Selasa, 14 Januari 2014

Don't Be Let Go! -1-


Don't Be Let Go!

Part1

Author: Hasri Imroatul Izza




Aku terdiam dibalik jendela kelas. Memandangi tetesan air yang jatuh dari langit, tanpa memperhatikan sepatah kata pun yang diterangkan bu guru didepan.  Yaap! Hari ini sedang hujan. Daann..aku suka air hujan. Rasanya terasa sangat nyaman jika memandangi rintikan air yang jatuh silih berganti.
Ah sebenarnya bukan itu alasanku menyukai air hujan. Akan tetapi~ kejadian itu yang membuatku menyukai hujan. iya kejadian itu.kejadian dimana saat itu awal aku mengenalnya dan......jatuh cinta kepadanya. Aku tersenyum mengingat kejadian itu. Kejadian yang menurutku lucu tetapi juga..mengesankan.
Namun sayang senyumku lenyap begitu saja setelah sahabatku Diana memberitahuku bahwa si guru daritadi memperhatikaanku . okeyy~ kita lupakan sejenak kejadian itu.

****
Aku Dinda Anatasya atau biasa disapa dinda. Sekarang duduk di bangku kelas2 SMA diSMA favorit didaerah Bandung. Sedang Diana adalah sosok perempuan yang telah menjadi sahabatku sejak dua tahun lalu. Aku baru mengenal diana ini saat menginjakan kaki di SMA ini. Namun, tak jarang orang mengira bahwa kita telah bersahabat sejak lama atau bahkan ada juga yang mengira bahwa kita berdua anak kembar. Haha sempet ngakak juga sih , tapi yaa aku maklumin saja. Mungkin karena kita berdua memang udah kayak perangko sama surat yang bawaanya nempel mulu, ditambah juga penampilan kita yang samasama berhijab.
Aku salut banget sama Diana, ia tak pernah sekalipun bosan mendengar celotehanku yang  selalu aku ulang. Ia tak pernah lelah memberi semangat, memberi saran dan memberi motivasi u untukku . yaa..itulah yang namanya sahabat. Dapat menerima celotehan kita baik suka maupun duka <3

“Hey, lagi ngeliatin apaan sih?” cerocos diana yang kemudian langsung duduk sebelahku
“ngeliatin hujan” jawabku tanpa memalingkan mata dari arah jendela yang langsung terhadap lapangan basket.
“ngeliatin hujan atau orang yang berada ditengah derasan hujan?:p “ tebak diana
Aku terdiam. .
“sampai kapan kamu kayak gini terus din?”

“kayak gini? Kayak gini gimana na? Akau baik-baik aja kok J”jawabku seraya memamerkan senyum manisku
“aku tau kamu din, aku tau apa yang kamu rasain sebenarnya. Mau sampai kapan kamu mbohongin diri kamu sendiri? Mau sampai kapan kamu terus-terusan nahan sakit kaya gini? Mau sampai kapan din?”
Aku terdiam kembali. . . jujur, baru pertama kali aku mendengar Diana berkata seperti itu. Aku mencerna perkataan diana yang memang benar adanya.
“aku nggatau. .” hanya kata itu yang dapat terucap dari mulutku
“maaf din kalo ucapanku tadi menyinggungmu. Itu karna aku udah tak tega melihatmu terus-terusan kayak gini”
“nggada yang perlu dimaafin na, kamu ngga salah. Ucapan kamu benar. Aku memang bodoh.tapi jujur, aku lebih memilih kayak gini daripada harus ngelupain dia na.. itu terlalu sulit”
“tapi dia ngga pernah peduli sama kamu din, buka matamu .. masih banyak orang yang menunggumu diluar sana”
“tapi aku tak mencintai mereka”
“cobalah buka sedikit hati kamu untuk mereka”
“aku tetap ngga bisa na.. itu terlalu sulit”
“terus, apa yang akan kamu lakukan? Masih akan terus menunggu dia yang tak peduli terhadapmuu?”
“heem” aku menganggukan kepalaku.
“baiklah kalau itu keputusanmuu,aku tak akan memaksamu lagi. aku selalu berdoa demi kebahagiaanmu dinJ
“terimakasih naa J
Aku memeluk erat sahabatku ini. Jujur, ingin sekali aku menuruti perkataan Diana agar melupakan ‘pria’ itu. Namun apa daya, aku tak bisa melakukannya~ semakin aku mencoba melupakan, semakin besar pula sayangku terhadapnya.


****
Hari silih berganti, tak mengubah sedikitpun rasa sayangku terhadap nya.
Aku begitu mencintainya. Pria yang telah 2tahun aku kenal~  aku mencintainya dalam diam, memperhatikannya walau selalu diabaikan dan..memberikan seutas senyum walau sering tak dianggap. Namun aku tak menyerah, aku tetap akan mempertahankan ini semua. . karna aku tau, semua akan indah pada waktunya 

Bel Istirahaat berbunyi~ semua anak berlomba lomba menuju kantin. Namun lain denganku. Aku lebih suka menghabiskan waktu istirahatku disini, dikelas ini. Bukan karna aku tak punya uang buat jajan, tapi karna  memang aku merasa nyaman dibalik jendela ini. Tempat Dimana Aku bisa dengan bebas memandangi langitt biru yang membentang luas , disertai keberadaan awan serta matahari yang memperindahnya, dan...dimana aku juga bisa dengan bebas memandanginsosok yang berada ditengah lapangan sana. Seorang pria yang sedang memainkan bola basket dengan piawai ini mampu menarik perhatianku bak magnet yang menarik pakupaku. Aku memandangi lekuk wajahnya. Memandangi senyumnya, menandangi tingkah lakunya memandangi betapa sempurnanya dia dimataku. 

“jadi pengagum rahasia mulu, ngga cape?”
Ucap seseorang yang tibatiba berada disampingku.
“engga” jawabku santai

“mau sampai kapannunggu Rafi?”
Aku terdiam untuk beberapa saat. . Rafi?  Dialah pria itu. Pria yang telah mencuri hati aku sejak dua tahun lalu, pria yang selalu tak pernah peduli kepadaku

“sampai aku mati mungkin” jawabku kepada seseorang itu yang tak lain diana.sahabtku

“salut banget sama kamu din, rela nahan sakit, rela mbuang mbuang masa remaja kamu demi menunggu orang yangg ngga penting, orang yang ngga peduli dan orang yang menganggap ada keberadaanmu. Sedangkan disana, banyak sekali pria yang mencintai kamu”

“ah kamu ngomong apa sih na? Akunya aja fine fine aja kok. Lagian Diluar sana juga banyak kok yang ngerasain kaya aku.” Jawabku dengan pandangan yang masih mengarah pada cowok yang sekarang sedang berebut bola basket dilapangan sana.iya siapa lagi kalau bukan rafi~

“memang, banyak orang yang diluar sana menjadi pengagum rahasia kaya kamu. Tapi yang sanggup bertahan selama ini? Aku rasa Cuma kamu dindaa ..”
Aku tak menggubris perkataan sahabatku dinda yang menurutku tidak penting. Namun aku tau, dibalik semua perkataan dinda terhadapku, tersimpan kepedulian yang mendalam. Dia tak ingin melihatku terus menjadi ‘pengagum rahasia’ seperti ini. Namun, apa boleh buat ini lah prinsipku, inilah kemauanku. Dan.. prinsip tetaplah prinsip .Tak bisa diganggu gugat.

****
Matahari telah terbenam yang berarti menandakan bahwa sang mentari telahselesai  menjalankan tugasnya. Sekarang giliran sang bintang dan rembulan lah yang akan bertugas menyinari, menerangi dan memperindah alam semesta ini. 
Aku membolak balikan ponselku sedari tadi. Menekankan beberapa angka dan sesekali menekankan tombol ‘call’ lalu mematikannya kembali  . aku melakukan itu berulanag kali -Bingung- apa yang akan aku katakan jika telah terhubung dengan nomor tadi? Bertanya ‘kau sedang apa?’  ‘kau sudah makan?’ atau bahkan ‘kau sudah mengerjakan  tugas hari ini?’ ah tidak. Itu pertanyaan yang teramat bodoh menurutku. Aku memandangi nomor tadi i, lalu kuatur nafasku sejenak dan mulai menekankan tombol ‘call’ kembali. Namun kali ini aku bertekad untuk tidak mematikannya lagi.
Alunan lagu Heal The World – Mikhael Jacson mengalun membuatku menikmati lagu ini dan menghilangkan rasa cemas yang sedari tadi menimpaku. Namun sesaat aku merasakan alunan lagu itu tak terdengar lagi . dann ...

“Halo”
DEG!!! Suara itu.. suara itu... ah!aku terdiam bak patung mendengar suara itu, suara pemilik hatiku beberapa tahun silam. Siapa lagi kalau bukan rafi~

“haloo”

“haloo”
Orang disebrang sana telah mengulang kata ‘halo’ kesekian kalinya. Aku mendengarnya .. namun apa daya, bibir ini terasa enggan digerakan.. masih tak menyangka bahwa diriku sedang..menelponnya.

“halo..kalo  kau tetap diam akumatikan telfonya!” ucap rafi disebrang sana

“jangan” entah ada dorongan apa aku bisa mengatakan kata tersebut.

“nah gitu kek, siapa  yaa?”

“halo.. siapa disana?” orang itu mengulang pertanyaanya sekali lagi. Sedangkan aku? Aku mencoba mengatur nafasku untuk memulai pembicaraan dengan orang disebrang telepon sana.

“a..aku dinda” ucapku berusaha sebiasa mungkin

“dinda kelas XI IPA 1 kah?”

“kau kenal aku?”

“tentu. Kamu yang waktu kelas X pernah nungguin hujanhujan’an bareng aku kan?”

“kau masih ingat itu?”

“tentu. aku ngga akan pernah ngelupain kejadian itu.karna kejadian itulah aku tak lagi takut akan air hujan. dan itu karena kau dindaa..”

#FlashbackOn#
Aku duduk sendirian memandangi deras air hujan yang mengguyur kota bandung ini. Aku memandangi tetes demi tetes air . aku suka hujan . bagiku, hujan adalah tetesan air yang jatuh bergantian . memperindah bentangan langit dan menenangkan jiwa.  Aku menengok ke arah jam tangan pemberian ibu. Jam 16.00. yang berati sudah 2 jam yang lalu bel pulang dibunyikan. Dan artinya, telah 2 jam pula aku duduk disini hanya demi untuk menikmati indahnya hujan~. Aku senang~ aku menikmatinya. Sungguh menikmatinya..
“Kok belum pulang?” tanya seorang pria yang tiba tiba berada di sampingku”
Aku melirik sejenak kearah pria itu. Dari sseragam yang ia kenakan, ia satu sekolah dengan ku. Namun, aku tak pernah melihat pria ini –Pria Cool– ini disekolah. “Lagi menikmati hujan” jawabku apa adanya

“menikmati hujan?”

“iya, aku suka hujan. bukankah kau juga begitu?”

“tidak. Aku ngga pernah suka hujan. bahkan aku benci hujan:”
Aku kaget.aku menatapnya sejenak~ benci hujan? bagaimana bisa ia membenci anugerah Tuhan yang begitu membuat nyaman ini?

“kenapa? Bukankah hujan itu mengasikan?” tanyaku penasaran

“mengasikan?cish. bagiku, hujan hanyalah penghalang bagi manusia. Jalan jadi becek, sungai jadi menguap dan.. seperti sekarang ini. Aku tak bisa pulang kerumah hanya karna hujan”

“hanya begitukah alasanmu? Kamu salah dalam mengartikan hujan. Lihatlah tetesan tetesan air itu, mereka berjatuhan bergantian sesuai tempo. Mereka jatuh silih berganti membasahi apapun yang ada dibawahnya, menciptakan suara yang begitu unik. Bukankah itu membuat nyaman? Ayo hujan-hujanan bareng aku. Aku akan buktikan bahwa hujan tak seburuk apa yang kamu pikirkan” aku menarik cepat lengan pria ini. Pria ini pasrah saja. Ia tak punya waktu untuk berontak karna aku langsung menariknya begitu saja

“tak usah memikirkan kamu akan sakit setelah ini . buatlah kamu nyaman dalam keadaan ini.  Rasakan setiap tetesan yang membasahimu. Percayalah~ ini sangat menyenangkan “ perintahku pada pria disampingku. Perlahan, kulihat dia sesekali memejamkan matanya. Mencoba menuruti apa yang aku perintahkan tadi, mencoba menikmati keadaan ini.

“kau benar! Ini sangat menyenangkan !” teriak pria disampingku ini. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“oh iya kita belum berkenalan. aku Rafi anak X IPA 3” ucap pria ini seraya mengulurkan tangan

“dinda anak  X IPA1 . jangan benci hujan lagi yaJ“ ucapku seraya membalas uluran tangan pria yang bernama rafi ini.

“okeJ
#FlashbackOff#

Aku terdiam. Masih tak menyangka apa yang terjadi sekarang . aku menelfonnya ..dann..dia masih mengingatku? Bahkan masih mengingat kejadian itu? Oh god! Mimpikah ini? Siapapun tolong jangan bangunkan aku saat ini jikalau ini mimpi. aku menampar pipiku sendiri  memastikan bahwa aku sedang tak bermimpi dan .. “aw!”

“halo dindaa?kau kenapa?” suara orang disebrang telepon sana

“eh eng..engga” aku merutuki diriku sendiri. Bodoh bodoh bodoh. Apa yang kamu lakukan dindaaa?kamu lagi telfon dengan siapa sekarang?pliss jaga image kamu dikit kek. Aku memukul pelan kepalaku sendiri lalu kuatur nafasku kembali

“oh yasudah, oh iyaa ngapain malem malem nelfon?”

“e.. e..” aku terdiam, memikirkan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan rafi satu ini. Jujur, aku pun tak tahu alasan kenapa aku menelfonnya,, aku hanya sekedar ingin mendengar suaranya saja. Namun, apakah aku harus jujur bahwa aku menelfonnya hanya sekedar ingin mendengar suaranya?ah tentu aku masih waras dan tak akan menggunakan alasan itu. Otakku masih terus berfikir mencari alasan yang pas.

“dindaa?”

“ehiya, aku nelfon kamu Cuma mau ndaftar ekskul PMR. Kamu ketua nya kan?” jawabku spontan.
“ohh PMR, iya aku ketuanya.. besok istirahat pertama kamu ke UKS aja, kebetulan sekali besok ada jadwal ekskul PMR, sekalian juga nanti kamu perrkenalan  juga”
10 menit sudah aku bercicara dengannya. Lalu aku memilih untuk memutuskan sambunganku dengannya . Aku tersenyum menatap lekat ponselku .  Percakapan yang begitu singkat namun begitu berarti .


Aku memandangi lekuk lekuk tubuhku didepan cermin kamarku , memastikan bahwa hari ini aku telah siap bertemu dengannya –Rafi– saat istirahat berbunyi, aku menyuruh Diana untuk mengantarku  ke  UKS
Hari ini hari pertama aku mengikuti ekstrakulikuler PMR, jujur aku tak begitu suka dengan masalah medis seperti ini. Namun apa boleh buat, semalam aku telah mengatakan bahwa aku akan mengikuti PMR, yaaa inilah resikonya. Aku menarik nafasku dalam dalam lalu kukeluarkan lagi. Aku melakukan itu berlulang-ulang. Aku mengontrol nafasku agar tak canggung saat memasuki ruang UKS, juga saat berbicaradengan Rafi. Setelah mengontrol nafas, aku langkahkan kakiku memasuki UKS sedang Diana memilih untuk kembali ke kelas.
Setelah lama mengikuti PMR, aku pun kini telah terbiasa~ dan karena PMR lah hubunganku dengan Rafi semakin dekat. Setidaknya sekarang selalu tegur sapa saat berpaspasan, seringkali ngobrol yaa walaupun ngobrol masalah “PMR”. Dalam sela sela kedekatanku, perbincanganku, aku tak pernah terlepas untuk mencuricuri waktu untuk memandanginya. Dalam doa selalu keselipkan namamu , dalam diam ku sebutsebut namamu, dan dalam hati aku menyimpan namamu lekat lekat. Aku mencintaimu dan kamu tak pernah tau akan itu!:)



Hari demi hari tak terasa dilalui dengan begitu cepat. Tak terasa, sekarang aku telah duduk dibangku kelas XII. Besok, 17Juli tepat 3tahun aku menyukainya. 3 tahun? Ah sebegitu cepatkah waktu 3tahun itu? Perasaan rasanya baru kemarin aku mengenalnya. Tapi tak taunya?udah 3tahun saja. Betapa cepatnyaa..
Namun, Semenjak naik kelas XII , aku merasa ada yang berbeda pada diriku sendiri. Aku merasa sekarang mulai gampang lelah dan seringkali pingsan tibatiba. Sempat saat itu aku pingsan  saat ingin menuruni tangga rumah . dan mamah segera membawaku ke rumah sakit. Aku sempat bertanya pada mamah tentang apa yang terjadi terhadapku. Namun syukurlah, mamah bilang aku tak mengidap penyakit yang serius. Hanya darah rendah saja yang itupun hanya dalam jangka waktu sementara .

**
Hari ini, aku dengar ada pertandingan bassket antar kelas XII IPA 3 vs XII IPS2. Mataku seketika melebar ketika mendengar kata “XI IPA” bagaimana tidak? Itu adalah kelas dia! Energiku seakan langsung terisi dan segera menggandeng Diana kearah lapangan belakang dan memilih tempat ‘terdepan’ . aku tak ingin melewati momen ini. Momen dimana aku bisa Memandang mimik wajah cool dia secara dekat. Meskipun ia tak pernah tau  bahwa aku ..’memperhatikanya!’
Pertandinganpun segera dimulai. Aku bersorak gembira. Aku senang saat saat seperti ini. Saat dimana aku bisa berada pada barisan terdepan dan dapat dengan bebas memandangi sang pangeranku.
Aku memerhatikan gerak-gerik nya dengan seksama. Aku terpukau! Kepiawaian dia dalam mengoperkan dan memasukan bola diatas Ring berhasil membuatku tak berkedip.  Namun sesaat aku merasa ada sesuatu yang mulai mendekat ke arahku , dan..
“BUKK!” sebuah bola basket mengarah tepat dikeningku. Aku pusing dan sesaat semua hitam. Aku tak dapat merasakan apa apa lagi. –Aku pingsan–

**
Perlahan, mataku mulai dapat menerima serpihan cahaya lampu ruangan. Aku tak tau dimana sekarang aku berada. Aku mulai membuka mata, lalu sekejap aku baru mengenal tempat ini. Ruang UKS. Aku melihat Diana tertidur disampingku dan kulihat pula seorang pria yang berada dibelakang Diana, aku tak bisa mengenali pria itu karna memang pria ini dalam posisi menenggelamkan kepalanya.

“Na..” panggilku

“dindaa.. kamu udah siuman?”

“aku pusing na, ambilin obat aku ditas na..”

“Rafi! Tolong oh ambilin tas Dinda di kelas.. ya.. ya.. pliss” suruh Diana pada rafi. Rafi memang berada diRuang UKS menungguiku siuman bersama Diana. Bukan karna ada perasaan atau gimana, mungkin Rafi berada disini karena merasa bersalah karna yang menyebabkan aku seperti ini adalah dia. –Dengan tidak sengaja–

“iya iya “ Rafi pun segera berlari menjalankan perintah Diana.
Tak lama kemudian, Rafi kembali ke Ruang UKS membawa Tas sekolahku. Diana langsung mengambil obat yang ada di Resleting depan tas ku. Lalu meminumkannya untukku.  Rafi yang tak tahu menahu tentang obat itupun tak tinggal diam.

“obat apa itu din?”

“oh ini, obat Penderita darah rendah biar ngga pusing “ jawabku seadanya.  Memang, setelah pemeriksaan beberapa hari yang lalu dan aku divonis menderita darah rendah aku dianjurkan untuk meminum obat ini secara teratur. Aku tak memikirkan apakah ini benar adanya atau tidak.tapi yan`g jelas, aku hanya ingin menuruti omongan mamah saja agar meminum obat ini.
Tak lama kemudian, Rafi mengantarkanku pulang. Dengan alasan ia ingin menebus kesalahannya tadi. Aku pun hanya mengiyakan saja. Selain karna memang mumpung ada kesempatan, aku memang sedang malas jika harus pulang sendiri.

bersambung..
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar