Selasa, 14 Januari 2014

Don't Be Let Go ! LastPart



Don't Be Let Go !

Part 2 LastPart.

Sesampainya dirumah, aku langsung menuju kamarku. Aku memandangi diri sejenak didepan cermin. Lalu kemudian aku tersenyum. 
Aku senang~ hari yang menyenangkan menurutku. Dimana seorang Rafi mengantarkanku pulang. Ah. .aku harus menuangkan ini dalam coretan diary’ku. Aku membuka tas ku berniat mengambil diary tersayangku yang rasanya tadi pagi aku bawa kesekolah. Namun..Tidak ada! Aku mencari lagi pada meja belajar, kolong tempat tidur, bahkan dalam lemari pun aku cari. Namun nihil. Diary ku tak kunjung ketemu.

Aku segera mengambil ponselku. Mencari sebuah nama dalam daftarkontakku. Lalu mengetikan beberapa kalimat lalu segera ku tekan tombol send. Tak lama, ada 1pesan masuk di ponselku. Balasan Dari seseorang yang aku sms tadi yang tak lain diana. Aku menanyakan perihal Diary ku . namun sama hal nya. Diana tak melihat Diary ku dimana.
Aku semakin tak tenang. Fikiranku kemana-mana. Bagaimana jika Diaryku berada ditangan orang yang jail lalu menyebarkannya kesemua orang?bagaimana jika diaryku sekarang berada ditangan orang yang tak suka denganku? Bagaimana jika nanti saat disekolah mading penuh dengan kertas kertas dari diaryku? Dan bagaimana pula jika Rafi mengetahui hal ini? Mau ditaruh dimana mukaku? Ah.aku benar benar tak tenang. Namun, aku bertekad mencari diaryku ini sepulang sekolah besok. Terlalu lelah memikirkan ini, akupun perlahan tertidur.

Keesokan harinya sepulang sekolah, aku meminta di temani diana buat nyari Diary ku. Aku berharap jika Diaryku tertinggal dikellas dan tak ada seorangpun yang melihatnya. Aku terlalu takut jika ternyata ada seseorang yang membaca diaryku. Bahkan terlebih jika yang menemukan Diaryku orang yang selalu aku tulis dalam diary yang tak lain Rafi. Aku takut itu terjadi.
Aku dan Diana berpencar mencari Diaryku diruang kelas. Diana mencari pada deretan kanan, sedang aku mencari pada deretan kiri.

“gimana na?” tanyaku

“nggada din, kamu yakin kemarin kamu bawa kesekolah? Kamu lupa naruh mungkin din..”

“engga na, aku yakin banget aku bawa diary itu kemarin. AaaaL

“kalian kok belum pulang?” tanya seseorang
Aku segera melirik sumber suara. Berdiri seseorang yang masih terjaga ke’Cool-anya. Orang itulah – Rafi–

“oh ini, dinda lagi nyari..” ucap Diana yang segera kupotong

“Diana!!!!! “ segera kupotong omongan Diana sebelum ia keceplosan mengatakan yang sebenarnya.

“oh ini raf, aku Cuma lagi nyari buku yang kemarin ketinggalan” dustaku

“kamu nyari ini?” Aku kaget!Rafi?  dia datang tiba tiba dan dia membawa..buku diaryku! Aku shock! Bagaimana mungkin diaryku berada ditangan dia?bagaimana mungkin ?aku hanya berharap Rafi belum bahkan tidak membacanya . karna kalau ia membacanya?ia mengetahuinya?matilah sudah kau dindaaaaaa !!

“lho.. kok bisa dikamu Raf?” tanya diana penasaran

“iya, kemarin pas kamu nyuruh aku buat ngambilin tas Dinda, aku ngga sengaja nemu ini dilaci meja kalian, aku bawa aja deh”

“belum kamu baca kan?” tanyaku . Rafi diam untuk beberapa saat. Aku berharap, ia mengatakan belum. Iya aku harap ia mengatakan apa yang aku inginkan.

“belum kok”

“huh, syukurlah~”  Aku lega mendengar ucapan rafi .

“belum 2kali maksdnya:D” sambung Rafi kembali

“HAHH?!!!”  aku shock! Aku kaget!aku malu! Mau ditaruh dimana mukaku ini? Aku hanya bisa melongo. Membuka mulutku lebarlebar. Aku tak menyangka apa yang aku takutkan semalam ternyata terjadi. Aku sungguh tak menyangka. Bagaimana aku tidak shock? Dalam diary itu, banyak sekali coretan coretanku tentang Dirinya , banyak pula puisi yang sengaja ia buat hanya untuknya, juga fotofoto colongannya yang aku simpan dalam tiap lembar diary. Dirinya yang tak lain –Rafi–  namun orang yang aku tuliskan dalam diary membacanya
Rafi menyodorkan tangannya dengan maksud untuk mengembalikan bukuku ini.  Namun aku? Aku belum bisa bergeming sedikitpun dari posisiku sekarang. Masih dalam mata melebar dan mulut yang agak menganga.

“tak usah seperti itu, aku udah tau semuanya”  ucap Rafi membangunkanku dari ketidaksadaran itu. Aku diam, aku masih diam .

“kenapa kau tak pernah bilang padaku?kenapa kau memilih memendam semua?dalam diary itu, tertulis bahwa kamu menyimpan rasa padaku saat pertama kali bertemu, yang tak lain saat kau membuat aku tak lagi benci akan hujan 3tahun yng lalu. Bagaimana mungkin aku mengetahui bahwa kamu menyimpan rasa padaku saat itu jika saat ‘kejadian’ itupun kamu begitu cuek, begitu tak banyak bicara? Tenyata memang benar. Wanita memang begitu ahli dalam masalah menyembunyikan perasaanya.. seperti kamu sekarang ini, dindaa”

Aku masih terdiam, mendengarkan, mencerna semua kata demi kata yang keluar dari mulut Rafi. Ingin rasanya aku mengatakan “aku yang pandai menyembunyikan perasaan atau memang kamu yang tak pernah peduli? Aku takut jika aku mengatakan ini semua, kamu akan pergi meninggalkanku. Aku takut itu terjadi rafi..!”  namun apa daya, mulutku sampai sekarang terasa sangat kaku untuk digerakkan. Akupun lebih memilih untuk diam dan mendengarkan semua apa yang dikatakan Rafi.

“kau tahu dinda..”

“aku juga menyimpan rasa padamu semenjak kejadian beberapa tahun silam” ucap Rafi meneruskan omongannya yang sempat menggantung tadi.

“hanya kamu yang berhasil membuat aku tak lagi benci air hujan dinda, hanya kamu yang bisa menyadarkanku betapa Indahnya Hujan, hanya kamu yang berhasil menyadarkanku  betapa nyamannya Hujan . hanya kamu dinda..itu yang membuatku jatuh cinta padamu”

“Tapi saat itu kau begitu pandai menyembunyikan semua perasaanmu. Aku tahu aku pengecut din, aku takut jika aku mengatakan perasaanku padamu, kau akan pergi jauh meninggalkanku. Aku takut itu terjadi dinda..”

Oh Tuhan! Bagaimana mungkin?itulah kalimat yang ingin aku katakan paadanya saat ini. Namun kenapa malah dia juga mengatakanya? Apa yang terjadi Tuhan? Mimpikah ini? Tuhan! jangan Bangunkan aku sekarang jika memang ini semua mimpi. Aku tak ingin jika aku bangun harus menerima suatu kenyataan yang berbanding terbalik dengan ini semua.

“saat kamu menelfonku malam-malam.. aku tahu bahwa saat itu yang menelfonku kamu dinda. Aku telah  lama menyimpan nomormu sebelum kamu mengetahui nomorku. Namun aku berusaha berpurapura seperti ibarat aku benarbenar tak mengetahui nomormu”

“Tahukah kamu dinda, bukan hanya kamu yang selama ini mencintai dalam diam. Aku pun!  Bukan hanya kamu yang selalu memerhatikan tapi tak diabaikan. Aku juga!setiap hari sedang hujan, aku tahu kamu selalu berada dibalik jendela kamarmu , menikmati indahnya hujan. maka dari itu,setiaphujanlah aku selalu kerumah kaamu, berdiam dibalik pohon mangga depan rumahmu . Aku memandangi raut wajah kamu saat kamu sedang menikmati betapa indahnya hujan. aku memerhatikanmu dan kamu tak pernah tau itu!”
Sekujur tubuhku bergetar hebat mendengar pengakuan Rafi ini. Bagaimana bisa?dia juga merasakan apa yang aku rasa? Perlahan, benih air menetes dari kelopak mataku. Aku menangis.

“Dinda.. will you be mine?”
Aku shock. Aku kaget. Mataku melebar kembali. Lebih lebar dari sebelumnya. Bagaimana tidak? Seorang rafi , orang yang aku sayang 3tahun ini sekarang sedang bertekuk lututdidepanku menggengggam tanganku dan mengatakan kata itu. Perlahan, aku anggukan kepalaku . ia memeluku. Aku terisak dalam dada bidangnya~


Tak terasa, 2 bulan sudah hubunganku dengan  Rafi terjalin. Aku senang~ tak lupa bersyukur paada Tuhan Yang maha Esa. Namun, semakin kesini aku 3x lebih sering pinsan dari sebelumnya. Dan perlahan, aku rasakan rambutku merontok sedikit demi sedikit. Aku teriak. Aku histeris. Mamah langsung membawaku ke rumah sakit.

Aku menangis. Menangis mendengar apa yang dokter katakan padaku tentang penyakitku. Aku shock mendengar ucapan dokter yang mengatakan bahwa aku menderita Tumor Otak stadium akhir. Terlebih saat dokter mengatakan bahwa aku telah divonis menderita penyakit ini 6bulan lalu. Aku kaget, enam bulan yg lalu? Bukankah itu telah lama? Namun kenapa aku justru malah tak pernah mengetahuinya? Aku teriak memanggil mamahku. Menanyakan apa yang terjadi sebenarnya, menyanyakan apa yang selama ini mamah sembunyikan dariku. Mamah menangis.

“maafin mamah sayang, mamah salah, mamah sengaja menyembunyikan ini semua. Mamah ngelakuin ini semua demi kamu , mamah tak mau jika kamu harus memikirkan penyakitmu” mamah memelukku. Mamah tak salah, ia berniat baik melakukan ini semua dan aku tak berhak marah pada mamah. Inilah takdirku.
Tak lama, seorang dokter memasuki ruangan ku. Mamah menanyakan perihal penyakitku, namun sang dokter hanya menggeleng dan menjawab “maafkan saya bu, saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tumor pada diri anak ibu telah ganas. Jika kita mengangkat tumor itu, itu sangat membahayakan putri ibu”

“lalu bagaimana dengan hidup putri saya dok? Masih bisa dibantu dengan obat yang kemarin kan?”

“obat yang mana maah?” tanyaku penasaran

“obat yang selalu kamu bawa sekolah itu obat penunjang hidup kamu sayang, maaf mamah harus membohongimu”
Aku terdiam~ jadi selama ini, obat itu obat Tumor ? kenapa aku begitu tak mengerti? Seharusnya aku tau bahwa darah rendah tak perlu meminum obat setiap saat. Namun kenapa aku baru mengetahuinya sekarang? Kenapa aku begitu bodoh ?ini semakin rumit.

“obat itu hanya bisa digunakan maksimal 6bulan.dan ibu telah menggunakan obatitu selama 6bulan.” Jelas dokter

“jadi, apa yang harus aku lakukan dok? Sembuhkan anak saya dok saya mohon”

“kita berdoa pada yang kuasa aja bu”
Aku menahan semuanya. Tubuhku bergetar hebat. Benih benih air telah menumpuk pada kelopak mataku. Dan sesaat, benih benih air ini pun terjun membasahi pipiku

“waktu saya tinggal berapa hari dok?” ucapku dengan sisa sisa suaraku

“waktu saya tingga berapa hari dok?!!” aku ulang pertanyaanku yang belum mendapat jawaban dari dokter

“kurang lebih 7hari” ucap dokter menundukan kepalanya
Aku teriak. Aku histeris. Aku mengeluarkan semua airmataku. Aku memeluk mamah. Aku terisak dalam dekapan mamah. Aku masih belum bisa menerima ini semua. Bagaimana tidak? Baru 2bulan lalu aku merasa senang karna rafi membalas cintaku . namun kenapa sekarang malah aku divonis tingal 7hari masa hidupku? Hidup begitu tak adil menurutku.
Perlahan, tangisku mulai mereda. Aku mulai tenang.  Aku tahu Allah punya rencana yang baik dibalik ini. Dan inilah takdirku, Takdir tetaplah Takdir. Aku menyuruh mamah berjanji agar tidak memberitahu ini terhadap Diana maupun Rafi. Aku memang bertekad untuk menghadapi ini sendiri. Aku tak ingin membuat mereka khawatir terhadapku. Bukan karna aku jahat aku tak memberitahu perihal ini kepada mereka. Tapi justru karna aku sayang mereka. Aku tak ingin mereka terbebani hanya karna masalah penyakitku. .

 Semenjak pemvonisan itu, aku menjalani hari hari dengan semangat seperti biasa. Aku tak ingin membuat sahabatku Diana dan kekasihku Rafi  curiga tentang apa yang terjadi denganku. Namun, semenjak kejadian pemvonisan itu, aku jauh lebih sering menghabiskan waktuku dirumah. Aku lebih senang menghabiskan sisa hidupku untuk membbantu mamah dan menuliskan coretan-coretan pada diaryku selagi aku tak bisa lagi membuat coretan coretan lagi.

Aku memandangi diri didepan cermin, memandangi beberapa helai rambut yang masih tersisa pada rambutku. Kepalaku telah tak berambut lagi. Hanya tersisa beberapa helai saja. Aku memandangi foto yang tertempel didinding kamarku, foto diriku bersama diana. Dalam foto itu, aku tersenyum ceria diatas sepeda kesayanganku mengenakan baju pink pembelian almarhum ayah, dengan rambut lurus terurai . kulihat pula foto yang sengaja kutaruh pada meja belajarku. Foto dimana Rafi sedang merangkulku penuh cinta. Dan dalam foto itu aku tersenyum , senyuman yang tanpa beban.  airmata ku perlahan jatuh. Aku rindu saat saat seperti itu. Saat dimana aku dapat tersenyum tanpa memikirkan penyakitku , saat dimana aku dapat kembali merawat rambut panjangku,
saat dimana aku bisa bermain dengan Diana tanpa memikirkan penyakitku, juga saat dimana aku bisa menjalankan harihariku dengan penuh keceriaan.

Aku rindu saat saat itu Tuhan, kenapa begitu cepat kebahagiaan itu berakhir? Aku mengusap air mataku. Aku tak boleh terusterusan seperti ini. Aku harus kuat. Dinda wanita Strong! Aku mengambil buku diary, dan kutuliskan beberapa kalimat yang bisa jadi menjadi coretan akhirku.

*****
Hari ini, tepat 7hari setelah vonis itu dijatuhkan. Yang berarti, hari ini pula hari dimana aku terakhir merasakan indahnya hari. Aku ingin menghabiskan waktuku untuk memandangi, menikmati indahnya langit beserta isinya. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersama dengan orang orang tersayangku. Aku inginmereka berada didekatku saat aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan aku ingin membuat mereka tersenyum dihari terakhirku.
Rafi melangkahkan kaki ke arah kelas ku, lalu kemudian menghampiri aku. Rafi menghampiriku dengan maksud untuk berpamitan dan memintaku untuk mendoakannya karna hari ini juga ia akan mengikuti LCC di SMA 99 Bandung. Aku memegang erat tanganya. Aku tak ingin ia pergi. aku ingin dia ada disisiku saat ini.

“jangan pergi”

“aku ngga kemana-mana kok sayang, aku Cuma mau lomba . sepulang sekolah aku langsung kesini kok:)

“aku mohon jangan pergi raf, aku mohon”

“aku harus lomba dinda, aku janji bakal kesini sepulang lomba”

“jangan pergi plis aku mohon, aku ingin kamu tetap disini”

“bagaimana dengan lombaku? Aku begitu menantikan lomba ini din. Kamu jangan egois seperti ini”

“selama ini aku ngga pernah minta apapun dari kamu, sekarang aku Cuma minta kamu jangan pergi raf, aku Cuma minta kamu disini.”

“bagi siswa yang akan mengikuti  LCC, harap segera kumpul di aula sekolah. Terimakasih”  terdengar pengumuman yang memerintahkan para pengikut lomba termasuk Rafi berkumpul. Aku mendengar pengumuman itu, aku juga tau Rafi akan mengikuti lomba, namun aku belum kunjung melepaskan tangan Rafi. Aku tau saat ini memang egois. Tapi aku ingin Rafi ada disini saat ini. Aku ingin dia menemaniku disisa sisa hidupku. Aku hanya ingin itu.
“dinda, kamu nggaboleh gitu. Kamu jangan egois, kasian Rafi.. dia begitu menanti nanti saat saat lomba seperti ini. Biarkan dia pergi din..” ucap Diana yang akhirnya ikut membuka suaranya
“engga! Aku nggamau kamu pergi, aku mohon tetap disini raf. Aku mohonn” ucapku dengan mata berkacakaca

“DINDA! Kamu ini apa-apaan sih? Hari ini aku harus lomba. Bukankah kemarin kemarin kamu begitu mendudukungku mengikuti LCC ini? Tapi kenapa sekarang kau malah melarangku pergi?”

Aku menangis. Baru pertama kali Rafi membentakku. “Memang, saat itu aku begitu mendukungmu mengikuti lomba ini. Tapi kenapa pelaksaan lombanya harus sekarang?disisa waktuku? Taukah kamu, ini adalah hari terakhirku. dan aku Cuma ingin mengahabiskan umurku dengan kalian. Bagaimana jika saat kau pulang nanti aku sudah tak lagi bernafas? Aku Cuma ingin kamu menemani sisa sisa hidupku . aku hanya ingin itu” . aku hanya dapat mengatakan itu dalam hati.

“aku takut aku tak bisa melihatmu lagi” ucapku dengan terisak. Rafi merasa bersalah. Ia memegang erat bahuku. Menatap mataku lekat-lekat

“tenanglah sayang, aku janji aku akan baik baik aja. Aku janji selesai lomba nanti aku segera kesini membawa medali untukmu. Aku janji dinda.. sekarang, izinkan aku pergi yaJ
Mau tak mau, aku pun melepas genggaman tanganku dari tangan Rafi. Begitu berat aku melepaskannya. Aku sangat takut jika aku tak bisa melihatnya terakhir kali. Setelah kepergian Rafi, aku masih menangis. Diana sahabatku lah yang setia menemaniku, memelukku dengan penuh sayang. 

Namun sesaat , kepalaku pusing. Dan perlahan semua hitam dan.. aku terjatuh dalam pelukan diana.
Diana panik, ia memerintah anak-anak yang lain memopongku ke rumah sakit. Aku memasuki UGD. Tubuhku dihubungkan oleh selang-selang dokter. Aku terdiam kaku. Sementara sang dokter sedang berusaha menyelamatkanku. Diluar ruang UGD, ada Diana juga mamah yang telah diberitahu oleh diana sebelumnya. Mereka menangisiku. Berdoa kepada sang kuasa demi keselamatanku.
Aku sedang bergelut dengan penyakitku. Aku tak tahu apakah aku masih akan diberi kesempatan untuk hidup atau memang Tuhan ingin menemuiku. Monitor medis yang terhubung dengan tubuhku telah membentuk sebuah garis lurus. Dokter panik, mereka segera mengambil alat pemancing detak jantung untuk memancing detak jantungku agar kembali berdetak. Sudah 5kali dokter berusaha. 

Namun naas. Aku masih tetap diam.  Tak bergeming sedikitpun. Dokter pun mulai menyerah dan artinya.. Tuhan memang benar benar ingin bertemu denganku.
Dokter keluar Ruangan dan segera memberitahu apa yang terjadi terhadapku. Dokter memberitahu ini dengan wajah menunduk. Ia merasa bersalah karena tak dapat menyelamatkanku. Namun sekali lagi, takdir tetaplah takdir. Orang-orang terdekatku menangis histeris mendengar apa yang dikatakan dokter. Terlebih lagi dengan mamah . mamah langsung down begitu mendengar bahwa aku –anak semata wayangnya– telah tiada. Ingin sekali aku bangun dan mengusap air mata mereka. Namun apa daya, alam kita telah berbeda.

Ditempat lain, Rafi melangkahkan kakinya kearah sekolah menenteng medali yang ia kalungkan pada leher.  Disepanjang koridor, ia merasakan nuansa duka pada orang2. Namun, ia tak memikirkannya. Yang ia fikirkan saat ini hanya satu. “DINDA” . ia mempercepat langkahnya memasuki kelasku –dinda–. Sesampai dikelas , rafi tak mendapatiku. Yang ia dapati hanya orang orang sedang terisak. Ia pun penasaran, ia menanyakan dimana dinda. Namun sayang~ tak ada jawaban apapun dari mereka. Sesaat, ponsel rafi berdering. 1massage dari Diana “Cepet ke Rumah Sakit Harapan skrg jg Raf! Gausah tanya dulu.nanti aku jelasin” seperti itu isi dari pesan yang dikirimkan diana. Tanpa babibu , ia segera mengambil motornya dan segera menuju keRumah Sakit.
Sesampainya dirumah sakit Ia melihat sosok Diana beserta guru2 di UGD. Rafi melihat mereka sedang terisak. Rafi mendekati Diana  dan mencoba menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Diana tak menjawab, ia justru malah mengajak rafi memasuki ruang UGD.
Disana, Rafi melihat aku. Melihatku dengan keadaan yang telah dingin kaku.Melihatku dengan keadaan tak memiliki sehelai rambutpun. Melihatku dengan keadaan yang telah tak bernyawa. Tubuh rafi bergetar hebat, dan perlahan Air bening menetes dari kelopak matanya. Rafi menangis, ia tak menyangka bahwa tubuh kaku yang sekarang berada dihadapannya itu tubuhku.

“Dindaa...inikah kamu? Bangun din! Nggausah bercanda ah. Nggalucu. Liat nih aku bawa medali, aku menang lomba din..”

“dindaa.. bangunnn!!”

“dinda udah pergi Raf” ucap sahabatku diana

“pergi?HAHA kenapa kamu pergi? kenapa secepat ini? lihat din, lihat! Aku bawa medali buat kamu! Aku menang din.. aku menang. Ini yang kamu kasih ?ini hadiah kamu?yang aku ingin itu ucapan selamat dari kamu din, bukan tubuh kaku kamu kayak gini! Aku nggabutuh! Bangun dindaa bangunnnL

“Raf, tenang raf, tenang .. ikhlasin dinda raf, biarkan dinda tenang” ucap Diana sahabatku

“apa yang terjadi dengan Dinda na? Perasaan waktu aku mau lomba dia baik-baik saja, tapi kenapa sekarang?aaaah!!”

“ada sesuatu yang dinda sembunyiin dari kita semua. Kamu baca aja ini . aku nemuin itu di tas dinda” Diana menyerahkan sesuatu pada Rafi yang tak lain adlah buku Diaryku. Rafi coba membuka pada bagian paling akhr. Dimana coretan itu aku tulis tadi pagi saat akan berangkat sekolah.

“Dear diary,
 7hari yang lalu, aku divonis dokter menderita Tumor Otak ganas. Aku tak pernah menyangka bahwa aku akan menderita penykit mematikan seperti ini. Seiring berjalannya waktu, rambutku sedikit demi sedikit rontok . Dan akhirnya.. seperti ini. Seperti yang terjadi saat ini. Aku telah tak memiliki rambut sehelaipun. Namun tak apa, beruntung aku mengenakan jilbab kesekolah~ dengan begitu, aku bisa menyembunyikan ini dengan tenang. Menyembunyikan dari semua orang termasuk Diana dan Rafi. Maaf na, Raf, aku terpaksa menyembunyikan ini dari kalian. Aku melakukan ini bukan karna aku jaht. Namun karna aku tak mau kalian menjadi terbebani dengan penyakitku ini. Aku tak ingin kamu juga merasakan apa yang aku rasa. Biar aku sendiri saja yang menghadapi ini. Karna inilah takdirku.
Telah 7hari sudah aku divonis untuk hidup. Dan artinya, hari ini hari dimana aku untuk terakhir kalinya menikmati udara . Diana sahabatku, Rafi kekasihku dan Mamah malaikatku. Aku tak ingin meninggalkan kalian secepat ini. Aku ingin terlebih dahulu membuat kalian bahagia.. aku ingin hari ini, hari terakhirku aku dapat  menghabiskan waktuku dengan kalian. Orang-orang tercintaku. Aku ingin mereka berada didekatku saat aku menghembuskan nafasku untuk yang terakhir kalinya.
Tuhan, aku mohon dihari terakhirku ini aku bisa membuat orang-orang tercintaku bahagia
Tuhan, aku mohon jangan kau beri penyakit sepertiku pada orang-orang tersayangku
Tuhan, aku mohon jagalah orang-orang tersayangku dari segala malabahaya
Tuhan, tolong sampaikan pada mereka bahwa aku selalu menyayanginya.
Diana, Rafi.. mungkin setelah ini aku tak bisa lagi menemani hariharimu, tak bisa bersenda gurau dengamu, tak bisa lagi menghapus air matamu, namun percayalah.. aku akan selalu menyayangimu dimanapun aku berada. Terimakasih telah mau mengenalku J
Salam sayang.Dinda Anatasya”

Rafi menangis, kali ini lebih terisak dari sebelumnya. Aku melihat mereka. Aku melihat diana Rafi menangis. Aku melihat mereka, namun mereka tak melihatku. rasanya ingin sekali aku menghapus airmatanya . namun apa daya, itu tak mampu kulalukan. Alam kita telah berbeda.

Hari ini juga prosesi pemakamanku dilaksanakan. Setelah dimandikan,   Tubuhku dibungkus oleh selembar kain putih.  Yang kemudian disholati.
Setelah disholati, aku segera dibawa dengan menggunakan keranda kearah Rumah Abadiku –Tempat Pemakaman Umum– Tubuhku dimasukan secara perlahan kearah lubang yang telah disiapkan.  Kemudian ditutup lagi oleh gundukan tanah. Tak sedikit orang menangis saat tubuhku mulai ditutup oleh gundukan tanah. Aku pun tak menyangka, bahwa ternyata orang yang menyayangiku begitu banyak.

Aku melihat mamah menangis dengan sisi kanan Rafi, dan sisi kirinya Diana. Mereka menangisiku. Menangisi kepergianku.
Setelah sang ustad membacakan doa terakhir untukku, bergantian orang meninggalkanku. Tinggal tersisa Diana dan Rafi. Mereka masih berada digundukan tanahku. Mereka menangis. Mereka masih ingin berada disini. Ditempat ini, tempat keabadianku~

Aku melihat mereka, melihat bahwa mereka menangisiku. Ingin sekali aku menghampiri dan menghapus air mata mereka. Namun aku tak bisa~
“jangan menangis sayang, saat ini kalian memang tak lagi bisa bersamaku. Tak bisa menikmati hari bersama. Tak bisa bersendera gurau bersama. Tak bisa lagi menikmati hujan bersama. Tapi percayalah, aku selalu ada disini. Di relung hati terdalam:)

Tamat.

Don't Be Let Go! -1-


Don't Be Let Go!

Part1

Author: Hasri Imroatul Izza




Aku terdiam dibalik jendela kelas. Memandangi tetesan air yang jatuh dari langit, tanpa memperhatikan sepatah kata pun yang diterangkan bu guru didepan.  Yaap! Hari ini sedang hujan. Daann..aku suka air hujan. Rasanya terasa sangat nyaman jika memandangi rintikan air yang jatuh silih berganti.
Ah sebenarnya bukan itu alasanku menyukai air hujan. Akan tetapi~ kejadian itu yang membuatku menyukai hujan. iya kejadian itu.kejadian dimana saat itu awal aku mengenalnya dan......jatuh cinta kepadanya. Aku tersenyum mengingat kejadian itu. Kejadian yang menurutku lucu tetapi juga..mengesankan.
Namun sayang senyumku lenyap begitu saja setelah sahabatku Diana memberitahuku bahwa si guru daritadi memperhatikaanku . okeyy~ kita lupakan sejenak kejadian itu.

****
Aku Dinda Anatasya atau biasa disapa dinda. Sekarang duduk di bangku kelas2 SMA diSMA favorit didaerah Bandung. Sedang Diana adalah sosok perempuan yang telah menjadi sahabatku sejak dua tahun lalu. Aku baru mengenal diana ini saat menginjakan kaki di SMA ini. Namun, tak jarang orang mengira bahwa kita telah bersahabat sejak lama atau bahkan ada juga yang mengira bahwa kita berdua anak kembar. Haha sempet ngakak juga sih , tapi yaa aku maklumin saja. Mungkin karena kita berdua memang udah kayak perangko sama surat yang bawaanya nempel mulu, ditambah juga penampilan kita yang samasama berhijab.
Aku salut banget sama Diana, ia tak pernah sekalipun bosan mendengar celotehanku yang  selalu aku ulang. Ia tak pernah lelah memberi semangat, memberi saran dan memberi motivasi u untukku . yaa..itulah yang namanya sahabat. Dapat menerima celotehan kita baik suka maupun duka <3

“Hey, lagi ngeliatin apaan sih?” cerocos diana yang kemudian langsung duduk sebelahku
“ngeliatin hujan” jawabku tanpa memalingkan mata dari arah jendela yang langsung terhadap lapangan basket.
“ngeliatin hujan atau orang yang berada ditengah derasan hujan?:p “ tebak diana
Aku terdiam. .
“sampai kapan kamu kayak gini terus din?”

“kayak gini? Kayak gini gimana na? Akau baik-baik aja kok J”jawabku seraya memamerkan senyum manisku
“aku tau kamu din, aku tau apa yang kamu rasain sebenarnya. Mau sampai kapan kamu mbohongin diri kamu sendiri? Mau sampai kapan kamu terus-terusan nahan sakit kaya gini? Mau sampai kapan din?”
Aku terdiam kembali. . . jujur, baru pertama kali aku mendengar Diana berkata seperti itu. Aku mencerna perkataan diana yang memang benar adanya.
“aku nggatau. .” hanya kata itu yang dapat terucap dari mulutku
“maaf din kalo ucapanku tadi menyinggungmu. Itu karna aku udah tak tega melihatmu terus-terusan kayak gini”
“nggada yang perlu dimaafin na, kamu ngga salah. Ucapan kamu benar. Aku memang bodoh.tapi jujur, aku lebih memilih kayak gini daripada harus ngelupain dia na.. itu terlalu sulit”
“tapi dia ngga pernah peduli sama kamu din, buka matamu .. masih banyak orang yang menunggumu diluar sana”
“tapi aku tak mencintai mereka”
“cobalah buka sedikit hati kamu untuk mereka”
“aku tetap ngga bisa na.. itu terlalu sulit”
“terus, apa yang akan kamu lakukan? Masih akan terus menunggu dia yang tak peduli terhadapmuu?”
“heem” aku menganggukan kepalaku.
“baiklah kalau itu keputusanmuu,aku tak akan memaksamu lagi. aku selalu berdoa demi kebahagiaanmu dinJ
“terimakasih naa J
Aku memeluk erat sahabatku ini. Jujur, ingin sekali aku menuruti perkataan Diana agar melupakan ‘pria’ itu. Namun apa daya, aku tak bisa melakukannya~ semakin aku mencoba melupakan, semakin besar pula sayangku terhadapnya.


****
Hari silih berganti, tak mengubah sedikitpun rasa sayangku terhadap nya.
Aku begitu mencintainya. Pria yang telah 2tahun aku kenal~  aku mencintainya dalam diam, memperhatikannya walau selalu diabaikan dan..memberikan seutas senyum walau sering tak dianggap. Namun aku tak menyerah, aku tetap akan mempertahankan ini semua. . karna aku tau, semua akan indah pada waktunya 

Bel Istirahaat berbunyi~ semua anak berlomba lomba menuju kantin. Namun lain denganku. Aku lebih suka menghabiskan waktu istirahatku disini, dikelas ini. Bukan karna aku tak punya uang buat jajan, tapi karna  memang aku merasa nyaman dibalik jendela ini. Tempat Dimana Aku bisa dengan bebas memandangi langitt biru yang membentang luas , disertai keberadaan awan serta matahari yang memperindahnya, dan...dimana aku juga bisa dengan bebas memandanginsosok yang berada ditengah lapangan sana. Seorang pria yang sedang memainkan bola basket dengan piawai ini mampu menarik perhatianku bak magnet yang menarik pakupaku. Aku memandangi lekuk wajahnya. Memandangi senyumnya, menandangi tingkah lakunya memandangi betapa sempurnanya dia dimataku. 

“jadi pengagum rahasia mulu, ngga cape?”
Ucap seseorang yang tibatiba berada disampingku.
“engga” jawabku santai

“mau sampai kapannunggu Rafi?”
Aku terdiam untuk beberapa saat. . Rafi?  Dialah pria itu. Pria yang telah mencuri hati aku sejak dua tahun lalu, pria yang selalu tak pernah peduli kepadaku

“sampai aku mati mungkin” jawabku kepada seseorang itu yang tak lain diana.sahabtku

“salut banget sama kamu din, rela nahan sakit, rela mbuang mbuang masa remaja kamu demi menunggu orang yangg ngga penting, orang yang ngga peduli dan orang yang menganggap ada keberadaanmu. Sedangkan disana, banyak sekali pria yang mencintai kamu”

“ah kamu ngomong apa sih na? Akunya aja fine fine aja kok. Lagian Diluar sana juga banyak kok yang ngerasain kaya aku.” Jawabku dengan pandangan yang masih mengarah pada cowok yang sekarang sedang berebut bola basket dilapangan sana.iya siapa lagi kalau bukan rafi~

“memang, banyak orang yang diluar sana menjadi pengagum rahasia kaya kamu. Tapi yang sanggup bertahan selama ini? Aku rasa Cuma kamu dindaa ..”
Aku tak menggubris perkataan sahabatku dinda yang menurutku tidak penting. Namun aku tau, dibalik semua perkataan dinda terhadapku, tersimpan kepedulian yang mendalam. Dia tak ingin melihatku terus menjadi ‘pengagum rahasia’ seperti ini. Namun, apa boleh buat ini lah prinsipku, inilah kemauanku. Dan.. prinsip tetaplah prinsip .Tak bisa diganggu gugat.

****
Matahari telah terbenam yang berarti menandakan bahwa sang mentari telahselesai  menjalankan tugasnya. Sekarang giliran sang bintang dan rembulan lah yang akan bertugas menyinari, menerangi dan memperindah alam semesta ini. 
Aku membolak balikan ponselku sedari tadi. Menekankan beberapa angka dan sesekali menekankan tombol ‘call’ lalu mematikannya kembali  . aku melakukan itu berulanag kali -Bingung- apa yang akan aku katakan jika telah terhubung dengan nomor tadi? Bertanya ‘kau sedang apa?’  ‘kau sudah makan?’ atau bahkan ‘kau sudah mengerjakan  tugas hari ini?’ ah tidak. Itu pertanyaan yang teramat bodoh menurutku. Aku memandangi nomor tadi i, lalu kuatur nafasku sejenak dan mulai menekankan tombol ‘call’ kembali. Namun kali ini aku bertekad untuk tidak mematikannya lagi.
Alunan lagu Heal The World – Mikhael Jacson mengalun membuatku menikmati lagu ini dan menghilangkan rasa cemas yang sedari tadi menimpaku. Namun sesaat aku merasakan alunan lagu itu tak terdengar lagi . dann ...

“Halo”
DEG!!! Suara itu.. suara itu... ah!aku terdiam bak patung mendengar suara itu, suara pemilik hatiku beberapa tahun silam. Siapa lagi kalau bukan rafi~

“haloo”

“haloo”
Orang disebrang sana telah mengulang kata ‘halo’ kesekian kalinya. Aku mendengarnya .. namun apa daya, bibir ini terasa enggan digerakan.. masih tak menyangka bahwa diriku sedang..menelponnya.

“halo..kalo  kau tetap diam akumatikan telfonya!” ucap rafi disebrang sana

“jangan” entah ada dorongan apa aku bisa mengatakan kata tersebut.

“nah gitu kek, siapa  yaa?”

“halo.. siapa disana?” orang itu mengulang pertanyaanya sekali lagi. Sedangkan aku? Aku mencoba mengatur nafasku untuk memulai pembicaraan dengan orang disebrang telepon sana.

“a..aku dinda” ucapku berusaha sebiasa mungkin

“dinda kelas XI IPA 1 kah?”

“kau kenal aku?”

“tentu. Kamu yang waktu kelas X pernah nungguin hujanhujan’an bareng aku kan?”

“kau masih ingat itu?”

“tentu. aku ngga akan pernah ngelupain kejadian itu.karna kejadian itulah aku tak lagi takut akan air hujan. dan itu karena kau dindaa..”

#FlashbackOn#
Aku duduk sendirian memandangi deras air hujan yang mengguyur kota bandung ini. Aku memandangi tetes demi tetes air . aku suka hujan . bagiku, hujan adalah tetesan air yang jatuh bergantian . memperindah bentangan langit dan menenangkan jiwa.  Aku menengok ke arah jam tangan pemberian ibu. Jam 16.00. yang berati sudah 2 jam yang lalu bel pulang dibunyikan. Dan artinya, telah 2 jam pula aku duduk disini hanya demi untuk menikmati indahnya hujan~. Aku senang~ aku menikmatinya. Sungguh menikmatinya..
“Kok belum pulang?” tanya seorang pria yang tiba tiba berada di sampingku”
Aku melirik sejenak kearah pria itu. Dari sseragam yang ia kenakan, ia satu sekolah dengan ku. Namun, aku tak pernah melihat pria ini –Pria Cool– ini disekolah. “Lagi menikmati hujan” jawabku apa adanya

“menikmati hujan?”

“iya, aku suka hujan. bukankah kau juga begitu?”

“tidak. Aku ngga pernah suka hujan. bahkan aku benci hujan:”
Aku kaget.aku menatapnya sejenak~ benci hujan? bagaimana bisa ia membenci anugerah Tuhan yang begitu membuat nyaman ini?

“kenapa? Bukankah hujan itu mengasikan?” tanyaku penasaran

“mengasikan?cish. bagiku, hujan hanyalah penghalang bagi manusia. Jalan jadi becek, sungai jadi menguap dan.. seperti sekarang ini. Aku tak bisa pulang kerumah hanya karna hujan”

“hanya begitukah alasanmu? Kamu salah dalam mengartikan hujan. Lihatlah tetesan tetesan air itu, mereka berjatuhan bergantian sesuai tempo. Mereka jatuh silih berganti membasahi apapun yang ada dibawahnya, menciptakan suara yang begitu unik. Bukankah itu membuat nyaman? Ayo hujan-hujanan bareng aku. Aku akan buktikan bahwa hujan tak seburuk apa yang kamu pikirkan” aku menarik cepat lengan pria ini. Pria ini pasrah saja. Ia tak punya waktu untuk berontak karna aku langsung menariknya begitu saja

“tak usah memikirkan kamu akan sakit setelah ini . buatlah kamu nyaman dalam keadaan ini.  Rasakan setiap tetesan yang membasahimu. Percayalah~ ini sangat menyenangkan “ perintahku pada pria disampingku. Perlahan, kulihat dia sesekali memejamkan matanya. Mencoba menuruti apa yang aku perintahkan tadi, mencoba menikmati keadaan ini.

“kau benar! Ini sangat menyenangkan !” teriak pria disampingku ini. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“oh iya kita belum berkenalan. aku Rafi anak X IPA 3” ucap pria ini seraya mengulurkan tangan

“dinda anak  X IPA1 . jangan benci hujan lagi yaJ“ ucapku seraya membalas uluran tangan pria yang bernama rafi ini.

“okeJ
#FlashbackOff#

Aku terdiam. Masih tak menyangka apa yang terjadi sekarang . aku menelfonnya ..dann..dia masih mengingatku? Bahkan masih mengingat kejadian itu? Oh god! Mimpikah ini? Siapapun tolong jangan bangunkan aku saat ini jikalau ini mimpi. aku menampar pipiku sendiri  memastikan bahwa aku sedang tak bermimpi dan .. “aw!”

“halo dindaa?kau kenapa?” suara orang disebrang telepon sana

“eh eng..engga” aku merutuki diriku sendiri. Bodoh bodoh bodoh. Apa yang kamu lakukan dindaaa?kamu lagi telfon dengan siapa sekarang?pliss jaga image kamu dikit kek. Aku memukul pelan kepalaku sendiri lalu kuatur nafasku kembali

“oh yasudah, oh iyaa ngapain malem malem nelfon?”

“e.. e..” aku terdiam, memikirkan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan rafi satu ini. Jujur, aku pun tak tahu alasan kenapa aku menelfonnya,, aku hanya sekedar ingin mendengar suaranya saja. Namun, apakah aku harus jujur bahwa aku menelfonnya hanya sekedar ingin mendengar suaranya?ah tentu aku masih waras dan tak akan menggunakan alasan itu. Otakku masih terus berfikir mencari alasan yang pas.

“dindaa?”

“ehiya, aku nelfon kamu Cuma mau ndaftar ekskul PMR. Kamu ketua nya kan?” jawabku spontan.
“ohh PMR, iya aku ketuanya.. besok istirahat pertama kamu ke UKS aja, kebetulan sekali besok ada jadwal ekskul PMR, sekalian juga nanti kamu perrkenalan  juga”
10 menit sudah aku bercicara dengannya. Lalu aku memilih untuk memutuskan sambunganku dengannya . Aku tersenyum menatap lekat ponselku .  Percakapan yang begitu singkat namun begitu berarti .


Aku memandangi lekuk lekuk tubuhku didepan cermin kamarku , memastikan bahwa hari ini aku telah siap bertemu dengannya –Rafi– saat istirahat berbunyi, aku menyuruh Diana untuk mengantarku  ke  UKS
Hari ini hari pertama aku mengikuti ekstrakulikuler PMR, jujur aku tak begitu suka dengan masalah medis seperti ini. Namun apa boleh buat, semalam aku telah mengatakan bahwa aku akan mengikuti PMR, yaaa inilah resikonya. Aku menarik nafasku dalam dalam lalu kukeluarkan lagi. Aku melakukan itu berlulang-ulang. Aku mengontrol nafasku agar tak canggung saat memasuki ruang UKS, juga saat berbicaradengan Rafi. Setelah mengontrol nafas, aku langkahkan kakiku memasuki UKS sedang Diana memilih untuk kembali ke kelas.
Setelah lama mengikuti PMR, aku pun kini telah terbiasa~ dan karena PMR lah hubunganku dengan Rafi semakin dekat. Setidaknya sekarang selalu tegur sapa saat berpaspasan, seringkali ngobrol yaa walaupun ngobrol masalah “PMR”. Dalam sela sela kedekatanku, perbincanganku, aku tak pernah terlepas untuk mencuricuri waktu untuk memandanginya. Dalam doa selalu keselipkan namamu , dalam diam ku sebutsebut namamu, dan dalam hati aku menyimpan namamu lekat lekat. Aku mencintaimu dan kamu tak pernah tau akan itu!:)



Hari demi hari tak terasa dilalui dengan begitu cepat. Tak terasa, sekarang aku telah duduk dibangku kelas XII. Besok, 17Juli tepat 3tahun aku menyukainya. 3 tahun? Ah sebegitu cepatkah waktu 3tahun itu? Perasaan rasanya baru kemarin aku mengenalnya. Tapi tak taunya?udah 3tahun saja. Betapa cepatnyaa..
Namun, Semenjak naik kelas XII , aku merasa ada yang berbeda pada diriku sendiri. Aku merasa sekarang mulai gampang lelah dan seringkali pingsan tibatiba. Sempat saat itu aku pingsan  saat ingin menuruni tangga rumah . dan mamah segera membawaku ke rumah sakit. Aku sempat bertanya pada mamah tentang apa yang terjadi terhadapku. Namun syukurlah, mamah bilang aku tak mengidap penyakit yang serius. Hanya darah rendah saja yang itupun hanya dalam jangka waktu sementara .

**
Hari ini, aku dengar ada pertandingan bassket antar kelas XII IPA 3 vs XII IPS2. Mataku seketika melebar ketika mendengar kata “XI IPA” bagaimana tidak? Itu adalah kelas dia! Energiku seakan langsung terisi dan segera menggandeng Diana kearah lapangan belakang dan memilih tempat ‘terdepan’ . aku tak ingin melewati momen ini. Momen dimana aku bisa Memandang mimik wajah cool dia secara dekat. Meskipun ia tak pernah tau  bahwa aku ..’memperhatikanya!’
Pertandinganpun segera dimulai. Aku bersorak gembira. Aku senang saat saat seperti ini. Saat dimana aku bisa berada pada barisan terdepan dan dapat dengan bebas memandangi sang pangeranku.
Aku memerhatikan gerak-gerik nya dengan seksama. Aku terpukau! Kepiawaian dia dalam mengoperkan dan memasukan bola diatas Ring berhasil membuatku tak berkedip.  Namun sesaat aku merasa ada sesuatu yang mulai mendekat ke arahku , dan..
“BUKK!” sebuah bola basket mengarah tepat dikeningku. Aku pusing dan sesaat semua hitam. Aku tak dapat merasakan apa apa lagi. –Aku pingsan–

**
Perlahan, mataku mulai dapat menerima serpihan cahaya lampu ruangan. Aku tak tau dimana sekarang aku berada. Aku mulai membuka mata, lalu sekejap aku baru mengenal tempat ini. Ruang UKS. Aku melihat Diana tertidur disampingku dan kulihat pula seorang pria yang berada dibelakang Diana, aku tak bisa mengenali pria itu karna memang pria ini dalam posisi menenggelamkan kepalanya.

“Na..” panggilku

“dindaa.. kamu udah siuman?”

“aku pusing na, ambilin obat aku ditas na..”

“Rafi! Tolong oh ambilin tas Dinda di kelas.. ya.. ya.. pliss” suruh Diana pada rafi. Rafi memang berada diRuang UKS menungguiku siuman bersama Diana. Bukan karna ada perasaan atau gimana, mungkin Rafi berada disini karena merasa bersalah karna yang menyebabkan aku seperti ini adalah dia. –Dengan tidak sengaja–

“iya iya “ Rafi pun segera berlari menjalankan perintah Diana.
Tak lama kemudian, Rafi kembali ke Ruang UKS membawa Tas sekolahku. Diana langsung mengambil obat yang ada di Resleting depan tas ku. Lalu meminumkannya untukku.  Rafi yang tak tahu menahu tentang obat itupun tak tinggal diam.

“obat apa itu din?”

“oh ini, obat Penderita darah rendah biar ngga pusing “ jawabku seadanya.  Memang, setelah pemeriksaan beberapa hari yang lalu dan aku divonis menderita darah rendah aku dianjurkan untuk meminum obat ini secara teratur. Aku tak memikirkan apakah ini benar adanya atau tidak.tapi yan`g jelas, aku hanya ingin menuruti omongan mamah saja agar meminum obat ini.
Tak lama kemudian, Rafi mengantarkanku pulang. Dengan alasan ia ingin menebus kesalahannya tadi. Aku pun hanya mengiyakan saja. Selain karna memang mumpung ada kesempatan, aku memang sedang malas jika harus pulang sendiri.

bersambung..
 

Senin, 13 Januari 2014

Near. -Part2-



Near
PART 2.
Author : Hasri Imroatul Izza
Follow @izzayaaku
Tinggalkan jejak dengan like dan coment ya:) jangan jadi pembaca gelap:p
Kritik dan saran ditunggu :))


 Tasya melirik jam tangan biru dongker yang melingkar dipergelangan tangan kiri’nya. Tertuliskan pukul 15:03.
‘cisshh. Udah 1jam lebih gadis ini duduk ditemani satu buku tipis yang sedari tadi lumayan membuatnya tak lagi gerah. Yeah. Hari ini memang hari apes baginya, mungkin saat ini dewi fortuna bukan berada dipihaknya.

“sampai kapan mau disini?”

Tasya mendongakkan kepalanya. Mencari tau darimana asal suara yang sepertinya berbicara kepadanya. Diddepannya, terdapat lelaki dengan motor cagiva merah miliknya. Namun, tasya masih belum bisa mengetahui siapakah gerangan manusia ini karena wajahnya tertutup oleh helm full face yang ia kenakan.  Tasya masih diam tak bergeming. Sesaat kemudian, pria ini membuka kaca helmnya sehingga saat ini Tasya bisa dengan mudah mengetahui siapakah gerangan sosok yang ada didepannya. Daan..

“Difa?”

Gadis ini masih tak bergedip mengetahui bahwa sosok yang ada di depannya ssaat ini adalah difa, sahabatnya sendiri. Tasya masih tak bergeming dengan mulut membuka.  Ia masih kaget rupanya. Namun, ia bukanlah kaget karna melihat Difa yang berada didepannya. Namun ‘bagaimanakah difa tau kalau saat ini Tasya berada disini? Ikatan batinkah? Ah entahlaah.


“mau sampai kapan ngelamun terus?”

“kok lo tau gue disini?”

Tanya Tasya yang sama sekali tak menghiraukan pertanyaan difa. Terlihat yang ditanya melengos nafas panjang..

“jelaslah gue tau. Bokap nyokap lo ngga bakal ada waktu buat lo karna mereka selalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. kakak lo? Dia juga ngga bakal njemput lo karna saat ini dia lagi sibuk nyelesein scripsi. Sedang saat ini lo ngga bawa hp jadi ngga bisa nelfon Andri, salsha aau gue. Iyakan?”

Tasya tercengang. Bagaimana Difa tau sampai sedetail itu? Ah namanya juga sahabat dari SD wajar kalau dia tau. Tasya tak memikirkan ini terlalu dalam.

“tapi..bukannya lo masih kesel sama gue? Sedari dikelas aja lo ndiemin gue.”

“se-kesel – keselnya gue tetep ngga akan tega ngeliat sahabat ceweknya sendirian, panas-panasan , desek-desek’an sampai keringetan kaya  babi abis mandi gini”
Ucapnya bercanda namun keliatan sangat ketus. Sedang Tasya hanya melengos.beginilah sifat sahabatnya.

“lo masih kesel ya? Maaf. Gue..”

“berhenti ngucapin kata maaf. Gue ngga marah. Buruan naik. Panas tau ngga-__-“

“yaya”

‘BRMMM’
Motoor yang dikendarai Difa pun kini telah melaju kearah tujuannya yang entah akan kemana.
Ramainya jalanan ibukota tak menghalangi laju motor ini. Ia masih bisa terselamatkan dari penyakit andalan yang menimpa kota Jakarta. Yah ia masih bisa terselamatkan dari ‘kemacetan’ . tentunyaa karna saat ini ia mengendari kendaraan roda dua. Sehingga dengan mudahnya ia menyelip dan meliuk-liukan motornya dari kendaraan-kendaraan didepannya. Sudah merupakan hal yang wajar tentunya.

**

‘Tap Tap Tap’


Suara sepasang kaki langkah beriringan memasuki bangunan yang besar dan mewah ini.  Terlihat sekali bahwa saat ini orang ini menarik paksa orang disebelahnya. Sedang yang ditarik tak berhenti untuk mengeluarkan kekesalannya karna perlakuan temannya ini.


Ia tak berhenti menanyakan maksud orang disampingnya mengapa ia mengejaknya ke tempat besar mewah dan dikunjungi banyak orang yang tak lain, mall ini. Kenapa ia mengajaknya kesini? Mengapa ia mengajaknya kesini saat kondisi ‘pakaian’nya sedang tergolong berantakan bak babi dimandiin?  Terlihat sekali pengunjung-pengunjung sesekali menoleh kearah 2sejoli ini. Eh lebih tepatnya ‘gadis berkeringat’ ini._. Gadis ini masih tak mengerti dan masih terus berontak.


“Tunggu disini.” Perintah seseorang yang sedari tadi menggeret tangannya saat berada didepan sebuah toko baju. Dan memasukinya. Mau apa? Entahlah.

“lo mau ngapain dif?” tanya gadis ini setengah berteriak pada sosok yang saat ini mulai menjauh yang tak lain sahabatnya sendiri, Difa. Sedang yang ditanya mendengar, namun hanya sebatas menoleh kearah  Tasya dan melemparkan seutas senyum. Apa maksudnya? Apakah ia akan memberikan hadiah kepada Tasya? Atau akan memberikan surprice untuknya? Tapi kan ulang tahun gadis ini masih 1bulan lagi. Ah sudahlah tak perlu berfikiran tingi karna jika jatuhh saakit.-.

‘sahabat yang penuh misteri’ Gumam  Tasya

Tak lama, Difa keluar seraya menenteng tas keresek berisikan apa tak tau.

“nih. Masuk kekamar ganti dan gantiseragam lo sama pakaian ini”
Difa menyerahkan keresek yang sedari tadi dibawanya. Dan menuruh tasya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang Difa belikan tentunya. Namun Tasya masih tak bergeming, ia hanya mengerutkan kening .

“gue tau baju lo basah kena keringet, gue juga tau kalo sedari tadi orang-orang mandangin lo. Maka dari itu gue ngajak lo kesini biar sekalian beli baju buat lo pakai. Sekarang lo pakai gih. Kamarpas ada diuju ng sana, setelah itu kita cari makan karna gue tau lo pasti belum makan”

Ucapan lelaki ini tadi telah berhasil membuat Tasya kaget. Difa membelikannya baju dan nanti akan mengajaknya makan? Tumben sekali dia peduli pada Tasya. Namun,  Memang tadi difa mengucapkan sederet kalimat yang secara tidak langsung mengartikan bahwa berarti ‘ia peduli’  dengan nada ketus seakan tak peduli seperti biasa. Namun tasya tau dibalik keketusan dia, Difa peduli terhadapnya.
Ia pun tak terlalu memikirkannya. Langkahnya melaju kearah ujung sesuai  dengan apa yang di instruksikan sahabatnya, Difa.

‘Tap Tap Tap’

Langkah kaki Tasya memasuki kios baju dan menuju kamar pas sesuai dengan yang Difa tunjuk  untuk mengganti seragamnya dengan pakaian yang telah dibelikan Difa tadi.


**

Seseorang mampu menghipnotis orang yang berada didepannya. Dengan langkah santai,  orang ini menuju ke arah seseorang disana yang tengah menunggunya.
Ia melangkahkan kakinya dengan santai seraya membawa keresek yang diyakin adalah baju seragamnya.

“hey” sapanya pada sosok lelaki yang sedari tadi memandangnya dengan tatapan yang entahlah.  Namun yang disapa masih diam seakan tak mendengar apapun.

“cantik” gumam lelaki ini pelan, bahkan sangat pelan. Ia sangat yakin bahwa perkataanya barusan tak akan didengar oleh siapapun. Karna ia mengucapkannya dengan teramat pelan.

“gue emang cantik dari dulu kalii:p matanya kedip dong:p” tak disangka, ternyata ucapan lelaki ini didengar oleh gadis didepannya yang tak lain Tasya. Lelaki ini tersadar dari lamunannya dan merutuki dirinya karena telah mengucapkan kata itu.

“apaan sih lo”

“oh jadi lo ngga kedip gitu karna terpesona dengan kecantikan gue yaa?haha”

“pede lo!! Gue heran aja  perasaan gue mbeliin baju lo baju yang paling murah dan jelek menurut gue deh. Tapi kenapa dipake lo bagus aja gitu. Heran aja”

“yang namanya cantik ya mau pake baju jelek kek murah kek kalo emang dasarnya cantik mau gimana lagi haha”

“stop ke PD’an-_- yuk ah cari makan. gue tau lo laper.”

“kita mau makan dimana?”

“udah ikut gue”


‘TapTap Tap’

Suara langkah beriringan menghasilkan suara yang tak sebegitu nyaring. Dua sahabat ini berjalan beriringan dengan tangan saling menyatu satu sama lain. Membuat siapapun yang melihat mereka sekarang pasti akan mengatakan bahwa mereka adalah lebih dari seorang sahabat.  Meski sebenarnya mereka hanya ‘sebatas sahabat’.

Karna dilihat dari fisiknya pun mereka berdua begitu serasi layaknya sepasang kekasih. Si  cewek  yang saat ini hanya mengenakan kaos berukuran besar warna softpink dengan jeans biru dongker panjang juga disertai rambut yang hanya digerai tak beraturan mampu membuat siapapun pria yang melihatnya seakan terhipnotis akan kecantikannya yang natural.  Sedang si cowok yang tak lain difa hanya mengenakan jeans hitam dengan jumper abu-abu yang menyelimuti tubuhnya. Hm sahabat yang begitu serasi._.

Langkah mereka berhenti disebuah Restoran sea food yang berada persis dibelakang mall ini. Mereka sengaja ke kedai sea food ini dengan berjalan kaki.. difa yang mengusulkan. Entah apa maksud dan tujuannya.

Dua sejoli ini segera memasuki restoran ini, mencari tempat yang kosong yang akan mereka duduki.
Langkah kaki beriringan berjalan menuju ke arah pojok kanan Restoran karna memang hanya tempat itulah yang tersisa.
Melihat raut wajah Tasya yang terlihat sekali menahan lapar, Difa pun memutuskan untuk segera memanggil sang pelayan guna  memesan beberapa makanan dan minuman yang diinginkan Tasya maupun dirinya.

“lo pesen apa sya?”
Difa menanyakan makanan apa yang ingin ia pesan pada gadis didepannya. Sedang yang ditanya, terlihat sedang sibuk sendiri merogoh tas lengannya. Mencari sesuatu yang entah apa tak tau.

“samain sama lo aja deh”
Jawab sang gadis yang tak lain Tasya ini tanpa menatap ataupun ha ya sekedar menoleh.
Difa pun akhirnya memesan 2  Udang bakar saus Tomat dan 2 just Alpukat untuk meinumannya. Setelah berbincang dengan sang pelayan untuk memesan, sesaat sang pelayan pun melangkahkan kakinya menuju kearah dapur mungkin (?)._-


Setelah kepergian pelayan, Difa tak henti menatap gadis didepannya sekarang.
Difa mengerutkan keningnya, menandakan bahwa ia sedang heran . ‘apa yang dilakukan tasya?’ ucap batinnya. Namun, ia tak lama otaknya pun bekerja dan menangkap sesuatu yang ia yakini adalah maslah yang Tasya hadapi saat ini. Dia pun memilih diam dan membuka ponselnya untuk menghilangkan penatnya.


“gue lupa ..”

“gue yang bayar” potong cepat Difa cepat yang sepertinya tau apa yang akan diucapkan Tasya, yah memang dia sedari tadi mencari sesuatu didalam tas lengan miliknya yang tak lain adalah dompet, dan gadis ini lupa tidak membawa dompet.
Kemudian, gadis ini menganggukan kepalanya dan kembali terdiam.


Hening. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut sepasang sahabat ini. Mereka terlarut dalam fikiran masing masing sepertinya. Entah apa yang membuat mereka menjadi saling canggung seperti ini. Padahal, sesaat sebelumnya masih terlontar beberapa lelucon ataupun katakata yang membuat mereka bisa tertawa lepas, tak seperti ini. Diam dan saling canggung satu sama lain.

“gue masih heran kenapa lo tadi bisa njemput gue dihalte. Padahal kan lo masih kesel sama gue?”

Tanya tasya mencoba menghentikan keheningan ini. Sedang yang ditanya, ia mendongakan kepalanya menatap tasya. Dan..

“perasaan lo dari tadi nanya itu mulu. Penting bgt ya gue jawab?”

“ya kan gue Cuma pengin tau aja udah”

Pria ini mengeloskan nafas berkali-kali..
“gue dirumah ngga tenang mikirin lo. Gue khawatir sama lo. Gue takut lo kenapa-kenapa. Gue peduli sama lo. Lo kan sahabat gue dari kecil, mau senyebelin apapun lo ya gue tetep peduli. Lagian kalo lo ilang, gue juga kan yang repot. Orang tua lo juga pasti nyalahin gue karna gue sahabat kecil lo. Iya kan?”

Ucap Difa dengan nada seperti biasa. Ketus. Meski dalam perkataannya tadi dia mengucap kata ‘peduli’ namun dilihat dari raut muka saat mengatakan kalimat tersebut sama sekali tak memancarkan kepedulian, ataupun raut ke’khawatiran dari raut wajahnya. Namun, ah sudahlaah Tasya sudah terbiasa mendapati hal ini.


**

“ngga mngkin!! Ngga mungkin!! Ini ngga mungkinnn!!!! Tuhan ini ngga mungkin!!”

Seseorang berteriak tak beraturan didalam kamarnyaa. Lebih tepatnya dalam kamar mandi kamarnya. Ia terus mengatakan ‘ngga mungkin!!!’ apa yang terjadi?
Dari raut wajahnyaa, siapapun tau bahwa gadis ini sedang mengalami masalah yang besar. Yah. Sangat besar.

2jam berlalu, namun tangis gadis ini tak kunjung mereda. Bahkan semakin deras hingga sesenggukan. Matanya yang tengah sembab tak berhentinya menatap sesuatu yang ia pegang sedari tadi.  Benda yang membuat dia shock.stres.dan frustasi.
Ia sangat shock saat ini. Air shower yang tumpah membasahi tubuhnya tak mengurangi kesembab’nya saat ini. Ia terus menangis dan menangis mengetahui apa yang terjadi saat ini. Yah fatal memang.

Ia terus menjerit sepuasnya karna ia tau saat ini rumahny masih dalam keadaan sepi, orangtua nya sedang pergi mengurusi bisnis yang entah kemana, adik satu-satunya yang tak kunjung pulang sekolah sampai saat ini dan pembantu yang sedang izin pulang kampung untuk beberapa hari kedepan.


‘Tap Tap Tap’

Terdengar suara langkah kaki yang sepertinya mengarah kearah tempat yang saat ini gadis ini tempati. Ia pun segera meredakan eh lebih tepatnya mencoba memelankan tangisanya. Gadis ini berusaha untuk menghentikan jalur air mata yang sedari tadi tak hentinya dilalui oleh butiran-butiran airmata. Ia  menatap benda yang sedari tadi berada dalam genggamanya yang tak lain merupakan benda terburuk yang pernah ia temukan. Dengan cepat ia segera menyembunyikan benda ini pada kantong belakang pada celana yang ia gunakan saat ini.
Berharap siapapun tak akan pernah mengetahui akan hal ini.

Bersambung...