Near
PART 2.
Author : Hasri Imroatul Izza
Follow @izzayaaku
Tinggalkan jejak dengan like dan coment ya:) jangan jadi
pembaca gelap:p
Kritik dan saran ditunggu :))
‘cisshh. Udah 1jam lebih gadis ini duduk ditemani satu buku tipis yang sedari tadi lumayan membuatnya tak lagi gerah. Yeah. Hari ini memang hari apes baginya, mungkin saat ini dewi fortuna bukan berada dipihaknya.
“sampai kapan mau disini?”
Tasya mendongakkan kepalanya. Mencari tau darimana asal suara yang sepertinya berbicara kepadanya. Diddepannya, terdapat lelaki dengan motor cagiva merah miliknya. Namun, tasya masih belum bisa mengetahui siapakah gerangan manusia ini karena wajahnya tertutup oleh helm full face yang ia kenakan. Tasya masih diam tak bergeming. Sesaat kemudian, pria ini membuka kaca helmnya sehingga saat ini Tasya bisa dengan mudah mengetahui siapakah gerangan sosok yang ada didepannya. Daan..
“Difa?”
Gadis ini masih tak bergedip mengetahui bahwa sosok yang ada
di depannya ssaat ini adalah difa, sahabatnya sendiri. Tasya masih tak
bergeming dengan mulut membuka. Ia masih
kaget rupanya. Namun, ia bukanlah kaget karna melihat Difa yang berada
didepannya. Namun ‘bagaimanakah difa tau kalau saat ini Tasya berada disini?
Ikatan batinkah? Ah entahlaah.
“mau sampai kapan ngelamun terus?”
“kok lo tau gue disini?”
Tanya Tasya yang sama sekali tak menghiraukan pertanyaan
difa. Terlihat yang ditanya melengos nafas panjang..
“jelaslah gue tau. Bokap nyokap lo ngga bakal ada waktu buat
lo karna mereka selalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. kakak lo? Dia juga
ngga bakal njemput lo karna saat ini dia lagi sibuk nyelesein scripsi. Sedang
saat ini lo ngga bawa hp jadi ngga bisa nelfon Andri, salsha aau gue. Iyakan?”
Tasya tercengang. Bagaimana Difa tau sampai sedetail itu? Ah
namanya juga sahabat dari SD wajar kalau dia tau. Tasya tak memikirkan ini
terlalu dalam.
“tapi..bukannya lo masih kesel sama gue? Sedari dikelas aja
lo ndiemin gue.”
“se-kesel – keselnya gue tetep ngga akan tega ngeliat
sahabat ceweknya sendirian, panas-panasan , desek-desek’an sampai keringetan
kaya babi abis mandi gini”
Ucapnya bercanda namun keliatan sangat ketus. Sedang Tasya
hanya melengos.beginilah sifat sahabatnya.
“lo masih kesel ya? Maaf. Gue..”
“berhenti ngucapin kata maaf. Gue ngga marah. Buruan naik.
Panas tau ngga-__-“
“yaya”
‘BRMMM’
Motoor yang dikendarai Difa pun kini telah melaju kearah
tujuannya yang entah akan kemana.
Ramainya jalanan ibukota tak menghalangi laju motor ini. Ia
masih bisa terselamatkan dari penyakit andalan yang menimpa kota Jakarta. Yah
ia masih bisa terselamatkan dari ‘kemacetan’ . tentunyaa karna saat ini ia
mengendari kendaraan roda dua. Sehingga dengan mudahnya ia menyelip dan
meliuk-liukan motornya dari kendaraan-kendaraan didepannya. Sudah merupakan hal
yang wajar tentunya.
**
‘Tap Tap Tap’
Suara sepasang kaki langkah beriringan memasuki bangunan
yang besar dan mewah ini. Terlihat
sekali bahwa saat ini orang ini menarik paksa orang disebelahnya. Sedang yang
ditarik tak berhenti untuk mengeluarkan kekesalannya karna perlakuan temannya
ini.
