Senin, 13 Januari 2014

Near. -Part2-



Near
PART 2.
Author : Hasri Imroatul Izza
Follow @izzayaaku
Tinggalkan jejak dengan like dan coment ya:) jangan jadi pembaca gelap:p
Kritik dan saran ditunggu :))


 Tasya melirik jam tangan biru dongker yang melingkar dipergelangan tangan kiri’nya. Tertuliskan pukul 15:03.
‘cisshh. Udah 1jam lebih gadis ini duduk ditemani satu buku tipis yang sedari tadi lumayan membuatnya tak lagi gerah. Yeah. Hari ini memang hari apes baginya, mungkin saat ini dewi fortuna bukan berada dipihaknya.

“sampai kapan mau disini?”

Tasya mendongakkan kepalanya. Mencari tau darimana asal suara yang sepertinya berbicara kepadanya. Diddepannya, terdapat lelaki dengan motor cagiva merah miliknya. Namun, tasya masih belum bisa mengetahui siapakah gerangan manusia ini karena wajahnya tertutup oleh helm full face yang ia kenakan.  Tasya masih diam tak bergeming. Sesaat kemudian, pria ini membuka kaca helmnya sehingga saat ini Tasya bisa dengan mudah mengetahui siapakah gerangan sosok yang ada didepannya. Daan..

“Difa?”

Gadis ini masih tak bergedip mengetahui bahwa sosok yang ada di depannya ssaat ini adalah difa, sahabatnya sendiri. Tasya masih tak bergeming dengan mulut membuka.  Ia masih kaget rupanya. Namun, ia bukanlah kaget karna melihat Difa yang berada didepannya. Namun ‘bagaimanakah difa tau kalau saat ini Tasya berada disini? Ikatan batinkah? Ah entahlaah.


“mau sampai kapan ngelamun terus?”

“kok lo tau gue disini?”

Tanya Tasya yang sama sekali tak menghiraukan pertanyaan difa. Terlihat yang ditanya melengos nafas panjang..

“jelaslah gue tau. Bokap nyokap lo ngga bakal ada waktu buat lo karna mereka selalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. kakak lo? Dia juga ngga bakal njemput lo karna saat ini dia lagi sibuk nyelesein scripsi. Sedang saat ini lo ngga bawa hp jadi ngga bisa nelfon Andri, salsha aau gue. Iyakan?”

Tasya tercengang. Bagaimana Difa tau sampai sedetail itu? Ah namanya juga sahabat dari SD wajar kalau dia tau. Tasya tak memikirkan ini terlalu dalam.

“tapi..bukannya lo masih kesel sama gue? Sedari dikelas aja lo ndiemin gue.”

“se-kesel – keselnya gue tetep ngga akan tega ngeliat sahabat ceweknya sendirian, panas-panasan , desek-desek’an sampai keringetan kaya  babi abis mandi gini”
Ucapnya bercanda namun keliatan sangat ketus. Sedang Tasya hanya melengos.beginilah sifat sahabatnya.

“lo masih kesel ya? Maaf. Gue..”

“berhenti ngucapin kata maaf. Gue ngga marah. Buruan naik. Panas tau ngga-__-“

“yaya”

‘BRMMM’
Motoor yang dikendarai Difa pun kini telah melaju kearah tujuannya yang entah akan kemana.
Ramainya jalanan ibukota tak menghalangi laju motor ini. Ia masih bisa terselamatkan dari penyakit andalan yang menimpa kota Jakarta. Yah ia masih bisa terselamatkan dari ‘kemacetan’ . tentunyaa karna saat ini ia mengendari kendaraan roda dua. Sehingga dengan mudahnya ia menyelip dan meliuk-liukan motornya dari kendaraan-kendaraan didepannya. Sudah merupakan hal yang wajar tentunya.

