Don't Be Let Go!
Part1
Author: Hasri Imroatul Izza
Aku terdiam dibalik jendela kelas. Memandangi tetesan air
yang jatuh dari langit, tanpa memperhatikan sepatah kata pun yang diterangkan
bu guru didepan. Yaap! Hari ini sedang
hujan. Daann..aku suka air hujan. Rasanya terasa sangat nyaman jika memandangi
rintikan air yang jatuh silih berganti.
Ah sebenarnya bukan itu alasanku menyukai air hujan. Akan
tetapi~ kejadian itu yang membuatku menyukai hujan. iya kejadian itu.kejadian dimana
saat itu awal aku mengenalnya dan......jatuh cinta kepadanya. Aku tersenyum
mengingat kejadian itu. Kejadian yang menurutku lucu tetapi juga..mengesankan.
Namun sayang senyumku lenyap begitu saja setelah sahabatku
Diana memberitahuku bahwa si guru daritadi memperhatikaanku . okeyy~ kita
lupakan sejenak kejadian itu.
****
Aku Dinda Anatasya atau biasa disapa dinda. Sekarang duduk
di bangku kelas2 SMA diSMA favorit didaerah Bandung. Sedang Diana adalah sosok
perempuan yang telah menjadi sahabatku sejak dua tahun lalu. Aku baru mengenal
diana ini saat menginjakan kaki di SMA ini. Namun, tak jarang orang mengira
bahwa kita telah bersahabat sejak lama atau bahkan ada juga yang mengira bahwa
kita berdua anak kembar. Haha sempet ngakak juga sih , tapi yaa aku maklumin
saja. Mungkin karena kita berdua memang udah kayak perangko sama surat yang
bawaanya nempel mulu, ditambah juga penampilan kita yang samasama berhijab.
Aku salut banget sama Diana, ia tak pernah sekalipun bosan
mendengar celotehanku yang selalu aku
ulang. Ia tak pernah lelah memberi semangat, memberi saran dan memberi motivasi
u untukku . yaa..itulah yang namanya sahabat. Dapat menerima celotehan kita
baik suka maupun duka <3
“Hey, lagi ngeliatin apaan sih?” cerocos diana yang kemudian
langsung duduk sebelahku
“ngeliatin hujan” jawabku tanpa memalingkan mata dari arah
jendela yang langsung terhadap lapangan basket.
“ngeliatin hujan atau orang yang berada ditengah derasan
hujan?:p “ tebak diana
Aku terdiam. .
“sampai kapan kamu kayak gini terus din?”
“kayak gini? Kayak gini gimana na? Akau baik-baik aja kok J”jawabku seraya
memamerkan senyum manisku
“aku tau kamu din, aku tau apa yang kamu rasain sebenarnya.
Mau sampai kapan kamu mbohongin diri kamu sendiri? Mau sampai kapan kamu
terus-terusan nahan sakit kaya gini? Mau sampai kapan din?”
Aku terdiam kembali. . . jujur, baru pertama kali aku
mendengar Diana berkata seperti itu. Aku mencerna perkataan diana yang memang
benar adanya.
“aku nggatau. .” hanya kata itu yang dapat terucap dari
mulutku
“maaf din kalo ucapanku tadi menyinggungmu. Itu karna aku
udah tak tega melihatmu terus-terusan kayak gini”
“nggada yang perlu dimaafin na, kamu ngga salah. Ucapan kamu
benar. Aku memang bodoh.tapi jujur, aku lebih memilih kayak gini daripada harus
ngelupain dia na.. itu terlalu sulit”
“tapi dia ngga pernah peduli sama kamu din, buka matamu ..
masih banyak orang yang menunggumu diluar sana”
“tapi aku tak mencintai mereka”
“cobalah buka sedikit hati kamu untuk mereka”
“aku tetap ngga bisa na.. itu terlalu sulit”
“terus, apa yang akan kamu lakukan? Masih akan terus
menunggu dia yang tak peduli terhadapmuu?”
“heem” aku menganggukan kepalaku.
“baiklah kalau itu keputusanmuu,aku tak akan memaksamu lagi.
aku selalu berdoa demi kebahagiaanmu dinJ”
“terimakasih naa J”
Aku memeluk erat sahabatku ini. Jujur, ingin sekali aku
menuruti perkataan Diana agar melupakan ‘pria’ itu. Namun apa daya, aku tak
bisa melakukannya~ semakin aku mencoba melupakan, semakin besar pula sayangku
terhadapnya.
****
Hari silih berganti, tak mengubah sedikitpun rasa sayangku
terhadap nya.
Aku begitu mencintainya. Pria yang telah 2tahun aku
kenal~ aku mencintainya dalam diam,
memperhatikannya walau selalu diabaikan dan..memberikan seutas senyum walau
sering tak dianggap. Namun aku tak menyerah, aku tetap akan
mempertahankan ini semua. . karna aku tau, semua akan indah pada waktunya
Bel Istirahaat berbunyi~ semua anak berlomba lomba menuju
kantin. Namun lain denganku. Aku lebih suka menghabiskan waktu istirahatku
disini, dikelas ini. Bukan karna aku tak punya uang buat jajan, tapi karna memang aku merasa nyaman dibalik jendela ini.
Tempat Dimana Aku bisa dengan bebas memandangi langitt biru yang membentang
luas , disertai keberadaan awan serta matahari yang memperindahnya,
dan...dimana aku juga bisa dengan bebas memandanginsosok yang berada ditengah
lapangan sana. Seorang pria yang sedang memainkan bola basket dengan piawai ini
mampu menarik perhatianku bak magnet yang menarik pakupaku. Aku memandangi
lekuk wajahnya. Memandangi senyumnya, menandangi tingkah lakunya memandangi
betapa sempurnanya dia dimataku.
“jadi pengagum rahasia mulu, ngga cape?”
Ucap seseorang yang tibatiba berada disampingku.
“engga” jawabku santai
“mau sampai kapannunggu Rafi?”
Aku terdiam untuk beberapa saat. . Rafi? Dialah pria itu. Pria yang telah mencuri hati
aku sejak dua tahun lalu, pria yang selalu tak pernah peduli kepadaku
“sampai aku mati mungkin” jawabku kepada seseorang itu yang
tak lain diana.sahabtku
“salut banget sama kamu din, rela nahan sakit, rela mbuang
mbuang masa remaja kamu demi menunggu orang yangg ngga penting, orang yang ngga
peduli dan orang yang menganggap ada keberadaanmu. Sedangkan disana, banyak
sekali pria yang mencintai kamu”
“ah kamu ngomong apa sih na? Akunya aja fine fine aja kok.
Lagian Diluar sana juga banyak kok yang ngerasain kaya aku.” Jawabku dengan
pandangan yang masih mengarah pada cowok yang sekarang sedang berebut bola
basket dilapangan sana.iya siapa lagi kalau bukan rafi~
“memang, banyak orang yang diluar sana menjadi pengagum
rahasia kaya kamu. Tapi yang sanggup bertahan selama ini? Aku rasa Cuma kamu
dindaa ..”
Aku tak menggubris perkataan sahabatku dinda yang menurutku
tidak penting. Namun aku tau, dibalik semua perkataan dinda terhadapku,
tersimpan kepedulian yang mendalam. Dia tak ingin melihatku terus menjadi
‘pengagum rahasia’ seperti ini. Namun, apa boleh buat ini lah prinsipku, inilah
kemauanku. Dan.. prinsip tetaplah prinsip .Tak bisa diganggu gugat.
****
Matahari telah terbenam yang berarti menandakan bahwa sang
mentari telahselesai menjalankan
tugasnya. Sekarang giliran sang bintang dan rembulan lah yang akan bertugas
menyinari, menerangi dan memperindah alam semesta ini.
Aku membolak balikan ponselku sedari tadi. Menekankan
beberapa angka dan sesekali menekankan tombol ‘call’ lalu mematikannya kembali
. aku melakukan itu berulanag kali -Bingung- apa yang akan aku katakan
jika telah terhubung dengan nomor tadi? Bertanya ‘kau sedang apa?’ ‘kau sudah
makan?’ atau bahkan ‘kau sudah
mengerjakan tugas hari ini?’ ah
tidak. Itu pertanyaan yang teramat bodoh menurutku. Aku memandangi nomor tadi
i, lalu kuatur nafasku sejenak dan mulai menekankan tombol ‘call’ kembali.
Namun kali ini aku bertekad untuk tidak mematikannya lagi.
Alunan lagu Heal The World – Mikhael Jacson mengalun
membuatku menikmati lagu ini dan menghilangkan rasa cemas yang sedari tadi
menimpaku. Namun sesaat aku merasakan alunan lagu itu tak terdengar lagi . dann
...
“Halo”
DEG!!! Suara itu.. suara itu... ah!aku terdiam bak patung mendengar
suara itu, suara pemilik hatiku beberapa tahun silam. Siapa lagi kalau bukan
rafi~
“haloo”
“haloo”
Orang disebrang sana telah mengulang kata ‘halo’ kesekian
kalinya. Aku mendengarnya .. namun apa daya, bibir ini terasa enggan
digerakan.. masih tak menyangka bahwa diriku sedang..menelponnya.
“halo..kalo kau tetap
diam akumatikan telfonya!” ucap rafi disebrang sana
“jangan” entah ada dorongan apa aku bisa mengatakan kata
tersebut.
“nah gitu kek, siapa
yaa?”
“halo.. siapa disana?” orang itu mengulang pertanyaanya
sekali lagi. Sedangkan aku? Aku mencoba mengatur nafasku untuk memulai
pembicaraan dengan orang disebrang telepon sana.
“a..aku dinda” ucapku berusaha sebiasa mungkin
“dinda kelas XI IPA 1 kah?”
“kau kenal aku?”
“tentu. Kamu yang waktu kelas X pernah nungguin
hujanhujan’an bareng aku kan?”
“kau masih ingat itu?”
“tentu. aku ngga akan pernah ngelupain kejadian itu.karna
kejadian itulah aku tak lagi takut akan air hujan. dan itu karena kau dindaa..”
#FlashbackOn#
Aku duduk sendirian memandangi deras air hujan yang
mengguyur kota bandung ini. Aku memandangi tetes demi tetes air . aku suka hujan . bagiku, hujan adalah
tetesan air yang jatuh bergantian . memperindah bentangan langit dan
menenangkan jiwa. Aku menengok ke arah
jam tangan pemberian ibu. Jam 16.00. yang berati sudah 2 jam yang lalu bel
pulang dibunyikan. Dan artinya, telah 2 jam pula aku duduk disini hanya demi untuk
menikmati indahnya hujan~. Aku senang~ aku menikmatinya. Sungguh menikmatinya..
“Kok belum pulang?” tanya seorang pria yang tiba tiba berada
di sampingku”
Aku melirik sejenak kearah pria itu. Dari sseragam yang ia
kenakan, ia satu sekolah dengan ku. Namun, aku tak pernah melihat pria ini
–Pria Cool– ini disekolah. “Lagi menikmati hujan” jawabku apa adanya
“menikmati hujan?”
“iya, aku suka hujan. bukankah kau juga begitu?”
“tidak. Aku ngga pernah suka hujan. bahkan aku benci hujan:”
Aku kaget.aku menatapnya sejenak~ benci hujan? bagaimana
bisa ia membenci anugerah Tuhan yang begitu membuat nyaman ini?
“kenapa? Bukankah hujan itu mengasikan?” tanyaku penasaran
“mengasikan?cish. bagiku, hujan hanyalah penghalang bagi
manusia. Jalan jadi becek, sungai jadi menguap dan.. seperti sekarang ini. Aku
tak bisa pulang kerumah hanya karna hujan”
“hanya begitukah alasanmu? Kamu salah dalam mengartikan
hujan. Lihatlah tetesan tetesan air itu, mereka berjatuhan bergantian sesuai
tempo. Mereka jatuh silih berganti membasahi apapun yang ada dibawahnya,
menciptakan suara yang begitu unik. Bukankah itu membuat nyaman? Ayo
hujan-hujanan bareng aku. Aku akan buktikan bahwa hujan tak seburuk apa yang
kamu pikirkan” aku menarik cepat lengan pria ini. Pria ini pasrah saja. Ia tak
punya waktu untuk berontak karna aku langsung menariknya begitu saja
“tak usah memikirkan kamu akan sakit setelah ini . buatlah
kamu nyaman dalam keadaan ini. Rasakan
setiap tetesan yang membasahimu. Percayalah~ ini sangat menyenangkan “
perintahku pada pria disampingku. Perlahan, kulihat dia sesekali memejamkan
matanya. Mencoba menuruti apa yang aku perintahkan tadi, mencoba menikmati
keadaan ini.
“kau benar! Ini sangat menyenangkan !” teriak pria
disampingku ini. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
“oh iya kita belum berkenalan. aku Rafi anak X IPA 3” ucap
pria ini seraya mengulurkan tangan
“dinda anak X IPA1 .
jangan benci hujan lagi yaJ“
ucapku seraya membalas uluran tangan pria yang bernama rafi ini.
“okeJ”
#FlashbackOff#
Aku terdiam. Masih tak menyangka apa yang terjadi sekarang .
aku menelfonnya ..dann..dia masih mengingatku? Bahkan masih mengingat kejadian
itu? Oh god! Mimpikah ini? Siapapun tolong jangan bangunkan aku saat ini
jikalau ini mimpi. aku menampar pipiku sendiri
memastikan bahwa aku sedang tak bermimpi dan .. “aw!”
“halo dindaa?kau kenapa?” suara orang disebrang telepon sana
“eh eng..engga” aku merutuki diriku sendiri. Bodoh bodoh
bodoh. Apa yang kamu lakukan dindaaa?kamu lagi telfon dengan siapa
sekarang?pliss jaga image kamu dikit kek. Aku memukul pelan kepalaku sendiri
lalu kuatur nafasku kembali
“oh yasudah, oh iyaa ngapain malem malem nelfon?”
“e.. e..” aku terdiam, memikirkan jawaban yang pas untuk
menjawab pertanyaan rafi satu ini. Jujur, aku pun tak tahu alasan kenapa aku
menelfonnya,, aku hanya sekedar ingin mendengar suaranya saja. Namun, apakah
aku harus jujur bahwa aku menelfonnya hanya sekedar ingin mendengar suaranya?ah
tentu aku masih waras dan tak akan menggunakan alasan itu. Otakku masih terus
berfikir mencari alasan yang pas.
“dindaa?”
“ehiya, aku nelfon kamu Cuma mau ndaftar ekskul PMR. Kamu
ketua nya kan?” jawabku spontan.
“ohh PMR, iya aku ketuanya.. besok istirahat pertama kamu ke
UKS aja, kebetulan sekali besok ada jadwal ekskul PMR, sekalian juga nanti kamu
perrkenalan juga”
10 menit sudah aku bercicara
dengannya. Lalu aku memilih untuk memutuskan sambunganku dengannya . Aku
tersenyum menatap lekat ponselku . Percakapan yang begitu singkat namun begitu
berarti .
Aku memandangi lekuk lekuk tubuhku didepan cermin kamarku ,
memastikan bahwa hari ini aku telah siap bertemu dengannya –Rafi– saat
istirahat berbunyi, aku menyuruh Diana untuk mengantarku ke UKS
Hari ini hari pertama aku mengikuti ekstrakulikuler PMR,
jujur aku tak begitu suka dengan masalah medis seperti ini. Namun apa boleh
buat, semalam aku telah mengatakan bahwa aku akan mengikuti PMR, yaaa inilah
resikonya. Aku menarik nafasku dalam dalam lalu kukeluarkan lagi. Aku melakukan
itu berlulang-ulang. Aku mengontrol nafasku agar tak canggung saat memasuki
ruang UKS, juga saat berbicaradengan Rafi. Setelah mengontrol nafas, aku langkahkan
kakiku memasuki UKS sedang Diana memilih untuk kembali ke kelas.
Setelah lama mengikuti PMR, aku pun kini telah terbiasa~ dan
karena PMR lah hubunganku dengan Rafi semakin dekat. Setidaknya sekarang selalu
tegur sapa saat berpaspasan, seringkali ngobrol yaa walaupun ngobrol masalah
“PMR”. Dalam sela sela kedekatanku, perbincanganku, aku tak pernah terlepas
untuk mencuricuri waktu untuk memandanginya. Dalam doa selalu keselipkan namamu
, dalam diam ku sebutsebut namamu, dan dalam hati aku menyimpan namamu lekat
lekat.
Aku mencintaimu dan kamu tak pernah tau akan itu!:)
Hari demi hari tak terasa dilalui dengan begitu cepat. Tak
terasa, sekarang aku telah duduk dibangku kelas XII. Besok, 17Juli tepat 3tahun
aku menyukainya. 3 tahun? Ah sebegitu cepatkah waktu 3tahun itu? Perasaan
rasanya baru kemarin aku mengenalnya. Tapi tak taunya?udah 3tahun saja. Betapa
cepatnyaa..
Namun, Semenjak naik kelas XII , aku merasa ada yang berbeda
pada diriku sendiri. Aku merasa sekarang mulai gampang lelah dan seringkali
pingsan tibatiba. Sempat saat itu aku pingsan
saat ingin menuruni tangga rumah . dan mamah segera membawaku ke rumah
sakit. Aku sempat bertanya pada mamah tentang apa yang terjadi terhadapku.
Namun syukurlah, mamah bilang aku tak mengidap penyakit yang serius. Hanya
darah rendah saja yang itupun hanya dalam jangka waktu sementara .
**
Hari ini, aku dengar ada pertandingan bassket antar kelas XII
IPA 3 vs XII IPS2. Mataku seketika melebar ketika mendengar kata “XI IPA”
bagaimana tidak? Itu adalah kelas dia! Energiku seakan langsung terisi dan
segera menggandeng Diana kearah lapangan belakang dan memilih tempat ‘terdepan’
. aku tak ingin melewati momen ini. Momen dimana aku bisa Memandang mimik wajah
cool dia secara dekat. Meskipun ia tak pernah tau bahwa aku ..’memperhatikanya!’
Pertandinganpun segera dimulai. Aku bersorak gembira. Aku
senang saat saat seperti ini. Saat dimana aku bisa berada pada barisan terdepan
dan dapat dengan bebas memandangi sang
pangeranku.
Aku memerhatikan gerak-gerik nya dengan seksama. Aku
terpukau! Kepiawaian dia dalam mengoperkan dan memasukan bola diatas Ring
berhasil membuatku tak berkedip. Namun
sesaat aku merasa ada sesuatu yang mulai mendekat ke arahku , dan..
“BUKK!” sebuah
bola basket mengarah tepat dikeningku. Aku pusing dan sesaat semua hitam. Aku
tak dapat merasakan apa apa lagi. –Aku pingsan–
**
Perlahan, mataku mulai dapat menerima serpihan cahaya lampu
ruangan. Aku tak tau dimana sekarang aku berada. Aku mulai membuka mata, lalu
sekejap aku baru mengenal tempat ini. Ruang UKS. Aku melihat Diana tertidur
disampingku dan kulihat pula seorang pria yang berada dibelakang Diana, aku tak
bisa mengenali pria itu karna memang pria ini dalam posisi menenggelamkan
kepalanya.
“Na..” panggilku
“dindaa.. kamu udah siuman?”
“aku pusing na, ambilin obat aku ditas na..”
“Rafi! Tolong oh ambilin tas Dinda di kelas.. ya.. ya..
pliss” suruh Diana pada rafi. Rafi memang berada diRuang UKS menungguiku siuman
bersama Diana. Bukan karna ada perasaan atau gimana, mungkin Rafi berada disini
karena merasa bersalah karna yang menyebabkan aku seperti ini adalah dia.
–Dengan tidak sengaja–
“iya iya “ Rafi pun segera berlari menjalankan perintah
Diana.
Tak lama kemudian, Rafi kembali ke Ruang UKS membawa Tas
sekolahku. Diana langsung mengambil obat yang ada di Resleting depan tas ku.
Lalu meminumkannya untukku. Rafi yang
tak tahu menahu tentang obat itupun tak tinggal diam.
“obat apa itu din?”
“oh ini, obat Penderita darah rendah biar ngga pusing “
jawabku seadanya. Memang, setelah
pemeriksaan beberapa hari yang lalu dan aku divonis menderita darah rendah aku
dianjurkan untuk meminum obat ini secara teratur. Aku tak memikirkan apakah ini
benar adanya atau tidak.tapi yan`g jelas, aku hanya ingin menuruti omongan
mamah saja agar meminum obat ini.
Tak lama kemudian, Rafi
mengantarkanku pulang. Dengan alasan ia ingin menebus kesalahannya tadi. Aku
pun hanya mengiyakan saja. Selain karna memang mumpung ada kesempatan, aku
memang sedang malas jika harus pulang sendiri.
bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar