiranmu”

Segera kutengguk saja minuman itu, dan waw.. ini merupakan minuman teraneh yang pernah kurasakan. Namun tak apa, setelah kunikmati aku menyukainya. Aku seperti bebas tanpa beban, dan ya.. aku ketagihan. Semenjak itu, aku semakin sering pergi kerumah Shinta yang memang baru kuketahui hidup sebatangkara selama ini, dan yaa.. aku sama sekali tak menyangka jika sosok secantik Shinta pun ternyata memiliki hidup yang lebih kacau dariku. Kamipun hampir setiap hari bersenang-senang seperti ini, bahkan kali ini lebih dari itu, ia menyuntikan sesuatu ditubuhku yang membuatku melayang begitu bebasnya. Ah persetan dengan hidup ini,  persetan dengan sekolahku, persetan dengan 3 bahasa yang telah ku kuasai, persetan dengan hidup mewah ini, dan persetan dengan keluargaku. Kita menikmatinya, bahkan sangat menikmatinya. Hingga kita tak menyadari jika polisi telah memergoki kita dan membawa kami ketempat terkutuk.

Dan disinilah kita, dibalik jeruji besi yang seharusnya tidak kami tinggali. Dan tiba-tiba  kulihat seseorang dari kejauhan, yaa itu kedua orangtuaku ditemani kakak perempuanku yang kulihat perutnya kini semakin besar. Mereka menangis sejadi-jadinya melihat anak-anaknya kini berantakan.
Kupandang mereka dalam-dalam... hingga akhirnya serangkaian kalimat meluncur tiba-tiba dari mulutku.

“Lihatlah mah, pah.. lihat kakak, ia bahkan telah mengandung anak yang entah darah daging siapa dirahimnya, dan lihat aku.. aku bahkan saat ini berada pada neraka yang sesungguhnya. Lihatlah mah, pah hidup kami telah berantakan, prestasi kamu bahkan tak ada lagi artinya,  kami tak lagi memiliki masa depan. Mengapa sekarang kalian kembali? Apakah impian kalian telah terpenuhi?  Apakah harta yang selama ini kalian kejar telah kalian miliki? Terimakasih mah, pah.. karena keegoisan kalian, kalian berhasil membuat kami berdua hancur”

Kami berempat saling memeluk satu sama lain. Jika boleh jujur, aku sangat merindukan momen-momen seperti ini. Momen yang membuatku merasakan hangatnya cinta kasih dari keluarga. Orangtua ku menangis tersedu, merasa tak becus mengurus kami, bahkan mereka meminta maaf kepada kami dan berjanji akan mengubah sikap mereka selama ini. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur, dan saat ini kurasa semuanya telah terlambat.

Selasa, 22 September 2015

Cerpen 5Cm (dikutip dari film)



5CM
Karya Hasri Imroatul Izza



Langit malam tengah tersenyum. Bintang bulan pun ikut serta menyambut dengan senang hati. Aku tak luput menghentikan senyum di saat seperti ini, saat bersama membunuh waktu dengan orang-orang tersayang. Orang-orang itu sahabat. Aku sepertiberada dalam lingkaran bunga-bunga warna bermekaran. Terasa sangat nyaman. Mereka selalu ada, bahkan sampai 10tahun ini. Genta, Arial, Zafran dan Ian, merekalah pahlawanku. Aku Riani, sosok tercantik diantara mereka. kita berbeda, namun perbedaan itulah kita bisa bersama hingga 10tahun ini. Malam ini seperti biasa kita berkumpul dipelantaran rumah Arial yang memang sudah dijadikan basecame untuk kita. Selalu aja ada topik pembicaraan dalam kebersamaan kita. Jika pada akhirnya tak ada topik pembacarraan ketahuilah tertawa tanpa sebabpun sangatlah menyenangkan.

Perut selalu terisi, senyum pun selalu terukir dari mulut kita malam hari ini sebelum Genta akhirnya mengeluarkan suara.
“aku ngerasa kita gini-gini aja”
“aku masih inget pas ian bilang kalau dia gak punya temen lagi selain  kita berlima. Bener gak si?”
“mungkin ada baiknya kita nggak usah ketemuan dulu”

Aku menengadahkan kepalaku. Menatap genta dengan tatapan ‘nggak mau’. Yah aku jadi orang yang paling tidak menginginkan keputusan Genta. Hingga tak terasa butiran air turun tanpa perintah pada pipiku. Mereka menenangkanku layaknya princes, meskipun pada akhirnya kitapun sepakat untuk tidak bertemu untuk sekita 3bulanan.
“kita ketemu lagi tanggal 14 Agustus. Pokoknya nanti aku bikin reminder untuk tanggal 14Agustus dihandphone, tanggal 7 agustus aku kasih tau planningnya lewat sms dimana kita kita bakal ketemuan. Aku yakin rencana kali ini nggak akan kita lupain”
Kalimat itu keluar sebagai penutup kebersamaan terakhir malam ini sebelum kita memutuskan untuk tidak bertemu dan tidak berkomunikasi. Aku masih belum yakin apakah aku bisa melewati tantangan dari genta. Tapi aku yakin Genta telah menyiapkan rencana besar dipertemuan kita nanti.

Hari pun berlalu, hujan telah turun menemani dinginnya malam. Seakan mengerti akan perasaanku malam ini. Ku tengok bingkai yang senantiasa berdiri disudut meja kerjaku. Terpampang jelas foto kita berlima dengan senyum bahagia. Rindu kian memuncak membuatku ingin menghabiskan hari dengan cepat.

Kupandangi laptop 7 Agustus jam 09.00 pagi, Genta mengirim SMS kepada 4 temannya. Selamat pagi semuanya gw kangeeeen bgt sm kalian semua, sumpah! Tgl 14 agt nanti qta ktm di stasiun kereta api senen jam 2 siang. Trus kl ada acara dr 14 – 20 Agustus lo batilin dulu yaa. Please... ini yg hrs dibw kl gak ada minjem ya. Kan ada wkt seminggu: Carrier. Bajuanget yg bnyk.senter dan batere. Makanan dan snack buat 4 hari.... kacamata item.betadine,obat.sendal sepatu.kl bs mulai hari ini olahraga kecil kecilan, apalagi buat Ian.gitu aja ya.sampai ktm distasiun senen jam 2. Genta yg lg kangen.

14 Agustus. Satu lebih tiga puluh lima menit. Siang itu daerah Senen panas sekali. Di stasiun Senen, Genta dengan bawaannya yang superbanyak, menikmati makan siang di salah satu restoran Padang di situ. Tiba-tiba sosok Zafran terlihat oleh Genta dengan carriernya yang gede, baju oranye menyala, celana pendek, dan kacamata eighties ala Erik Estrada di film CHIPs-membuat Zafran terlihat nyentrik. Sosok Ian dan Riani penuh senyum berlari kecil memasuki Restoran Padang. Arial datang dengan membawa adiknya, Dinda.

Pukul setengah tiga lebih, mereka berenam plus barang bawaan yang mirip rombongan pecinta alam pun menuju ke kereta yang siap berangkat. Kereta ekonomi MATARMAJA yang entah sudah berapa tahun melayani trayek Malang-Jakarta pulang pergi ini tampak begitu tua dan kumuh, dengan kaca-kaca yang sudah pecah. Setelah membereskan barang bawaan, mereka duduk berenam, berhadap-hadapan. Riani dan Dinda duduk berhadapan di pojok dekat jendela. Genta di sebelah Riani berhadapan dengan Arial, dan Zafran di sebalh Arial berhadapan dengan Ian. Lima menit kemudian kereta pun mulai bergerak meninggalkan Stasiun Senen. Kereta bergerak perlahan dengan sesekali mengeluarkan angin dari sambungan gerbongnya.

Ian lalu lancar bercerita tentang jumpalitannya selama dua bulan. Ia yang pantang menyerah, dua kali penolakan kuisionernya, menakjubkannnya Sukonto Legowo, Mas Fajar, keriputnya tangan Papa-Mama, sidangnya, pokonya semua Ian ceritakan. Arial mulai bercerita tentang Indy, wanita yang telah merebut hatinya, Indy yang tampangnya biasa aja tapi enak dilihat dan nggak bikin bosen. Indy yang selalu mengisi hari-hari Arial selama ini.

Setengah malam telah lewat. Kereta tua yang tak kenal lelah itu mulai menyapa kota-kota di Jawa Tengah, melaju cepat di atas tanah Jawa di malam hari. Jalan desa dan jalan kota-kota tua yang damai dan sepi. Setengan tiga malam di Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta. Genta, Riani, Zafran, dan Dinda turun dari kereta, menginjakkan kaki di ubin putih yang mulai kekuningan di stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Mereka berjalan ke toilet stasiun yang ada di antara para pedagan yang masih mencari rezeki di malam yang terasa lain di hati mereka berempat.

Mereka berempat segera berjalan masuk ke kereta. Perlahan tapi pasti, kereta mulai berjalan meninggalkan Stasiun Lempuyangan. Kereta mulai melaju cepat melewati hutan jati antara Madiun dan Nganjuk. Keenam anak manusia ini pun sudah dari kantuknya, mulai bercanda lagi di kereta. Pagi di luar sangat cerah seakan berdatangan menyambut rombongan yang jauh dari rumah ini.

Pukul setengah tiga lebih mereka tiba di Stasiun Malang. Matahari sore yang sudah enggan mengeluarkan panasnya datang menyambut. Sebelum meninggalkan kereta, sekali lagi mereka pandangi kereta yang terdiam lelah setelah berlari seharian penuh; kereta yang dalam diamnya telah banyak bercerita tentang beragam manusia. Di stasiun Malang, rombongan pecinta alam itu menarik perhatian banyak orang. Rasa  pegal-pegal belum hilang benar dari badan mereka sehingga mereka putuskan untuk duduk sebentar di bangku stasiun yang panjang-meluruskan kaki dan menghilangkan penat.

Matahari sore masih tersisa sedikit, menembus pepohonan di jalan desa kecil. Sore itu di Tumpang banyak sekali kesibukan jip-jip menunggu pendaku yang mulai berdatangan dengan berbagai macam tas carrier besar. Penampilan mereka mirip semua karena memang mempunyai tujuan yang sama: MAHAMERU.

Mereka mulai melangkah, menyusuri jalan berbatu desa yang akhirnya berbelok ke jalan setapak kecil menuju ke punggung Mahameru. Perjalanan berlanjut menembus-mendaki pinggir hutan punggung Mahameru.Dari ketinggian pinggiran lereng hutan Mahameru, Ranu Kumbolo perlahan muncul seperti tetesan air raksasa yang jatuh dari langit dan membesar di depan mereka.

Pukul 02.00 malam, dingin di atas tiga ribu meter. Rombongan itu berdiri di depan tenda. Keenam anak manusia itu tertegun melihat Mahameru dalam gelap malam. Rombongan mulai bergerak, berjalan melewati hutan cemara yang gelap. Puncak Mahameru seperti sebuah gundukan pasir mahabesar dengan tebaran batu karang gunung di mana-mana. Jalur pendakian terlihat terang dipenuhi sinar bulan dan cahaya senter para pendaki mulai mendaki Mahameru.

Matahari pagi tujuh belas Agustus pun terbit, sinar matahari yang hangat menyapa badan dingin mereka. Keenam anak manusia itu seperti melayang saat menjejakkan kaki di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Waktu seperti terhenti, dataran luas berpasir itu seperti sebuah papan besar menjulang indah di ketinggian menggapai langit, di sekeliling mereka tampak langit biru­-sebiru-birunya-dengan sinar matahari yang begitu dekat. Awan putih berkumpul melingkar di bawah mereka di mana-mana, asap putih tebal yang membubung di depan mereka sekarang terlihat jelas sekali kepulannya. Para pendaki tampak berbaris teratur di puncak Mahameru. Di depan barisan tertancap tiang bendera bambu yang berdiri tinggi sendiri dengan latar belakang kepulan asap Mahameru dan langit biru.

”…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung  mengambang di depan kamu. Dan…sehabis itu
yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalar  lebih  jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat  lebih
banyak dari biasanya, mata yang akan menatap  lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering
melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras
dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa…percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu” 
kata Zafran dengan penuh yakin.


Sepuluh tahun kemudian, Minggu pagi di secret garden. Keluarga besar itu berkumpul di bungalow secret garden. Riani dan Dinda memejamkan matanya. Sekarang mereka menjadi seorang ibu. Bungalow secret garden hari itu penuh dengan doa, mimpi, dan keyakinan tulus di hati anak manusia. Semuanya saling pandang dan tersenyum hangat satu sama lain.