**

‘Tap Tap Tap’


Suara sepasang kaki langkah beriringan memasuki bangunan yang besar dan mewah ini.  Terlihat sekali bahwa saat ini orang ini menarik paksa orang disebelahnya. Sedang yang ditarik tak berhenti untuk mengeluarkan kekesalannya karna perlakuan temannya ini.


Ia tak berhenti menanyakan maksud orang disampingnya mengapa ia mengejaknya ke tempat besar mewah dan dikunjungi banyak orang yang tak lain, mall ini. Kenapa ia mengajaknya kesini? Mengapa ia mengajaknya kesini saat kondisi ‘pakaian’nya sedang tergolong berantakan bak babi dimandiin?  Terlihat sekali pengunjung-pengunjung sesekali menoleh kearah 2sejoli ini. Eh lebih tepatnya ‘gadis berkeringat’ ini._. Gadis ini masih tak mengerti dan masih terus berontak.


“Tunggu disini.” Perintah seseorang yang sedari tadi menggeret tangannya saat berada didepan sebuah toko baju. Dan memasukinya. Mau apa? Entahlah.

“lo mau ngapain dif?” tanya gadis ini setengah berteriak pada sosok yang saat ini mulai menjauh yang tak lain sahabatnya sendiri, Difa. Sedang yang ditanya mendengar, namun hanya sebatas menoleh kearah  Tasya dan melemparkan seutas senyum. Apa maksudnya? Apakah ia akan memberikan hadiah kepada Tasya? Atau akan memberikan surprice untuknya? Tapi kan ulang tahun gadis ini masih 1bulan lagi. Ah sudahlah tak perlu berfikiran tingi karna jika jatuhh saakit.-.

‘sahabat yang penuh misteri’ Gumam  Tasya

Tak lama, Difa keluar seraya menenteng tas keresek berisikan apa tak tau.

“nih. Masuk kekamar ganti dan gantiseragam lo sama pakaian ini”
Difa menyerahkan keresek yang sedari tadi dibawanya. Dan menuruh tasya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang Difa belikan tentunya. Namun Tasya masih tak bergeming, ia hanya mengerutkan kening .

“gue tau baju lo basah kena keringet, gue juga tau kalo sedari tadi orang-orang mandangin lo. Maka dari itu gue ngajak lo kesini biar sekalian beli baju buat lo pakai. Sekarang lo pakai gih. Kamarpas ada diuju ng sana, setelah itu kita cari makan karna gue tau lo pasti belum makan”

Ucapan lelaki ini tadi telah berhasil membuat Tasya kaget. Difa membelikannya baju dan nanti akan mengajaknya makan? Tumben sekali dia peduli pada Tasya. Namun,  Memang tadi difa mengucapkan sederet kalimat yang secara tidak langsung mengartikan bahwa berarti ‘ia peduli’  dengan nada ketus seakan tak peduli seperti biasa. Namun tasya tau dibalik keketusan dia, Difa peduli terhadapnya.
Ia pun tak terlalu memikirkannya. Langkahnya melaju kearah ujung sesuai  dengan apa yang di instruksikan sahabatnya, Difa.

‘Tap Tap Tap’

Langkah kaki Tasya memasuki kios baju dan menuju kamar pas sesuai dengan yang Difa tunjuk  untuk mengganti seragamnya dengan pakaian yang telah dibelikan Difa tadi.


**

Seseorang mampu menghipnotis orang yang berada didepannya. Dengan langkah santai,  orang ini menuju ke arah seseorang disana yang tengah menunggunya.
Ia melangkahkan kakinya dengan santai seraya membawa keresek yang diyakin adalah baju seragamnya.

“hey” sapanya pada sosok lelaki yang sedari tadi memandangnya dengan tatapan yang entahlah.  Namun yang disapa masih diam seakan tak mendengar apapun.

“cantik” gumam lelaki ini pelan, bahkan sangat pelan. Ia sangat yakin bahwa perkataanya barusan tak akan didengar oleh siapapun. Karna ia mengucapkannya dengan teramat pelan.

“gue emang cantik dari dulu kalii:p matanya kedip dong:p” tak disangka, ternyata ucapan lelaki ini didengar oleh gadis didepannya yang tak lain Tasya. Lelaki ini tersadar dari lamunannya dan merutuki dirinya karena telah mengucapkan kata itu.

“apaan sih lo”

“oh jadi lo ngga kedip gitu karna terpesona dengan kecantikan gue yaa?haha”

“pede lo!! Gue heran aja  perasaan gue mbeliin baju lo baju yang paling murah dan jelek menurut gue deh. Tapi kenapa dipake lo bagus aja gitu. Heran aja”

“yang namanya cantik ya mau pake baju jelek kek murah kek kalo emang dasarnya cantik mau gimana lagi haha”

“stop ke PD’an-_- yuk ah cari makan. gue tau lo laper.”

“kita mau makan dimana?”

“udah ikut gue”


‘TapTap Tap’

Suara langkah beriringan menghasilkan suara yang tak sebegitu nyaring. Dua sahabat ini berjalan beriringan dengan tangan saling menyatu satu sama lain. Membuat siapapun yang melihat mereka sekarang pasti akan mengatakan bahwa mereka adalah lebih dari seorang sahabat.  Meski sebenarnya mereka hanya ‘sebatas sahabat’.

Karna dilihat dari fisiknya pun mereka berdua begitu serasi layaknya sepasang kekasih. Si  cewek  yang saat ini hanya mengenakan kaos berukuran besar warna softpink dengan jeans biru dongker panjang juga disertai rambut yang hanya digerai tak beraturan mampu membuat siapapun pria yang melihatnya seakan terhipnotis akan kecantikannya yang natural.  Sedang si cowok yang tak lain difa hanya mengenakan jeans hitam dengan jumper abu-abu yang menyelimuti tubuhnya. Hm sahabat yang begitu serasi._.

Langkah mereka berhenti disebuah Restoran sea food yang berada persis dibelakang mall ini. Mereka sengaja ke kedai sea food ini dengan berjalan kaki.. difa yang mengusulkan. Entah apa maksud dan tujuannya.

Dua sejoli ini segera memasuki restoran ini, mencari tempat yang kosong yang akan mereka duduki.
Langkah kaki beriringan berjalan menuju ke arah pojok kanan Restoran karna memang hanya tempat itulah yang tersisa.
Melihat raut wajah Tasya yang terlihat sekali menahan lapar, Difa pun memutuskan untuk segera memanggil sang pelayan guna  memesan beberapa makanan dan minuman yang diinginkan Tasya maupun dirinya.

“lo pesen apa sya?”
Difa menanyakan makanan apa yang ingin ia pesan pada gadis didepannya. Sedang yang ditanya, terlihat sedang sibuk sendiri merogoh tas lengannya. Mencari sesuatu yang entah apa tak tau.

“samain sama lo aja deh”
Jawab sang gadis yang tak lain Tasya ini tanpa menatap ataupun ha ya sekedar menoleh.
Difa pun akhirnya memesan 2  Udang bakar saus Tomat dan 2 just Alpukat untuk meinumannya. Setelah berbincang dengan sang pelayan untuk memesan, sesaat sang pelayan pun melangkahkan kakinya menuju kearah dapur mungkin (?)._-


Setelah kepergian pelayan, Difa tak henti menatap gadis didepannya sekarang.
Difa mengerutkan keningnya, menandakan bahwa ia sedang heran . ‘apa yang dilakukan tasya?’ ucap batinnya. Namun, ia tak lama otaknya pun bekerja dan menangkap sesuatu yang ia yakini adalah maslah yang Tasya hadapi saat ini. Dia pun memilih diam dan membuka ponselnya untuk menghilangkan penatnya.


“gue lupa ..”

“gue yang bayar” potong cepat Difa cepat yang sepertinya tau apa yang akan diucapkan Tasya, yah memang dia sedari tadi mencari sesuatu didalam tas lengan miliknya yang tak lain adalah dompet, dan gadis ini lupa tidak membawa dompet.
Kemudian, gadis ini menganggukan kepalanya dan kembali terdiam.


Hening. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut sepasang sahabat ini. Mereka terlarut dalam fikiran masing masing sepertinya. Entah apa yang membuat mereka menjadi saling canggung seperti ini. Padahal, sesaat sebelumnya masih terlontar beberapa lelucon ataupun katakata yang membuat mereka bisa tertawa lepas, tak seperti ini. Diam dan saling canggung satu sama lain.

“gue masih heran kenapa lo tadi bisa njemput gue dihalte. Padahal kan lo masih kesel sama gue?”

Tanya tasya mencoba menghentikan keheningan ini. Sedang yang ditanya, ia mendongakan kepalanya menatap tasya. Dan..

“perasaan lo dari tadi nanya itu mulu. Penting bgt ya gue jawab?”

“ya kan gue Cuma pengin tau aja udah”

Pria ini mengeloskan nafas berkali-kali..
“gue dirumah ngga tenang mikirin lo. Gue khawatir sama lo. Gue takut lo kenapa-kenapa. Gue peduli sama lo. Lo kan sahabat gue dari kecil, mau senyebelin apapun lo ya gue tetep peduli. Lagian kalo lo ilang, gue juga kan yang repot. Orang tua lo juga pasti nyalahin gue karna gue sahabat kecil lo. Iya kan?”

Ucap Difa dengan nada seperti biasa. Ketus. Meski dalam perkataannya tadi dia mengucap kata ‘peduli’ namun dilihat dari raut muka saat mengatakan kalimat tersebut sama sekali tak memancarkan kepedulian, ataupun raut ke’khawatiran dari raut wajahnya. Namun, ah sudahlaah Tasya sudah terbiasa mendapati hal ini.


**

“ngga mngkin!! Ngga mungkin!! Ini ngga mungkinnn!!!! Tuhan ini ngga mungkin!!”

Seseorang berteriak tak beraturan didalam kamarnyaa. Lebih tepatnya dalam kamar mandi kamarnya. Ia terus mengatakan ‘ngga mungkin!!!’ apa yang terjadi?
Dari raut wajahnyaa, siapapun tau bahwa gadis ini sedang mengalami masalah yang besar. Yah. Sangat besar.

2jam berlalu, namun tangis gadis ini tak kunjung mereda. Bahkan semakin deras hingga sesenggukan. Matanya yang tengah sembab tak berhentinya menatap sesuatu yang ia pegang sedari tadi.  Benda yang membuat dia shock.stres.dan frustasi.
Ia sangat shock saat ini. Air shower yang tumpah membasahi tubuhnya tak mengurangi kesembab’nya saat ini. Ia terus menangis dan menangis mengetahui apa yang terjadi saat ini. Yah fatal memang.

Ia terus menjerit sepuasnya karna ia tau saat ini rumahny masih dalam keadaan sepi, orangtua nya sedang pergi mengurusi bisnis yang entah kemana, adik satu-satunya yang tak kunjung pulang sekolah sampai saat ini dan pembantu yang sedang izin pulang kampung untuk beberapa hari kedepan.


‘Tap Tap Tap’

Terdengar suara langkah kaki yang sepertinya mengarah kearah tempat yang saat ini gadis ini tempati. Ia pun segera meredakan eh lebih tepatnya mencoba memelankan tangisanya. Gadis ini berusaha untuk menghentikan jalur air mata yang sedari tadi tak hentinya dilalui oleh butiran-butiran airmata. Ia  menatap benda yang sedari tadi berada dalam genggamanya yang tak lain merupakan benda terburuk yang pernah ia temukan. Dengan cepat ia segera menyembunyikan benda ini pada kantong belakang pada celana yang ia gunakan saat ini.
Berharap siapapun tak akan pernah mengetahui akan hal ini.

Bersambung...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar