Selasa, 14 Januari 2014

Don't Be Let Go! -1-


Don't Be Let Go!

Part1

Author: Hasri Imroatul Izza




Aku terdiam dibalik jendela kelas. Memandangi tetesan air yang jatuh dari langit, tanpa memperhatikan sepatah kata pun yang diterangkan bu guru didepan.  Yaap! Hari ini sedang hujan. Daann..aku suka air hujan. Rasanya terasa sangat nyaman jika memandangi rintikan air yang jatuh silih berganti.
Ah sebenarnya bukan itu alasanku menyukai air hujan. Akan tetapi~ kejadian itu yang membuatku menyukai hujan. iya kejadian itu.kejadian dimana saat itu awal aku mengenalnya dan......jatuh cinta kepadanya. Aku tersenyum mengingat kejadian itu. Kejadian yang menurutku lucu tetapi juga..mengesankan.
Namun sayang senyumku lenyap begitu saja setelah sahabatku Diana memberitahuku bahwa si guru daritadi memperhatikaanku . okeyy~ kita lupakan sejenak kejadian itu.

****
Aku Dinda Anatasya atau biasa disapa dinda. Sekarang duduk di bangku kelas2 SMA diSMA favorit didaerah Bandung. Sedang Diana adalah sosok perempuan yang telah menjadi sahabatku sejak dua tahun lalu. Aku baru mengenal diana ini saat menginjakan kaki di SMA ini. Namun, tak jarang orang mengira bahwa kita telah bersahabat sejak lama atau bahkan ada juga yang mengira bahwa kita berdua anak kembar. Haha sempet ngakak juga sih , tapi yaa aku maklumin saja. Mungkin karena kita berdua memang udah kayak perangko sama surat yang bawaanya nempel mulu, ditambah juga penampilan kita yang samasama berhijab.
Aku salut banget sama Diana, ia tak pernah sekalipun bosan mendengar celotehanku yang  selalu aku ulang. Ia tak pernah lelah memberi semangat, memberi saran dan memberi motivasi u untukku . yaa..itulah yang namanya sahabat. Dapat menerima celotehan kita baik suka maupun duka <3

“Hey, lagi ngeliatin apaan sih?” cerocos diana yang kemudian langsung duduk sebelahku
“ngeliatin hujan” jawabku tanpa memalingkan mata dari arah jendela yang langsung terhadap lapangan basket.
“ngeliatin hujan atau orang yang berada ditengah derasan hujan?:p “ tebak diana
Aku terdiam. .
“sampai kapan kamu kayak gini terus din?”

“kayak gini? Kayak gini gimana na? Akau baik-baik aja kok J”jawabku seraya memamerkan senyum manisku
“aku tau kamu din, aku tau apa yang kamu rasain sebenarnya. Mau sampai kapan kamu mbohongin diri kamu sendiri? Mau sampai kapan kamu terus-terusan nahan sakit kaya gini? Mau sampai kapan din?”
Aku terdiam kembali. . . jujur, baru pertama kali aku mendengar Diana berkata seperti itu. Aku mencerna perkataan diana yang memang benar adanya.
“aku nggatau. .” hanya kata itu yang dapat terucap dari mulutku
“maaf din kalo ucapanku tadi menyinggungmu. Itu karna aku udah tak tega melihatmu terus-terusan kayak gini”
“nggada yang perlu dimaafin na, kamu ngga salah. Ucapan kamu benar. Aku memang bodoh.tapi jujur, aku lebih memilih kayak gini daripada harus ngelupain dia na.. itu terlalu sulit”
“tapi dia ngga pernah peduli sama kamu din, buka matamu .. masih banyak orang yang menunggumu diluar sana”
“tapi aku tak mencintai mereka”
“cobalah buka sedikit hati kamu untuk mereka”
“aku tetap ngga bisa na.. itu terlalu sulit”
“terus, apa yang akan kamu lakukan? Masih akan terus menunggu dia yang tak peduli terhadapmuu?”
“heem” aku menganggukan kepalaku.
“baiklah kalau itu keputusanmuu,aku tak akan memaksamu lagi. aku selalu berdoa demi kebahagiaanmu dinJ
“terimakasih naa J
Aku memeluk erat sahabatku ini. Jujur, ingin sekali aku menuruti perkataan Diana agar melupakan ‘pria’ itu. Namun apa daya, aku tak bisa melakukannya~ semakin aku mencoba melupakan, semakin besar pula sayangku terhadapnya.


****
Hari silih berganti, tak mengubah sedikitpun rasa sayangku terhadap nya.
Aku begitu mencintainya. Pria yang telah 2tahun aku kenal~  aku mencintainya dalam diam, memperhatikannya walau selalu diabaikan dan..memberikan seutas senyum walau sering tak dianggap. Namun aku tak menyerah, aku tetap akan mempertahankan ini semua. . karna aku tau, semua akan indah pada waktunya 

Bel Istirahaat berbunyi~ semua anak berlomba lomba menuju kantin. Namun lain denganku. Aku lebih suka menghabiskan waktu istirahatku disini, dikelas ini. Bukan karna aku tak punya uang buat jajan, tapi karna  memang aku merasa nyaman dibalik jendela ini. Tempat Dimana Aku bisa dengan bebas memandangi langitt biru yang membentang luas , disertai keberadaan awan serta matahari yang memperindahnya, dan...dimana aku juga bisa dengan bebas memandanginsosok yang berada ditengah lapangan sana. Seorang pria yang sedang memainkan bola basket dengan piawai ini mampu menarik perhatianku bak magnet yang menarik pakupaku. Aku memandangi lekuk wajahnya. Memandangi senyumnya, menandangi tingkah lakunya memandangi betapa sempurnanya dia dimataku. 

“jadi pengagum rahasia mulu, ngga cape?”
Ucap seseorang yang tibatiba berada disampingku.
“engga” jawabku santai

“mau sampai kapannunggu Rafi?”
Aku terdiam untuk beberapa saat. . Rafi?  Dialah pria itu. Pria yang telah mencuri hati aku sejak dua tahun lalu, pria yang selalu tak pernah peduli kepadaku

“sampai aku mati mungkin” jawabku kepada seseorang itu yang tak lain diana.sahabtku

“salut banget sama kamu din, rela nahan sakit, rela mbuang mbuang masa remaja kamu demi menunggu orang yangg ngga penting, orang yang ngga peduli dan orang yang menganggap ada keberadaanmu. Sedangkan disana, banyak sekali pria yang mencintai kamu”

“ah kamu ngomong apa sih na? Akunya aja fine fine aja kok. Lagian Diluar sana juga banyak kok yang ngerasain kaya aku.” Jawabku dengan pandangan yang masih mengarah pada cowok yang sekarang sedang berebut bola basket dilapangan sana.iya siapa lagi kalau bukan rafi~

“memang, banyak orang yang diluar sana menjadi pengagum rahasia kaya kamu. Tapi yang sanggup bertahan selama ini? Aku rasa Cuma kamu dindaa ..”
Aku tak menggubris perkataan sahabatku dinda yang menurutku tidak penting. Namun aku tau, dibalik semua perkataan dinda terhadapku, tersimpan kepedulian yang mendalam. Dia tak ingin melihatku terus menjadi ‘pengagum rahasia’ seperti ini. Namun, apa boleh buat ini lah prinsipku, inilah kemauanku. Dan.. prinsip tetaplah prinsip .Tak bisa diganggu gugat.

****
Matahari telah terbenam yang berarti menandakan bahwa sang mentari telahselesai  menjalankan tugasnya. Sekarang giliran sang bintang dan rembulan lah yang akan bertugas menyinari, menerangi dan memperindah alam semesta ini. 
Aku membolak balikan ponselku sedari tadi. Menekankan beberapa angka dan sesekali menekankan tombol ‘call’ lalu mematikannya kembali  . aku melakukan itu berulanag kali -Bingung- apa yang akan aku katakan jika telah terhubung dengan nomor tadi? Bertanya ‘kau sedang apa?’  ‘kau sudah makan?’ atau bahkan ‘kau sudah mengerjakan  tugas hari ini?’ ah tidak. Itu pertanyaan yang teramat bodoh menurutku. Aku memandangi nomor tadi i, lalu kuatur nafasku sejenak dan mulai menekankan tombol ‘call’ kembali. Namun kali ini aku bertekad untuk tidak mematikannya lagi.
Alunan lagu Heal The World – Mikhael Jacson mengalun membuatku menikmati lagu ini dan menghilangkan rasa cemas yang sedari tadi menimpaku. Namun sesaat aku merasakan alunan lagu itu tak terdengar lagi . dann ...

“Halo”
DEG!!! Suara itu.. suara itu... ah!aku terdiam bak patung mendengar suara itu, suara pemilik hatiku beberapa tahun silam. Siapa lagi kalau bukan rafi~

“haloo”

“haloo”
Orang disebrang sana telah mengulang kata ‘halo’ kesekian kalinya. Aku mendengarnya .. namun apa daya, bibir ini terasa enggan digerakan.. masih tak menyangka bahwa diriku sedang..menelponnya.

“halo..kalo  kau tetap diam akumatikan telfonya!” ucap rafi disebrang sana

“jangan” entah ada dorongan apa aku bisa mengatakan kata tersebut.

“nah gitu kek, siapa  yaa?”

“halo.. siapa disana?” orang itu mengulang pertanyaanya sekali lagi. Sedangkan aku? Aku mencoba mengatur nafasku untuk memulai pembicaraan dengan orang disebrang telepon sana.

“a..aku dinda” ucapku berusaha sebiasa mungkin

“dinda kelas XI IPA 1 kah?”

“kau kenal aku?”

“tentu. Kamu yang waktu kelas X pernah nungguin hujanhujan’an bareng aku kan?”

“kau masih ingat itu?”

“tentu. aku ngga akan pernah ngelupain kejadian itu.karna kejadian itulah aku tak lagi takut akan air hujan. dan itu karena kau dindaa..”

#FlashbackOn#
Aku duduk sendirian memandangi deras air hujan yang mengguyur kota bandung ini. Aku memandangi tetes demi tetes air . aku suka hujan . bagiku, hujan adalah tetesan air yang jatuh bergantian . memperindah bentangan langit dan menenangkan jiwa.  Aku menengok ke arah jam tangan pemberian ibu. Jam 16.00. yang berati sudah 2 jam yang lalu bel pulang dibunyikan. Dan artinya, telah 2 jam pula aku duduk disini hanya demi untuk menikmati indahnya hujan~. Aku senang~ aku menikmatinya. Sungguh menikmatinya..
“Kok belum pulang?” tanya seorang pria yang tiba tiba berada di sampingku”
Aku melirik sejenak kearah pria itu. Dari sseragam yang ia kenakan, ia satu sekolah dengan ku. Namun, aku tak pernah melihat pria ini –Pria Cool– ini disekolah. “Lagi menikmati hujan” jawabku apa adanya

“menikmati hujan?”

“iya, aku suka hujan. bukankah kau juga begitu?”

“tidak. Aku ngga pernah suka hujan. bahkan aku benci hujan:”
Aku kaget.aku menatapnya sejenak~ benci hujan? bagaimana bisa ia membenci anugerah Tuhan yang begitu membuat nyaman ini?

“kenapa? Bukankah hujan itu mengasikan?” tanyaku penasaran

“mengasikan?cish. bagiku, hujan hanyalah penghalang bagi manusia. Jalan jadi becek, sungai jadi menguap dan.. seperti sekarang ini. Aku tak bisa pulang kerumah hanya karna hujan”

“hanya begitukah alasanmu? Kamu salah dalam mengartikan hujan. Lihatlah tetesan tetesan air itu, mereka berjatuhan bergantian sesuai tempo. Mereka jatuh silih berganti membasahi apapun yang ada dibawahnya, menciptakan suara yang begitu unik. Bukankah itu membuat nyaman? Ayo hujan-hujanan bareng aku. Aku akan buktikan bahwa hujan tak seburuk apa yang kamu pikirkan” aku menarik cepat lengan pria ini. Pria ini pasrah saja. Ia tak punya waktu untuk berontak karna aku langsung menariknya begitu saja

“tak usah memikirkan kamu akan sakit setelah ini . buatlah kamu nyaman dalam keadaan ini.  Rasakan setiap tetesan yang membasahimu. Percayalah~ ini sangat menyenangkan “ perintahku pada pria disampingku. Perlahan, kulihat dia sesekali memejamkan matanya. Mencoba menuruti apa yang aku perintahkan tadi, mencoba menikmati keadaan ini.

“kau benar! Ini sangat menyenangkan !” teriak pria disampingku ini. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“oh iya kita belum berkenalan. aku Rafi anak X IPA 3” ucap pria ini seraya mengulurkan tangan

“dinda anak  X IPA1 . jangan benci hujan lagi yaJ“ ucapku seraya membalas uluran tangan pria yang bernama rafi ini.

“okeJ
#FlashbackOff#

Aku terdiam. Masih tak menyangka apa yang terjadi sekarang . aku menelfonnya ..dann..dia masih mengingatku? Bahkan masih mengingat kejadian itu? Oh god! Mimpikah ini? Siapapun tolong jangan bangunkan aku saat ini jikalau ini mimpi. aku menampar pipiku sendiri  memastikan bahwa aku sedang tak bermimpi dan .. “aw!”

“halo dindaa?kau kenapa?” suara orang disebrang telepon sana

“eh eng..engga” aku merutuki diriku sendiri. Bodoh bodoh bodoh. Apa yang kamu lakukan dindaaa?kamu lagi telfon dengan siapa sekarang?pliss jaga image kamu dikit kek. Aku memukul pelan kepalaku sendiri lalu kuatur nafasku kembali

“oh yasudah, oh iyaa ngapain malem malem nelfon?”

“e.. e..” aku terdiam, memikirkan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan rafi satu ini. Jujur, aku pun tak tahu alasan kenapa aku menelfonnya,, aku hanya sekedar ingin mendengar suaranya saja. Namun, apakah aku harus jujur bahwa aku menelfonnya hanya sekedar ingin mendengar suaranya?ah tentu aku masih waras dan tak akan menggunakan alasan itu. Otakku masih terus berfikir mencari alasan yang pas.

“dindaa?”

“ehiya, aku nelfon kamu Cuma mau ndaftar ekskul PMR. Kamu ketua nya kan?” jawabku spontan.
“ohh PMR, iya aku ketuanya.. besok istirahat pertama kamu ke UKS aja, kebetulan sekali besok ada jadwal ekskul PMR, sekalian juga nanti kamu perrkenalan  juga”
10 menit sudah aku bercicara dengannya. Lalu aku memilih untuk memutuskan sambunganku dengannya . Aku tersenyum menatap lekat ponselku .  Percakapan yang begitu singkat namun begitu berarti .


Aku memandangi lekuk lekuk tubuhku didepan cermin kamarku , memastikan bahwa hari ini aku telah siap bertemu dengannya –Rafi– saat istirahat berbunyi, aku menyuruh Diana untuk mengantarku  ke  UKS
Hari ini hari pertama aku mengikuti ekstrakulikuler PMR, jujur aku tak begitu suka dengan masalah medis seperti ini. Namun apa boleh buat, semalam aku telah mengatakan bahwa aku akan mengikuti PMR, yaaa inilah resikonya. Aku menarik nafasku dalam dalam lalu kukeluarkan lagi. Aku melakukan itu berlulang-ulang. Aku mengontrol nafasku agar tak canggung saat memasuki ruang UKS, juga saat berbicaradengan Rafi. Setelah mengontrol nafas, aku langkahkan kakiku memasuki UKS sedang Diana memilih untuk kembali ke kelas.
Setelah lama mengikuti PMR, aku pun kini telah terbiasa~ dan karena PMR lah hubunganku dengan Rafi semakin dekat. Setidaknya sekarang selalu tegur sapa saat berpaspasan, seringkali ngobrol yaa walaupun ngobrol masalah “PMR”. Dalam sela sela kedekatanku, perbincanganku, aku tak pernah terlepas untuk mencuricuri waktu untuk memandanginya. Dalam doa selalu keselipkan namamu , dalam diam ku sebutsebut namamu, dan dalam hati aku menyimpan namamu lekat lekat. Aku mencintaimu dan kamu tak pernah tau akan itu!:)



Hari demi hari tak terasa dilalui dengan begitu cepat. Tak terasa, sekarang aku telah duduk dibangku kelas XII. Besok, 17Juli tepat 3tahun aku menyukainya. 3 tahun? Ah sebegitu cepatkah waktu 3tahun itu? Perasaan rasanya baru kemarin aku mengenalnya. Tapi tak taunya?udah 3tahun saja. Betapa cepatnyaa..
Namun, Semenjak naik kelas XII , aku merasa ada yang berbeda pada diriku sendiri. Aku merasa sekarang mulai gampang lelah dan seringkali pingsan tibatiba. Sempat saat itu aku pingsan  saat ingin menuruni tangga rumah . dan mamah segera membawaku ke rumah sakit. Aku sempat bertanya pada mamah tentang apa yang terjadi terhadapku. Namun syukurlah, mamah bilang aku tak mengidap penyakit yang serius. Hanya darah rendah saja yang itupun hanya dalam jangka waktu sementara .

**
Hari ini, aku dengar ada pertandingan bassket antar kelas XII IPA 3 vs XII IPS2. Mataku seketika melebar ketika mendengar kata “XI IPA” bagaimana tidak? Itu adalah kelas dia! Energiku seakan langsung terisi dan segera menggandeng Diana kearah lapangan belakang dan memilih tempat ‘terdepan’ . aku tak ingin melewati momen ini. Momen dimana aku bisa Memandang mimik wajah cool dia secara dekat. Meskipun ia tak pernah tau  bahwa aku ..’memperhatikanya!’
Pertandinganpun segera dimulai. Aku bersorak gembira. Aku senang saat saat seperti ini. Saat dimana aku bisa berada pada barisan terdepan dan dapat dengan bebas memandangi sang pangeranku.
Aku memerhatikan gerak-gerik nya dengan seksama. Aku terpukau! Kepiawaian dia dalam mengoperkan dan memasukan bola diatas Ring berhasil membuatku tak berkedip.  Namun sesaat aku merasa ada sesuatu yang mulai mendekat ke arahku , dan..
“BUKK!” sebuah bola basket mengarah tepat dikeningku. Aku pusing dan sesaat semua hitam. Aku tak dapat merasakan apa apa lagi. –Aku pingsan–

**
Perlahan, mataku mulai dapat menerima serpihan cahaya lampu ruangan. Aku tak tau dimana sekarang aku berada. Aku mulai membuka mata, lalu sekejap aku baru mengenal tempat ini. Ruang UKS. Aku melihat Diana tertidur disampingku dan kulihat pula seorang pria yang berada dibelakang Diana, aku tak bisa mengenali pria itu karna memang pria ini dalam posisi menenggelamkan kepalanya.

“Na..” panggilku

“dindaa.. kamu udah siuman?”

“aku pusing na, ambilin obat aku ditas na..”

“Rafi! Tolong oh ambilin tas Dinda di kelas.. ya.. ya.. pliss” suruh Diana pada rafi. Rafi memang berada diRuang UKS menungguiku siuman bersama Diana. Bukan karna ada perasaan atau gimana, mungkin Rafi berada disini karena merasa bersalah karna yang menyebabkan aku seperti ini adalah dia. –Dengan tidak sengaja–

“iya iya “ Rafi pun segera berlari menjalankan perintah Diana.
Tak lama kemudian, Rafi kembali ke Ruang UKS membawa Tas sekolahku. Diana langsung mengambil obat yang ada di Resleting depan tas ku. Lalu meminumkannya untukku.  Rafi yang tak tahu menahu tentang obat itupun tak tinggal diam.

“obat apa itu din?”

“oh ini, obat Penderita darah rendah biar ngga pusing “ jawabku seadanya.  Memang, setelah pemeriksaan beberapa hari yang lalu dan aku divonis menderita darah rendah aku dianjurkan untuk meminum obat ini secara teratur. Aku tak memikirkan apakah ini benar adanya atau tidak.tapi yan`g jelas, aku hanya ingin menuruti omongan mamah saja agar meminum obat ini.
Tak lama kemudian, Rafi mengantarkanku pulang. Dengan alasan ia ingin menebus kesalahannya tadi. Aku pun hanya mengiyakan saja. Selain karna memang mumpung ada kesempatan, aku memang sedang malas jika harus pulang sendiri.

bersambung..
 

Senin, 13 Januari 2014

Near. -Part2-



Near
PART 2.
Author : Hasri Imroatul Izza
Follow @izzayaaku
Tinggalkan jejak dengan like dan coment ya:) jangan jadi pembaca gelap:p
Kritik dan saran ditunggu :))


 Tasya melirik jam tangan biru dongker yang melingkar dipergelangan tangan kiri’nya. Tertuliskan pukul 15:03.
‘cisshh. Udah 1jam lebih gadis ini duduk ditemani satu buku tipis yang sedari tadi lumayan membuatnya tak lagi gerah. Yeah. Hari ini memang hari apes baginya, mungkin saat ini dewi fortuna bukan berada dipihaknya.

“sampai kapan mau disini?”

Tasya mendongakkan kepalanya. Mencari tau darimana asal suara yang sepertinya berbicara kepadanya. Diddepannya, terdapat lelaki dengan motor cagiva merah miliknya. Namun, tasya masih belum bisa mengetahui siapakah gerangan manusia ini karena wajahnya tertutup oleh helm full face yang ia kenakan.  Tasya masih diam tak bergeming. Sesaat kemudian, pria ini membuka kaca helmnya sehingga saat ini Tasya bisa dengan mudah mengetahui siapakah gerangan sosok yang ada didepannya. Daan..

“Difa?”

Gadis ini masih tak bergedip mengetahui bahwa sosok yang ada di depannya ssaat ini adalah difa, sahabatnya sendiri. Tasya masih tak bergeming dengan mulut membuka.  Ia masih kaget rupanya. Namun, ia bukanlah kaget karna melihat Difa yang berada didepannya. Namun ‘bagaimanakah difa tau kalau saat ini Tasya berada disini? Ikatan batinkah? Ah entahlaah.


“mau sampai kapan ngelamun terus?”

“kok lo tau gue disini?”

Tanya Tasya yang sama sekali tak menghiraukan pertanyaan difa. Terlihat yang ditanya melengos nafas panjang..

“jelaslah gue tau. Bokap nyokap lo ngga bakal ada waktu buat lo karna mereka selalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. kakak lo? Dia juga ngga bakal njemput lo karna saat ini dia lagi sibuk nyelesein scripsi. Sedang saat ini lo ngga bawa hp jadi ngga bisa nelfon Andri, salsha aau gue. Iyakan?”

Tasya tercengang. Bagaimana Difa tau sampai sedetail itu? Ah namanya juga sahabat dari SD wajar kalau dia tau. Tasya tak memikirkan ini terlalu dalam.

“tapi..bukannya lo masih kesel sama gue? Sedari dikelas aja lo ndiemin gue.”

“se-kesel – keselnya gue tetep ngga akan tega ngeliat sahabat ceweknya sendirian, panas-panasan , desek-desek’an sampai keringetan kaya  babi abis mandi gini”
Ucapnya bercanda namun keliatan sangat ketus. Sedang Tasya hanya melengos.beginilah sifat sahabatnya.

“lo masih kesel ya? Maaf. Gue..”

“berhenti ngucapin kata maaf. Gue ngga marah. Buruan naik. Panas tau ngga-__-“

“yaya”

‘BRMMM’
Motoor yang dikendarai Difa pun kini telah melaju kearah tujuannya yang entah akan kemana.
Ramainya jalanan ibukota tak menghalangi laju motor ini. Ia masih bisa terselamatkan dari penyakit andalan yang menimpa kota Jakarta. Yah ia masih bisa terselamatkan dari ‘kemacetan’ . tentunyaa karna saat ini ia mengendari kendaraan roda dua. Sehingga dengan mudahnya ia menyelip dan meliuk-liukan motornya dari kendaraan-kendaraan didepannya. Sudah merupakan hal yang wajar tentunya.

**

‘Tap Tap Tap’


Suara sepasang kaki langkah beriringan memasuki bangunan yang besar dan mewah ini.  Terlihat sekali bahwa saat ini orang ini menarik paksa orang disebelahnya. Sedang yang ditarik tak berhenti untuk mengeluarkan kekesalannya karna perlakuan temannya ini.


Ia tak berhenti menanyakan maksud orang disampingnya mengapa ia mengejaknya ke tempat besar mewah dan dikunjungi banyak orang yang tak lain, mall ini. Kenapa ia mengajaknya kesini? Mengapa ia mengajaknya kesini saat kondisi ‘pakaian’nya sedang tergolong berantakan bak babi dimandiin?  Terlihat sekali pengunjung-pengunjung sesekali menoleh kearah 2sejoli ini. Eh lebih tepatnya ‘gadis berkeringat’ ini._. Gadis ini masih tak mengerti dan masih terus berontak.


“Tunggu disini.” Perintah seseorang yang sedari tadi menggeret tangannya saat berada didepan sebuah toko baju. Dan memasukinya. Mau apa? Entahlah.

“lo mau ngapain dif?” tanya gadis ini setengah berteriak pada sosok yang saat ini mulai menjauh yang tak lain sahabatnya sendiri, Difa. Sedang yang ditanya mendengar, namun hanya sebatas menoleh kearah  Tasya dan melemparkan seutas senyum. Apa maksudnya? Apakah ia akan memberikan hadiah kepada Tasya? Atau akan memberikan surprice untuknya? Tapi kan ulang tahun gadis ini masih 1bulan lagi. Ah sudahlah tak perlu berfikiran tingi karna jika jatuhh saakit.-.

‘sahabat yang penuh misteri’ Gumam  Tasya

Tak lama, Difa keluar seraya menenteng tas keresek berisikan apa tak tau.

“nih. Masuk kekamar ganti dan gantiseragam lo sama pakaian ini”
Difa menyerahkan keresek yang sedari tadi dibawanya. Dan menuruh tasya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang Difa belikan tentunya. Namun Tasya masih tak bergeming, ia hanya mengerutkan kening .

“gue tau baju lo basah kena keringet, gue juga tau kalo sedari tadi orang-orang mandangin lo. Maka dari itu gue ngajak lo kesini biar sekalian beli baju buat lo pakai. Sekarang lo pakai gih. Kamarpas ada diuju ng sana, setelah itu kita cari makan karna gue tau lo pasti belum makan”

Ucapan lelaki ini tadi telah berhasil membuat Tasya kaget. Difa membelikannya baju dan nanti akan mengajaknya makan? Tumben sekali dia peduli pada Tasya. Namun,  Memang tadi difa mengucapkan sederet kalimat yang secara tidak langsung mengartikan bahwa berarti ‘ia peduli’  dengan nada ketus seakan tak peduli seperti biasa. Namun tasya tau dibalik keketusan dia, Difa peduli terhadapnya.
Ia pun tak terlalu memikirkannya. Langkahnya melaju kearah ujung sesuai  dengan apa yang di instruksikan sahabatnya, Difa.

‘Tap Tap Tap’

Langkah kaki Tasya memasuki kios baju dan menuju kamar pas sesuai dengan yang Difa tunjuk  untuk mengganti seragamnya dengan pakaian yang telah dibelikan Difa tadi.


**

Seseorang mampu menghipnotis orang yang berada didepannya. Dengan langkah santai,  orang ini menuju ke arah seseorang disana yang tengah menunggunya.
Ia melangkahkan kakinya dengan santai seraya membawa keresek yang diyakin adalah baju seragamnya.

“hey” sapanya pada sosok lelaki yang sedari tadi memandangnya dengan tatapan yang entahlah.  Namun yang disapa masih diam seakan tak mendengar apapun.

“cantik” gumam lelaki ini pelan, bahkan sangat pelan. Ia sangat yakin bahwa perkataanya barusan tak akan didengar oleh siapapun. Karna ia mengucapkannya dengan teramat pelan.

“gue emang cantik dari dulu kalii:p matanya kedip dong:p” tak disangka, ternyata ucapan lelaki ini didengar oleh gadis didepannya yang tak lain Tasya. Lelaki ini tersadar dari lamunannya dan merutuki dirinya karena telah mengucapkan kata itu.

“apaan sih lo”

“oh jadi lo ngga kedip gitu karna terpesona dengan kecantikan gue yaa?haha”

“pede lo!! Gue heran aja  perasaan gue mbeliin baju lo baju yang paling murah dan jelek menurut gue deh. Tapi kenapa dipake lo bagus aja gitu. Heran aja”

“yang namanya cantik ya mau pake baju jelek kek murah kek kalo emang dasarnya cantik mau gimana lagi haha”

“stop ke PD’an-_- yuk ah cari makan. gue tau lo laper.”

“kita mau makan dimana?”

“udah ikut gue”


‘TapTap Tap’

Suara langkah beriringan menghasilkan suara yang tak sebegitu nyaring. Dua sahabat ini berjalan beriringan dengan tangan saling menyatu satu sama lain. Membuat siapapun yang melihat mereka sekarang pasti akan mengatakan bahwa mereka adalah lebih dari seorang sahabat.  Meski sebenarnya mereka hanya ‘sebatas sahabat’.

Karna dilihat dari fisiknya pun mereka berdua begitu serasi layaknya sepasang kekasih. Si  cewek  yang saat ini hanya mengenakan kaos berukuran besar warna softpink dengan jeans biru dongker panjang juga disertai rambut yang hanya digerai tak beraturan mampu membuat siapapun pria yang melihatnya seakan terhipnotis akan kecantikannya yang natural.  Sedang si cowok yang tak lain difa hanya mengenakan jeans hitam dengan jumper abu-abu yang menyelimuti tubuhnya. Hm sahabat yang begitu serasi._.

Langkah mereka berhenti disebuah Restoran sea food yang berada persis dibelakang mall ini. Mereka sengaja ke kedai sea food ini dengan berjalan kaki.. difa yang mengusulkan. Entah apa maksud dan tujuannya.

Dua sejoli ini segera memasuki restoran ini, mencari tempat yang kosong yang akan mereka duduki.
Langkah kaki beriringan berjalan menuju ke arah pojok kanan Restoran karna memang hanya tempat itulah yang tersisa.
Melihat raut wajah Tasya yang terlihat sekali menahan lapar, Difa pun memutuskan untuk segera memanggil sang pelayan guna  memesan beberapa makanan dan minuman yang diinginkan Tasya maupun dirinya.

“lo pesen apa sya?”
Difa menanyakan makanan apa yang ingin ia pesan pada gadis didepannya. Sedang yang ditanya, terlihat sedang sibuk sendiri merogoh tas lengannya. Mencari sesuatu yang entah apa tak tau.

“samain sama lo aja deh”
Jawab sang gadis yang tak lain Tasya ini tanpa menatap ataupun ha ya sekedar menoleh.
Difa pun akhirnya memesan 2  Udang bakar saus Tomat dan 2 just Alpukat untuk meinumannya. Setelah berbincang dengan sang pelayan untuk memesan, sesaat sang pelayan pun melangkahkan kakinya menuju kearah dapur mungkin (?)._-


Setelah kepergian pelayan, Difa tak henti menatap gadis didepannya sekarang.
Difa mengerutkan keningnya, menandakan bahwa ia sedang heran . ‘apa yang dilakukan tasya?’ ucap batinnya. Namun, ia tak lama otaknya pun bekerja dan menangkap sesuatu yang ia yakini adalah maslah yang Tasya hadapi saat ini. Dia pun memilih diam dan membuka ponselnya untuk menghilangkan penatnya.


“gue lupa ..”

“gue yang bayar” potong cepat Difa cepat yang sepertinya tau apa yang akan diucapkan Tasya, yah memang dia sedari tadi mencari sesuatu didalam tas lengan miliknya yang tak lain adalah dompet, dan gadis ini lupa tidak membawa dompet.
Kemudian, gadis ini menganggukan kepalanya dan kembali terdiam.


Hening. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut sepasang sahabat ini. Mereka terlarut dalam fikiran masing masing sepertinya. Entah apa yang membuat mereka menjadi saling canggung seperti ini. Padahal, sesaat sebelumnya masih terlontar beberapa lelucon ataupun katakata yang membuat mereka bisa tertawa lepas, tak seperti ini. Diam dan saling canggung satu sama lain.

“gue masih heran kenapa lo tadi bisa njemput gue dihalte. Padahal kan lo masih kesel sama gue?”

Tanya tasya mencoba menghentikan keheningan ini. Sedang yang ditanya, ia mendongakan kepalanya menatap tasya. Dan..

“perasaan lo dari tadi nanya itu mulu. Penting bgt ya gue jawab?”

“ya kan gue Cuma pengin tau aja udah”

Pria ini mengeloskan nafas berkali-kali..
“gue dirumah ngga tenang mikirin lo. Gue khawatir sama lo. Gue takut lo kenapa-kenapa. Gue peduli sama lo. Lo kan sahabat gue dari kecil, mau senyebelin apapun lo ya gue tetep peduli. Lagian kalo lo ilang, gue juga kan yang repot. Orang tua lo juga pasti nyalahin gue karna gue sahabat kecil lo. Iya kan?”

Ucap Difa dengan nada seperti biasa. Ketus. Meski dalam perkataannya tadi dia mengucap kata ‘peduli’ namun dilihat dari raut muka saat mengatakan kalimat tersebut sama sekali tak memancarkan kepedulian, ataupun raut ke’khawatiran dari raut wajahnya. Namun, ah sudahlaah Tasya sudah terbiasa mendapati hal ini.


**

“ngga mngkin!! Ngga mungkin!! Ini ngga mungkinnn!!!! Tuhan ini ngga mungkin!!”

Seseorang berteriak tak beraturan didalam kamarnyaa. Lebih tepatnya dalam kamar mandi kamarnya. Ia terus mengatakan ‘ngga mungkin!!!’ apa yang terjadi?
Dari raut wajahnyaa, siapapun tau bahwa gadis ini sedang mengalami masalah yang besar. Yah. Sangat besar.

2jam berlalu, namun tangis gadis ini tak kunjung mereda. Bahkan semakin deras hingga sesenggukan. Matanya yang tengah sembab tak berhentinya menatap sesuatu yang ia pegang sedari tadi.  Benda yang membuat dia shock.stres.dan frustasi.
Ia sangat shock saat ini. Air shower yang tumpah membasahi tubuhnya tak mengurangi kesembab’nya saat ini. Ia terus menangis dan menangis mengetahui apa yang terjadi saat ini. Yah fatal memang.

Ia terus menjerit sepuasnya karna ia tau saat ini rumahny masih dalam keadaan sepi, orangtua nya sedang pergi mengurusi bisnis yang entah kemana, adik satu-satunya yang tak kunjung pulang sekolah sampai saat ini dan pembantu yang sedang izin pulang kampung untuk beberapa hari kedepan.


‘Tap Tap Tap’

Terdengar suara langkah kaki yang sepertinya mengarah kearah tempat yang saat ini gadis ini tempati. Ia pun segera meredakan eh lebih tepatnya mencoba memelankan tangisanya. Gadis ini berusaha untuk menghentikan jalur air mata yang sedari tadi tak hentinya dilalui oleh butiran-butiran airmata. Ia  menatap benda yang sedari tadi berada dalam genggamanya yang tak lain merupakan benda terburuk yang pernah ia temukan. Dengan cepat ia segera menyembunyikan benda ini pada kantong belakang pada celana yang ia gunakan saat ini.
Berharap siapapun tak akan pernah mengetahui akan hal ini.

Bersambung...


Minggu, 12 Januari 2014

Near. -Part1-



Near
PART 1.
Author  Hasri Imroatul Izza-
Follow: @izzayaaku
Tinggalkan jejak dengan like dan comen ya:)  jangan jadi pembaca gelap:p


“buruuaaaann!!! Atau lo gue tinggal”

Seorang lelaki berseragam putih abuabu setengah berteriak didepan rumah bercat putih besar didepannya. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Yaah, memang dia sedang menunggu.

“bentaaarr! Iya ah iyaaa bawel”


Dari balik pintu, datang seorang cewek menghampiri lelaki yang sedari tadi meneriakinya berulang-ulang. Dari penamilannya gadis ini tergolong..berantakan. dengan tali sepatu yang belum diikat,  tas yang diselempang dilengan , baju yang belum dimasukan sempurna dan rambut yang berantakan.

“lo mau sekolah apa kesawah? Benerin dulu!”

“aelahh kaga usah deh buruan berangkat keburu telat”

“tasyaaa..gue nggamau lo berangkat sekolah dengan keadan berantakan gini.malu gue kalo gue harus mboncengin sahabat yang berantakan kaya gini”

“yayayayaya”


Gadis ini menalikan sepasang sepatu yang dikenakannya, memasukan seragam sekolahnya dengan rapi dan yang terakhir ia mengeluarkan sebuah sisir dan mulai menyisir rambut lurusnya. Sesaat, ia sudah duduk pada motor ninja merah milik sahabatnya, Difa.

“udah .buruan jalan”

“peluk gue atau lo bakal jatuh. Gue bakal ngebut karna kita udah telat. Dan itu gara gara lo”
Ucap Lelaki ini setengah berteriak kepada sahabatnya, Tasya.

“berhenti nyalah nyalahin gue! Yaya gue peluk lo! Tapi berhenti nyalahin gue“

Teriak tasya lantang. Dia sangat tak suka disalahin, apalagi dibentak. Namun, beginilah sifat sahabatnya, cuek, dan sangat disiplin. Tak heran jika ia sering memarahi Tasya jika ia tak mengerjakan PR ataupun bangun kesiangan.

Tasya pun mau tak mau melingkarkan tangannya pada perut Difa, karna memang benar. Difa menjalankan motornya dengan sangat tak santai. Alias ngebut.-.



Tak perlu waktu lama, mereka telah sampai tujuannya yang tak lain sekolah mereka. Jarak sekolah yang lumayan jauh, yang biasa ditempuh dalam waktu 15menit dengan kecepatan normal sekarang hanya ditempuh Difa hanya dalam waktu 5menit. Benerbener nekat.



**

‘Tap Tap Tap’


Bunyi langkah mereka beriringan saat melewati koridor sekolah. Tak ada topik yang mereka bicarakan kali ini. Hening~ Tasya enggan membuka pembicaraan kali ini, mungkin ia masih kesel sama difa yang sedari tadi menyalahkannya. Sedang Difa?ia pun memilih diam. Karna ia tau dalam keadaan seperti ini, Tasya sangat tak suka diganggu.

Langkah mereka terhenti saat berada didepan kelas dan mulai memasuki ruang kelas yang bertuliskan “XII IPA2” ini. 
Tasya melangkahkan kakinya menuju bangku no.3 yang sekarang ditempatti salsha.  Terlihat salsha, sahabatnya semenjak kelas XII sedang sibuk menyalin buku teman sekelasnya.

“ngerjain apaan lo sal?”

“tugas kimia.lo udah?”

“OMEGAATTTT!!! Mampuss! Gue belum. Sini sal barengan sama gue”

Tasya melirik kearah Difa yang berada didepannya. Terlihat muka merah kesal dari raut wajahnya. Yaah. Tasya sangat tau jika sudah seperti ini, marah Difa akan meledak. Daan tentunya, dia akan memarahi tasya karna kelakuannya yang tidak disiplin.

“hehehe :Ddifa sayang gue tau lo bakal marah. Tapi gue mohon marahnya ditahan dulu ye pliss .soalnya sekarang gue mau ngerjain tugas dulu:’ gue tau lo udah, jadi beri gue waktu buat ngerjain yaa.. tinggal 5menit lagi sisa waktunyaa :D”
Ucap gadis ini pada pria didepannya. Sedang yang diajak bicara tak menggubris namun masih sama seperti sebelumnya. ‘masih memasang muka kesal’

**

”Lalallaalalala”

“mau pesen apa lo dif?” tanya Salsha pada Difa yang sekarang duduk disebelah kanan Tasya.


“nasi goreng  pedes, pake telor tapi telornya jangan dicampur sekalian sama nasinya, pedes tapi jangan terlalu pedes ya kirakira cabenya 2 setengah biji aja deh, trus kecapnya juga jangan terlalu banyak nanti kemanisan, kasih tomat 3iris aja, kolnya yang banyak soalnya gue suka kol. Trus menumnya es teh manis tapi jangan kemanisan, kirakira gulanya 1sendok teh aja. Lo masih suka itu kan dif?”

Tanya seorang gadis pada pria disampingnya. Tasya lalu menatap lelaki ini yang sedari tadi tak menggubris pertanyaannya. Sedang yang ditatap hanya diam dengan sorot mata yang ‘menakutkan’ bagi siapa saja yang melihatnya.

Tasya tau, difa pasti masih marah akan kejadian tadi pagi. Melihat raut wajah sahabatnya, ia hanya melengos. Menyiapkan kuping karena sebentar lagi ia akan mendapat sesuatu yang ‘tak diinginkan’ menyayat alat pendengarannya.

“buruan” ucap tasya begitu singkat. Mengisyaratkan agar sahabtnya, difa untuk memarahinya. Ia begitu pasrah saat ini.

“gue heran sama lo sya, kenapa sih lo kaya gini terus? Ngga pernah disiplin. Bangun selalu kesiangan, berangkat sekolah telat, ngga ngerjain PR terus. Dari SD lo selalu kaya gini. Kapan lo berubah sya? Kapan sih lo bakal jadi anak disiplin? Inget sya, tahun depan kita UN SMA. Masa lo mau kaya gini terus?berubah kek!! Gue bosen ngeliat lo yang ngga pernah disiplin. Lo itu cewek sya. Ngga seharusnya lo kayak gini ini! “

“syaaa?”
Panggil lelaki ini karna yang sedari tadi diajak bijara tak bergeming.

“hah?iya?udah selese pa ustad ceramahnyaa?”

“syaa?jangan bilang lo ngga ndengerin gue ngomong ttadi!!!”

“emang ngga denger. Kan ada penyelamat in hehe :Di” ucap si gadis serasa tanpa dosa seraya menunjukan barang yang sedari tadi menyumbat telinga kanan kirinya, yang tak lain headset.

“tasyaaaa.. lo ituu yaaaaaa-_____-“

“gue ke kelas duluaaaaaaaannn!!! Haha”
Gadis ini langsung mengambil jurus langkah 1000. Karna ia tau Difa sudah sangat sangat marah kepadanyaaaa. dan tentunya marahnya akan meledak sekarang dan ditempat ini juga.



**

'Hoam'

Tasya menguap untuk kesekian kalinya. terlihat sekali ia tak suka akan pelajaran dijam terakhir ini. bukan hanya Tasya yang merasakan seperti ini. terlihat pula beberapa siswa yang menguap, meletakan kepalanya pada meja, ada yang asyik memainkan ponselnya dan bahkan adapula yang telah terlelap tidur.

tasya melirik pada 2 bangku didepannya. terlihat sosok Difa sedang asyik mendengarkan apa yang diterangkan bu Sari yang tak lain guru PKn.Siapa sih yang tak bosan jika harus mendengarkan penjelasan materi Pkn dijam jam terakhir seperti ini? mungkin hanya Difa dan sebagian orang saja.

Tasya tersenyum, inilah yang ia suka dari sikap sahabatnya, meski terkadang menyebalkan, ketus,jutek dan seakan tak peduli dengan sekitar, Difa merupakan pribadi yang rajin, aktif dan pintar. tak heran jika semenjak SD dia selalu mendapatkan gelar 'sang bintang kelas'


'Tettt Teet'


Bel berbunyi 3kali yang menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar hari ini telah selesai.
semua anak bersorak dan segera berhamburan menuju kelas dengan langkah riangnya .




Dilihatnya, Ada yang segera menuju tempat parkir karna memang ia membawa kendaraan saat berangkat. Ada yang segera menuju kedepan gerbang sekolah guna menunggu jemputan. Ada pula siswa siswi yang menuju taman depan sekolah guna berkumpul ria dengan teman teman se-genk’nya.

Lain hal nya dengan siswa siswi yang lain yang sangat menantikan bel pulang ini, gadis ini justru berjalan dengan gontai, sangat lemas,  muka yang ditekuk, dan...sendirian. mengenaskan memang.
Kedua sahabatnya yang meninggalkannya duluan mengharuskan ia harus seperti ini. Salsha yang semenjak bel berbunyi segera menuju tempat parkir guna mengambil motor yang ia gunakan sehari hari sebagai kendaraan sekolahnya. Sedang sahabatnya yang lain yang tak lain difa? Tentu tau sendiri, difa pasti tentunya masih kesal akan kelakuan Tasya tadi pagi. Ditambah pula saat jam istirahat Tasya tak mendengarkan sepatah kata pun ‘ceramah’ difa. Huh. Inilah nasib yang harus diterimanya hari ini. Apes memang._.


**

‘Tap Tap Tap’


Suara langkah kaki yang begitu lunglai melangkah setapak  demi setapak. Membawanya kesuatu tempat dimana tempat inilah tempat sesuatu yang akan membawanya pergi ke surga dunianya yang tak lain rumahnya.

Langkahnya berhenti disuatu tempat berwarna biru, dengan dua tiang di sebelah kanan dan kirinya sebagai penopang bangunan kecil ini. Dilihatnya beberapa orang yang sedang asyik baca koran, tak jarang pula orang asyik memainkan hp nya dengan begitu riang, adapula seorang ibu yang sibuk mendiamkan anak balitanya yang menangis meronta entah karena apa, dan dilihatnya pula segerombolan siswa siswi sibuk dengan selembar kertas yang mereka kibas kibaskan sebagai ‘kipas angin manual’ seraya menunggu suatu kendaraan beroda empat berwarna kuning yang akan menjemputnya. Yaah. Apalagi kalo bukan angkot .__.

“csshhh. Menyebalkan” gumamnya pelan.

Ia terus merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya yang lupa bawa hp dalam keadaan se-menyebalkan ini. Andai saja saat ini dia bawa hp , nasibnya tak mungkin seperti ini. Ia bisa saja menelfon salsha ataupun Andri untuk menjemputnya sekarang.  Andri? Dialah cowo yang begitu mencintai Tasya semenjak satu tahun lalu.

Waktu terus berlalu, namun yang ditunggu tak kunjung datang. Memang sedari tadi ada beberapa angkot yang berhenti dihalte ini, namun sayang itu bukanlah angkot kuning yang ia tunggu. Dan untuk kesekian kalinya, Tasya mengucaapkan kata ‘menyebalkan’


**

Seseorang  sedang asyik merebahkan diri diatas sofa kamarnya. Tangan kanannya memegang ponsel kesayangnya, sedang tangan kirinya memegangi remot televisi yang sedari tadi ia pencet pencet tak beraturan. menggonta-ganti dari chanel satu ke chanel yang lain. Orang ini melakukannya berulang ulang entah apa maksud dan tujuannya.

Matanya menatap kosong ke arah televisi. Entah apa yang difikirkannya saat ini. Yang pasti siapapun yang melihatnya sekarang pasti akan tau bahwa lelaki ini sedang resah entah apa penyebabnya.

Lelaki ini membolak balikan ponselnya,Tak ada yang mengetahui apa yang sebenarnya ia lakukan selain Allah dan authornya(?)._. . Yaah. Sepertinya ia sedang menungu pesan singkat atau panggilan masuk dari seseorang. Apakah pacar? Entahlah yang pasti orang ia fikirkan saat ini orang begitu istimewa sampai membuat lelaki ini menjadi resah seperti ini.

Sesaat kemudian, ia bangkit dari rebahannya segera mengambil jaket dan kunci motornya. Dan segera pergi keluar rumah untuk segera ketempat yang ia tuju.



**

 Tasya melirik jam tangan biru dongker yang melingkar dipergelangan tangan kiri’nya. Tertuliskan pukul 15:03.
‘cisshh. Udah 1jam lebih gadis ini duduk ditemani satu buku tipis yang sedari tadi lumayan membuatnya tak lagi gerah. Yeah. Hari ini memang hari apes baginya, mungkin saat ini dewi fortuna bukan berada dipihaknya.

“sampai kapan mau disini?”

Tasya mendongakkan kepalanya. Mencari tau darimana asal suara yang sepertinya berbicara kepadanya. Diddepannya, terdapat lelaki dengan motor cagiva merah miliknya. Namun, tasya masih belum bisa mengetahui siapakah gerangan manusia ini karena wajahnya tertutup oleh helm full face yang ia kenakan.  Tasya masih diam tak bergeming. Sesaat kemudian, pria ini membuka kaca helmnya sehingga saat ini Tasya bisa dengan mudah mengetahui siapakah gerangan sosok yang ada didepannya. Daan..


Bersambung..
Maaf kalo jelek. Cerbung pertama nih :3 jadi wajar aja kalo jelek :D