Ia tak berhenti menanyakan maksud orang disampingnya mengapa
ia mengejaknya ke tempat besar mewah dan dikunjungi banyak orang yang tak lain,
mall ini. Kenapa ia mengajaknya kesini? Mengapa ia mengajaknya kesini saat
kondisi ‘pakaian’nya sedang tergolong berantakan bak babi dimandiin? Terlihat sekali pengunjung-pengunjung
sesekali menoleh kearah 2sejoli ini. Eh lebih tepatnya ‘gadis berkeringat’
ini._. Gadis ini masih tak mengerti dan masih terus berontak.
“Tunggu disini.” Perintah seseorang yang sedari tadi
menggeret tangannya saat berada didepan sebuah toko baju. Dan memasukinya. Mau
apa? Entahlah.
“lo mau ngapain dif?” tanya gadis ini setengah berteriak
pada sosok yang saat ini mulai menjauh yang tak lain sahabatnya sendiri, Difa.
Sedang yang ditanya mendengar, namun hanya sebatas menoleh kearah Tasya dan melemparkan seutas senyum. Apa maksudnya?
Apakah ia akan memberikan hadiah kepada Tasya? Atau akan memberikan surprice
untuknya? Tapi kan ulang tahun gadis ini masih 1bulan lagi. Ah sudahlah tak
perlu berfikiran tingi karna jika jatuhh saakit.-.
‘sahabat yang penuh misteri’ Gumam Tasya
Tak lama, Difa keluar seraya menenteng tas keresek berisikan
apa tak tau.
“nih. Masuk kekamar ganti dan gantiseragam lo sama pakaian
ini”
Difa menyerahkan keresek yang sedari tadi dibawanya. Dan
menuruh tasya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang Difa belikan
tentunya. Namun Tasya masih tak bergeming, ia hanya mengerutkan kening .
“gue tau baju lo basah kena keringet, gue juga tau kalo
sedari tadi orang-orang mandangin lo. Maka dari itu gue ngajak lo kesini biar
sekalian beli baju buat lo pakai. Sekarang lo pakai gih. Kamarpas ada diuju ng
sana, setelah itu kita cari makan karna gue tau lo pasti belum makan”
Ucapan lelaki ini tadi telah berhasil membuat Tasya kaget.
Difa membelikannya baju dan nanti akan mengajaknya makan? Tumben sekali dia
peduli pada Tasya. Namun, Memang tadi
difa mengucapkan sederet kalimat yang secara tidak langsung mengartikan bahwa
berarti ‘ia peduli’ dengan nada ketus
seakan tak peduli seperti biasa. Namun tasya tau dibalik keketusan dia, Difa
peduli terhadapnya.
Ia pun tak terlalu memikirkannya. Langkahnya melaju kearah
ujung sesuai dengan apa yang di
instruksikan sahabatnya, Difa.
‘Tap Tap Tap’
Langkah kaki Tasya memasuki kios baju dan menuju kamar pas sesuai
dengan yang Difa tunjuk untuk mengganti
seragamnya dengan pakaian yang telah dibelikan Difa tadi.
**
Seseorang mampu menghipnotis orang yang berada didepannya.
Dengan langkah santai, orang ini menuju
ke arah seseorang disana yang tengah menunggunya.
Ia melangkahkan kakinya dengan santai seraya membawa keresek
yang diyakin adalah baju seragamnya.
“hey” sapanya pada sosok lelaki yang sedari tadi
memandangnya dengan tatapan yang entahlah.
Namun yang disapa masih diam seakan tak mendengar apapun.
“cantik” gumam lelaki ini pelan, bahkan sangat pelan. Ia sangat
yakin bahwa perkataanya barusan tak akan didengar oleh siapapun. Karna ia
mengucapkannya dengan teramat pelan.
“gue emang cantik dari dulu kalii:p matanya kedip dong:p”
tak disangka, ternyata ucapan lelaki ini didengar oleh gadis didepannya yang
tak lain Tasya. Lelaki ini tersadar dari lamunannya dan merutuki dirinya karena
telah mengucapkan kata itu.
“apaan sih lo”
“oh jadi lo ngga kedip gitu karna terpesona dengan
kecantikan gue yaa?haha”
“pede lo!! Gue heran aja
perasaan gue mbeliin baju lo baju yang paling murah dan jelek menurut
gue deh. Tapi kenapa dipake lo bagus aja gitu. Heran aja”
“yang namanya cantik ya mau pake baju jelek kek murah kek
kalo emang dasarnya cantik mau gimana lagi haha”
“stop ke PD’an-_- yuk ah cari makan. gue tau lo laper.”
“kita mau makan dimana?”
“udah ikut gue”
‘TapTap Tap’
Suara langkah beriringan menghasilkan suara yang tak
sebegitu nyaring. Dua sahabat ini berjalan beriringan dengan tangan saling
menyatu satu sama lain. Membuat siapapun yang melihat mereka sekarang pasti
akan mengatakan bahwa mereka adalah lebih dari seorang sahabat. Meski sebenarnya mereka hanya ‘sebatas
sahabat’.
Karna dilihat dari fisiknya pun mereka berdua begitu serasi
layaknya sepasang kekasih. Si cewek yang saat ini hanya mengenakan kaos berukuran
besar warna softpink dengan jeans biru dongker panjang juga disertai rambut
yang hanya digerai tak beraturan mampu membuat siapapun pria yang melihatnya
seakan terhipnotis akan kecantikannya yang natural. Sedang si cowok yang tak lain difa hanya
mengenakan jeans hitam dengan jumper abu-abu yang menyelimuti tubuhnya. Hm
sahabat yang begitu serasi._.
Langkah mereka berhenti disebuah Restoran sea food yang
berada persis dibelakang mall ini. Mereka sengaja ke kedai sea food ini dengan
berjalan kaki.. difa yang mengusulkan. Entah apa maksud dan tujuannya.
Dua sejoli ini segera memasuki restoran ini, mencari tempat
yang kosong yang akan mereka duduki.
Langkah kaki beriringan berjalan menuju ke arah pojok kanan
Restoran karna memang hanya tempat itulah yang tersisa.
Melihat raut wajah Tasya yang terlihat sekali menahan lapar,
Difa pun memutuskan untuk segera memanggil sang pelayan guna memesan beberapa makanan dan minuman yang
diinginkan Tasya maupun dirinya.
“lo pesen apa sya?”
Difa menanyakan makanan apa yang ingin ia pesan pada gadis
didepannya. Sedang yang ditanya, terlihat sedang sibuk sendiri merogoh tas
lengannya. Mencari sesuatu yang entah apa tak tau.
“samain sama lo aja deh”
Jawab sang gadis yang tak lain Tasya ini tanpa menatap
ataupun ha ya sekedar menoleh.
Difa pun akhirnya memesan 2
Udang bakar saus Tomat dan 2 just Alpukat untuk meinumannya. Setelah berbincang
dengan sang pelayan untuk memesan, sesaat sang pelayan pun melangkahkan kakinya
menuju kearah dapur mungkin (?)._-
Setelah kepergian pelayan, Difa tak henti menatap gadis
didepannya sekarang.
Difa mengerutkan keningnya, menandakan bahwa ia sedang heran
. ‘apa yang dilakukan tasya?’ ucap batinnya. Namun, ia tak lama otaknya pun
bekerja dan menangkap sesuatu yang ia yakini adalah maslah yang Tasya hadapi
saat ini. Dia pun memilih diam dan membuka ponselnya untuk menghilangkan penatnya.
“gue lupa ..”
“gue yang bayar” potong cepat Difa cepat yang sepertinya tau
apa yang akan diucapkan Tasya, yah memang dia sedari tadi mencari sesuatu
didalam tas lengan miliknya yang tak lain adalah dompet, dan gadis ini lupa
tidak membawa dompet.
Kemudian, gadis ini menganggukan kepalanya dan kembali
terdiam.
Hening. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut sepasang
sahabat ini. Mereka terlarut dalam fikiran masing masing sepertinya. Entah apa
yang membuat mereka menjadi saling canggung seperti ini. Padahal, sesaat
sebelumnya masih terlontar beberapa lelucon ataupun katakata yang membuat
mereka bisa tertawa lepas, tak seperti ini. Diam dan saling canggung satu sama
lain.
“gue masih heran kenapa lo tadi bisa njemput gue dihalte.
Padahal kan lo masih kesel sama gue?”
Tanya tasya mencoba menghentikan keheningan ini. Sedang yang
ditanya, ia mendongakan kepalanya menatap tasya. Dan..
“perasaan lo dari tadi nanya itu mulu. Penting bgt ya gue
jawab?”
“ya kan gue Cuma pengin tau aja udah”
Pria ini mengeloskan nafas berkali-kali..
“gue dirumah ngga tenang mikirin lo. Gue khawatir sama lo.
Gue takut lo kenapa-kenapa. Gue peduli sama lo. Lo kan sahabat gue dari kecil,
mau senyebelin apapun lo ya gue tetep peduli. Lagian kalo lo ilang, gue juga
kan yang repot. Orang tua lo juga pasti nyalahin gue karna gue sahabat kecil
lo. Iya kan?”
Ucap Difa dengan nada seperti biasa. Ketus. Meski dalam
perkataannya tadi dia mengucap kata ‘peduli’ namun dilihat dari raut muka saat
mengatakan kalimat tersebut sama sekali tak memancarkan kepedulian, ataupun
raut ke’khawatiran dari raut wajahnya. Namun, ah sudahlaah Tasya sudah terbiasa
mendapati hal ini.
**
“ngga mngkin!! Ngga mungkin!! Ini ngga mungkinnn!!!! Tuhan
ini ngga mungkin!!”
Seseorang berteriak tak beraturan didalam kamarnyaa. Lebih
tepatnya dalam kamar mandi kamarnya. Ia terus mengatakan ‘ngga mungkin!!!’ apa
yang terjadi?
Dari raut wajahnyaa, siapapun tau bahwa gadis ini sedang
mengalami masalah yang besar. Yah. Sangat besar.
2jam berlalu, namun tangis gadis ini tak kunjung mereda.
Bahkan semakin deras hingga sesenggukan. Matanya yang tengah sembab tak
berhentinya menatap sesuatu yang ia pegang sedari tadi. Benda yang membuat dia shock.stres.dan
frustasi.
Ia sangat shock saat ini. Air shower yang tumpah membasahi
tubuhnya tak mengurangi kesembab’nya saat ini. Ia terus menangis dan menangis
mengetahui apa yang terjadi saat ini. Yah fatal memang.
Ia terus menjerit sepuasnya karna ia tau saat ini rumahny
masih dalam keadaan sepi, orangtua nya sedang pergi mengurusi bisnis yang entah
kemana, adik satu-satunya yang tak kunjung pulang sekolah sampai saat ini dan
pembantu yang sedang izin pulang kampung untuk beberapa hari kedepan.
‘Tap Tap Tap’
Terdengar suara langkah kaki yang sepertinya mengarah kearah
tempat yang saat ini gadis ini tempati. Ia pun segera meredakan eh lebih
tepatnya mencoba memelankan tangisanya. Gadis ini berusaha untuk menghentikan
jalur air mata yang sedari tadi tak hentinya dilalui oleh butiran-butiran
airmata. Ia menatap benda yang sedari
tadi berada dalam genggamanya yang tak lain merupakan benda terburuk yang
pernah ia temukan. Dengan cepat ia segera menyembunyikan benda ini pada kantong
belakang pada celana yang ia gunakan saat ini.
Berharap siapapun tak akan pernah mengetahui akan hal ini.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar