Jumat, 20 Oktober 2017

perihal, r i n d u.

"aku punya tips baru, mau tau?"

"mengenai?"

"rindu"

"ah. mau mau mau!"
kataku, sebegitu antusias.

"antusiasnya. biar ku tebak, kamu pasti pecinta rindu"

kali ini, dia menerka. 
dan tak bisa kupingkiri bahwa terkaanya tidaklah meleset. 
aku, memang si pecinta rindu. Namun kali ini hanya diam yang kujadikan jawaban. tak ingin ia mengetahui lebih dalam akan ini.

"rindu itu jahat. kalau rindu, diam saja. jangan berkutik. biar rindunya hilang, kamu juga tidak perlu repot-repot merasa"

"itu tipsnya?"

"iya. untuk kamu kalau-kalau ketemu sesuatu yang jahat itu (re:rindu)"

-
kamu bohong. 
nyatanya, kamu bahkan lebih jahat dari rindu yang kamu deskripsikan jahat. kamu lebih jahat karena telah membuat sesuatu yang kamu anggap jahat itu menggerogotiku.
ya, karena rindu -hal yang kamu anggap jahat- telah menimpaku. 

dan kamu, 
alasan dibalik itu.

bo-doh.

"bodoh" katanya memecah tatapan kosongku.

sementara aku, hanya mampu menatap tanpa sepatah kata untuk meresponya. Masih berkutat pada tatapan yang entah pada siapa aku tujukan.

"sampai kapan?"
tanya-nya yang tak mampu kucerna betul.

"ha?"
kucoba membuka suara, membalas kata demi kata yang terlontar dari mulutnya.

"sampai kapan terus menahan sedang hati ingin berontak?"

"berontak saja. adakalanya hati juga ingin dibela. belajarlah untuk tidak egois, Arsya"
sambungnya lagi.

"tidak bisa"

"lagi-lagi atas dasar cinta?"

"tidak. kau bahkan tak akan mengerti"

kali ini, Reno -sahabatku- yang tak lagi mampu mencerna perkataanku.

"aku justru sedang membela hati. Iya, aku seperti ini untuk menyelamatkannya. karena aku tau, berontak -dan kemudian berpisah- dengannya adalah hal yang amat hati benci. dan aku, sedang berusaha mati-matian menyelamatkannya. doakan aku"

-
kataku,
diiringi helaan nafas
yang kian menyesakkan.

Perihal Pedih Yang Tiada Berujung



Tema : Kota Berbicara Tentang Kenangan.

Pernah suatu waktu kamu merasa kamu tak lagi kian berharga? Merasa bahwa setiap  helaan nafas yang perlahan keluar dari hidungmu terasa kian menyesakkan? Atau bahkan , derap langkah kakimu terasa menggantung beban yang begitu dahsyat? Tak apa, tak usah merasa sendiri. Karena pada dasarnya, kita sama.

Seseorang menepuk pundakku kala mataku masih tak bergeming pada objek yang sudah sedari tadi aku tatap.                                                         

“Mitaaaaa! Tau nggak si gue seneng banget besok orang tua gue kesini!!”

“Serius demi apa?!duh gue nggak tau si harus sedih karena  bakal ninggalin gue buat sama mereka atau seneng karena gue ngga terus-terusan budeg denger tangisan homesick lu”

“Ih jijik banget gue, lu suka sama gue dah Mit?”

“Kagaklah bangke. Dah sekarang lu manfaatin bener-bener dah waktu sama orangtua nanti. Karena 
ngga semua orang bisa seberuntung lo”
Entahlah kata perkata itu keluar dari mulut dengan tulus

“Iye iye sayang, orangtua lu ngga kesini juga? Kan liburan tuh masa kerja mulu sih orangtua lu?”
 
“engga. Yaudah gih buru balik apartemen beres-beres sama saran gue sih lu kayak ngasih kejutan kecil-kecilan buat orangtua lu gitu deh. Yaa setidaknya lu masak kek atau bikin kue sederhana gitu”. Jawabku, seolah berusaha mengalihkan perbincangan.

“Ye berasa sama pacar aja masak bikin kue segala romantis amat”

“Jadi menurut lu romantis Cuma bisa ke pacar? Pacar diatas orangtua dong berarti? Hati-hati nanti nyesel tau rasa lho”

“Ih mita iyaiya ahh lu serem amat dah sebel gua. Yaudah gua balik dulu ya. Lu jaga diri dah bae-bae 
nggada gue nggausah aneh-aneh, makan teratur, jangan kecapean , gausah begadang pokoknya nggausah nglakuin yang ngga penting”

“Din, jijik gue dah sumpah”

“wakakakak bersyukur kek gue peduliin. Dah ah gue cabs dulu yak bye”
Seketika, hanya sebuah anggukan yang mampu aku beri sebagai respon. Lagi-lagi, mataku menatap kosong pada objek yang selalu sama, l a n g i t. Entah apa yang membuatnya spesial hingga mampu membuatku nyaman tanpa kedip. Jutaan memori terputar dengan sistematis. Dan aku, menjadi penikmat akan itu. Mata tak lagi mampu membendung, bibir tak lagi kuat menahan. Hingga tanpa seizin siempunya, mereka berkolaborasi dengan indah. Ya, membentuk sebuah tangis, seolah begitu peka akan adanya hati yang kian teriris.

Akan aku tegaskan sekali lagi, aku perempuan lemah. Bertahun-tahun menjadi seorang perantau seringkali membuat aku penat akan semua hal. Bersahabat dengan lampau adalah hal yang paling aku cinta. Terlarut dalam pedih telah kujadikan rekan selama beberapa tahun ini. dan merindu adalah hal pokok yang telah aku lantik sebagai hoby baru.
Aku bukanlah sosok mandiri. Namun merupakan jiwa yang pandai berpura-pura mandiri. Ya, setidaknya lebih tepatnya seperti itu.

**
Hari silih berganti. Waktu berputar seakan tak mau diajak kompromi untuk diundur atau bahkan sekedar memperlambat jalannya. Kepenatan tak lagi terhempaskan dari dalam tubuh. Merasa dunia tak lagi berpihak padaku kian terasa. Coba tebak, apa yang biasa aku lakukan ketika merasa demikian? Ya, mencari motivasi. Sayangnya, aku bukanlah seorang gadis dengan kecantikan yang membahana, atau gadis dengan polesan makeup yang membuatnya anggun, atau bahkan bukan pula gadis dengan segudang prestasi, jadi tak akan mungkin jika motivasiku adalah seorang le-la-ki.

Aku lantas menatap sebuah foto ukuran 10R yang sengaja aku pampang dalam kamar kos-ku. Terpampang jelas raut bahagia dari 4 manusia yang telah membentuk sebuah keluarga kecil nan harmonis.  Foto yang diambil kala aku masih bahagia-bahagia nya menjadi mahasiswa baru menjadi saksi bisu akan segala kerinduan yang kian menggebu. Tak bisa ku elak, air mengalir deras dari dalam mataku. Segera aku ketikkan beberapa nomer dari ponsel, kudekatkan pada telingaku. Lagi-lagi hanya suara wanita yang tak ku kenal yang kudengar. Segera kututup sambungan itu lantas kembali aku gerakan jemari pada tombol-tombol yang lain.

”Ada apa nak?”

“Mita masih belum bisa adaptasi bu. Mita mau pulang”

“Lho, namanya pejuang kok menyerah. Percayalah nak, ini Cuma batu kerikil , jalan kamu untuk jadi sukses baru kamu pijaki. Yuk bersyukur. Yuk semangat. Banyak yang pengin kayak kamu lho, masa kamu yang udah kesampaian jadi menyerah begini?”

“Tapi bu, Mita takut, disini beda sama Jogja bu..”

“Sekarang ibu nanya, Mita punya Tuhan ngga?”

“Punya”

“Nah. Kenapa harus takut sedangkan Mita punya Tuhan yang Maha Segalanya? Percayalah sayang, akan ada kebanggaan tiada terkira setelah ini. Semangat yuk sayang, ibu aja selalu semangat untuk cari uang buat Mita masa Mita gak semangat. Anak ibu harus kuat ah. Ok?”

“Ok ibu”

“Yaudah setelah ini langsung sholat ya sayang minta perlindungan sama Allah jangan lupa. Semangat sayang. Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam bu”

Aku menutup ponsel dengan hati teriris. Linangan air mata tak lagi mampu terbendung. Bibirku bergetar. Erangan demi erangan terlontar dari mulutku, seolah mewakili akan adanya separuh jiwa yang telah menghilang. Tak lama, aku segera bangkit. Menatap diri pada cermin usang yang sengaja dibawakan ibu dari Jogja beberapa  tahun silam. Senyum kembali terukir pada bibirku, semangat-ku kembali terisi entah bagaimana. Tidak, aku bukanlah pengidap Bipolar. Hanya saja, inilah aku ,  beginilah aku, dengan segudang cara unik untuk mengatasi diri.
Baru kusadari bahwa waktuku hanya tinggal menghitung bulan. Tidak, bukan waktu hidup didunia, namun waktuku dengan gelar mahasiswa akan segera berakhir mengingat ini merupakan tahun terakhirku sebelum mendapat gelar sarjana.  Tak kusangka, waktu telah berlalu begitu cepat. Tak kusangka, aku memiliki hati yang begitu kuat menahan beban dari berbagai aspek, tak kusangka, otaku mampu bekerja dengan baik mengingat batin acapkali tertekan akan kelam.

**
Tanganku masih senantiasa menggenggam kertas yang paling diimpi-impikan bagi semua mahasiswa tingkat akhir. Kertas bertuliskan undangan untuk orangtua atas pencapaian gelar cumlade yang telah kuraih. Hatiku diterpa sebuah kedelimaan batin. Sebuah kedelimaan yang amat menyiksa. Aku tidak tau haruskah aku senang akan gelar ini, atau bahkan sedih karena itu bahkan tak akan berarti bagi siapapun? Tak akan lantas membuat orangtuaku sekedar menelfon untuk memberiku ucapan, dan.. Tak akan mampu mengubah sebuah kekelaman abadi dalam hidupku.

Hari yang dinanti telah tiba—tidak.bukan aku yang menanti. Aku justru orang yang paling tidak menginginkan hari ini—Semua orang telah nampak cantik dengan kebaya anggun yang melekat pada tubuhnya, juga polesan makeup yang menempel pada raut bahagianya, ditambah dengan dampingan orangtua yang semakin menambah aura kebahagiaan pada mereka. Namun, tidak denganku. Aku hanya mampu merutuki diri mengapa aku sedemikian menyedihkan. Menyandang seorang sarjana bergelar cumlaude dan tanpa pendamping. Dina—sahabatku— , dia bahkan tidak bisa mendampingi aku yang lulus lebih dulu darinya karena sedang diluar kota. Tak usah dibayangkan, bahkan akupun tak sanggup jika diminta melihat sebuah rekaman semesta akan hari ini.

Seseorang menepuk pundaku, memintaku untuk memotret beberapa gambar dirinya dengan keluarganya. Sial. Tak adakah satupun yang berpihak padaku sekali ini saja? Atau bahkan tak usah berpihak, hanya sekedar diam dan tidak menambah bebanku kali ini saja. Tidakkah mereka liat ada raut tak kuasa dalam diriku?. Dengan senyum yang dengan susah payah aku perjuangkan untuk terlihat tulus, kuanggukan kepala. Potret demi potret telah aku ambil. Matanya berbinar, seolah merasakan kepuasan atas hasil potretanku yang tak lupa ia iringi dengan ucapan terimakasih. ‘Sebuah keluarga bahagia tanpa celah’ itu pendeskripsianku untuk mereka. Nyatanya, hatiku tak sepenuhnya sekuat baja. Benteng pertahanan ku hancur lebur kala itu juga.
Saat itu juga, tangisku meledak tak terkontrol. Segera saja ku ambil tas dengan segala berkas penting kelulusan dan langsung menuju stasiun terdekat dengan ojek pangkalan. Kutanyakan kereta pemberangkatan Jakarta-Jogja. Alhamdulillah, kali ini nasib baik berada dipihakku. Orang-orang memandangku dengan tatapan aneh. Wajar saja. Siapa yang tak menganggap aneh melihat seorang wanita dengan balutan kebaya biru dipadu polesan makeup yang perlahan luntur karena isak tangis? Iya. Semenyedihkan itu. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, bahkan orangtuaku. Karena pada dasarnya, mereka memang tidak mampu untuk datang dihari yang seharusnya menjadi bahagiaku.  Dan sebagai anak, bukankah harus bisa lebih mengerti?

Perjalanan 8 jam tak terasa olehku yang hanya mampu habiskan dengan sesuatu yang sama, menatap kosong sang mentari dengan tangan yang masih setia menggenggam kertas yang akan aku pamerkan nanti pada keluargaku. Kakiku kini telah berbijak ada tanah yang sama seperti beberapa tahun lalu. Aku berterimakasih pada teknologi karena dengan adanya fitur ojek online, tak lagi perlu capek bernegosiasi dengan para angkutan umum yang lain yang hanya mampu memberi ongkos tertinggi.
Aku telah sampai pada tujuan. Langkahku terhenti. Mataku, tak lagi mampu mendeskripsikan tempat ini. Dihadapanku, terbentang rumah usang tiada berpenghuni. Puluhan sarang laba-laba bergelantung pada setiap sisi rumah. Debu pun menyelimuti setiap sisi hingga tak lagi dikenali sebagai sebuah rumah. Aku injakan lebih jauh tempat ini. Tanpa perintah, jutaan memori terputar dengan sistematis bagai film romantis yang beberapa waktu laluku tonton.

Kutatap ruangan depan yang dahulu dijadikan ruang tamu. Kutatap penuh arti, terlihat seorang anak kecil berlarian dengan seorang wanita paruh baya yang berusaha menangkapnya untuk sekedar menyuapkan satu sendok nasi. Suara gelak tawa memenuhi ruangan kala sang wanita paruh baya berhasil menangkap si gadis kecil. Dan, itu aku. Belasan tahun lalu.

Kutelusuri lebih lanjut pada ruangan yang aku kenal betul. Terlihat seorang pria dewasa memarahi gadis remajanya yang meminta izin untuk pergi pada malam hari. Gadis itu  yang tak terima akan itu lantas menggebrakan pintu kamarnya dan menangis dibalik selimut hingga tertidur. Saat itu pula, terlihat seorang pria dewasa masuk dalam kamarnya dengan raut penyesalan tiada terkira, lantas diam-diam mengecup putrinya yang sedang terlelap itu. Dan lagi-lagi, itu aku. Beberapa tahun lalu.

Aku melangkahkan kaki pada teras rumah. Disitu, terlihat jelas bagaimana sebuah keluarga kecil berusaha melepas kepergian salah seorangnya untuk menuntut ilmu di kota orang. Sebuah tangis kebahagiaan juga kesedihan menyelimutinya. Dari matanya, terpancar jutaan kekhawatiran akan anak gadisnya. Kata-kata penyemangat, berbagai nasihat dan berbagai pengharapan terlontar dari mulutnya. Sang gadis yang kala itu telah mantap merantau pun kian melangkahkan kaki meninggalkan keluarga dengan isak tangis. Berharap akan kembali beberapa tahun kemudian dengan kabar gembira. Sekali lagi, itu aku. Tepat 3,5 tahun sebelum hari ini.

Dan lagi, itulah hari ini. hari yang begitu aku nanti beberapa tahun lalu untuk memberi kabar gembira ini. Hati yang begitu teriris membawa kakiku pada suatu tempat. Erangan demi erangan tergema dari mulutku. Aku sampai pada suatu tempat dimana menjadi tempat yang palingku benci. Tempat yang dengan tega memisahkan seorang gadis remaja dengan keluaraganya. Ya. Aku telah tiba pada pemakaman. Tempat dimana selama ini mereka yang aku anggap acuh dan tak peduli denganku tinggali. Tak ada apapun yang spesial. Tak lagi terlihat sebuah gundukan, hanya ada papan bertuliskan nama Ayah, Ibu dan Adik kecilku yang sekarang serata dengan tanah disekitarnya. Hari teramat cerah, namun hujan tak mampu elak dari mataku. Aku menangis deras, merasakan erangan demi erangan yang kian mencekat dada. Melihat namanya saja, langsung ku ingat betul bagaimana aku pernah hidup teramat bahagia dalam limpahan kasih yang mereka berikan.

“Mah, Pah, Dik, coba liat sekarang Mita bawa apa?”

“Bawa ini pah, Mita sekarang sudah lulus”

“Bahkan dengan predikat cumlaude”

“Kalian pasti bangga kan ngeliat Mita nyatanya sanggup menyelesaikan kuliah 3,5 tahun?”

“Tapi Mita nggak mah pah, wisuda tanpa adanya kalian tak lagi berarti”

“Mungkin kalau kalian ngga minta Mita untuk sukses kala itu, Mita sudah mengisi disini pah mah, disebelah kalian. Kita sudah kembali bersama.”

“Mah Pah Dik, boleh ngga Mita memohon satu hal? Temui Mita sekarang mah, peluk Mita mah, beri Mita selamat atas keberhasilan Mita hari ini, peluk Mita, Mita mohon. Jadikan Jogja kembali menjadi saksi seperti beberapa tahun silam mah pah..”

Suaraku bergetar, rasanya seperti ingin meminta malaikat maut untuk membawaku saat ini juga agar bertemu dengan mereka. Seperkian detik kemudian, entah hanya perasaanku saja atau memang demikian adanya, kurasakan kehangatan dalam tubuhku. Seolah merasa dirangkul walau tak begitu terasa. Entah apapun itu, aku harap itu mereka. Keluargaku. Dan dengan kesadaran yang lambat laun membaik, aku mencoba bangkit. Dengan seutas senyum yang aku berikan pada mereka sebagai ucapan terimakasih atas segalanya.
            Aku kembali menelusuri jalan-jalan kota kelahiranku. Mengingat kembali bagaimana aku pernah menjadi sosok yang menyenangkan sebelum semenyedihkan ini. Tak ada rasa yang lain yang kurasa selain merasa kesakitan yang teramat dalam rongga dadaku. Hingga pada akhirnya, aku memiliki sebuah tekad. Tekad untuk mencoba kehidupan baru, mencoba merajut segala asa yang kian terbengkalai selama ini. Ditengah langkah kakiku, aku menekan tombol ‘record’ lalu kudengarkan rekaman favoritku.  

“Ada apa nak?”

“Mita masih belum bisa adaptasi bu. Mita mau pulang”

“Lho, namanya pejuang kok menyerah. Percayalah nak, ini Cuma batu kerikil , jalan kamu untuk jadi sukses baru kamu pijaki. Yuk bersyukur. Yuk semangat. Banyak yang pengin kayak kamu lho, masa kamu yang udah kesampaian jadi menyerah begini?”

“Tapi bu, Mita takut, disini beda sama Jogja bu..”

“Sekarang ibu nanya, Mita punya Tuhan ngga?”

“Punya”

“Nah. Kenapa harus takut sedangkan Mita punya Tuhan yang Maha Segalanya? Percayalah sayang, akan ada kebanggaan tiada terkira setelah ini. Semangat yuk sayang, ibu aja selalu semangat untuk cari uang buat Mita masa Mita gak semangat. Anak ibu harus kuat ah. Ok?”

“Ok ibu”

“Yaudah setelah ini langsung sholat ya sayang minta perlindungan sama Allah jangan lupa. Semangat sayang. Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam bu”

Masih ingatkah percakapan itu ? Ya. Itu tak lain dan tak bukan hanyalah sebuah rekaman. Masih ingat kala aku menyebutkan hanya suara wanita yang selalu mengangkat ketika aku menelfon orangtua? Ya. Itu hanyalah suara operator dengan perkataan andalanya, yang menyebutkan tanda nomer tak lagi aktif. Bagaimana mungkin nomer orangtuaku masih aktif jika hp-nya pun tak lagi ada? Itulah mengapa orangtuaku tak pernah menanyakan perihal kabar tentangku. Itulah mengapa mereka tidaklah hadir dalam acara wisudaku. Itulah.. dan perihal percakapan diatas, itu hanyalah sebuah percakapan lama yang sempat aku rekam. Sebuah kenang-kenangan terakhir dari Ibuku sebelum kecelakaan pesawat menimpa mereka kala ingin menjenguk anak gadisnya yang mengharuskan mereka meninggalkan anak sulungnya . Tak pernah sekalipun aku mengakui kematiannya, yang aku tau, mereka selalu hidup. Setidaknya, hidup dalam rulung hati yang tiada duanya.

**
Dan..disinilah aku sekarang berada. Disebuah kota klasik impian banyak orang. Sebuah kota dengan sejuta kenangan. Seutas senyum terukir kala aku menatap pantulan diriku didepan cermin. Menatap diri yang nampak terlihat ceria. Ya. Kali ini aku mencoba mengubah hidup, mengubah pribadi menjadi lebih positif , mencoba membangkitkan aura ceria ku yang telah lama tertimbun kelam. Terimakasih Jogja telah menjadi saksi bisu sebuah kebahagiaan tiada terkira. Terimakasih Jogja, telah menjadi bak penampung sejuta kenangan dari seorang gadis yang kini tak lagi semenyedihkan itu. Dan.. Selamat Pagi Jogja, Mita-mu yang ceria kini telah bangkit.

Kamis, 13 Juli 2017

sweetyz

'dia terlalu sempurna. lantas, untuk apa kamu bersamanya?'
seseorang menepuk pundak saya seraya berkata demikian. Alis saya mengernyit, tak mengerti arah pembicaraanya.

'ha?'
hanya itu yang mampu saya lontarkan. berharap dia mengerti maksud saya untuk memintanya untuk mengulang dengan lebih jelas.

'dia terlalu sempurna untuk kamu. untuk apa kamu terus bersamanya?'
ucapnya sekali lagi.dan lagi, saya terlalu dongo dalam menafsirkan.

'dalam hal?'

'everything. he has everyting. dia tampan, bertanggung jawab, bahkan bisa dikatakan cerdas. benar-benar perpaduan yang pas untuk dikatakan sempurna, bukan?'

'lantas?'

'lantas?ahaha  omg how stupid u are. lantas mengapa kau masih terus bersamanya? untuk apa? karena bahkan tanpamu saja dia sudah memiliki segalanya. dia sanggup menghandle segalanya. bukankah begitu?'

pupil mata saya melebar. otak saya tak lagi sanggup berfikir jernih. dan yeah. benar juga katanya; dalam benak saya berkata.dan lagi, saya hanya diam mendengarkan.

'bahkan, mungkin kamu baginya tidak berarti apa-apa. atau mungkin, kamu baginya hanya benalu. hanya saja, dia tak begitu tega mengatakanya padamu. tapi, tidak kah kamu merasa demikian?'

'tidak. dia cinta saya'
ucap saya, mencoba setenang mungkin.

'hahahah semoga'
katanya mengakhiri pembicaraan sore itu.

namun tiba-tiba langkahnya terhenti. dia memandang kearah saya.
'dan semoga, kamu cepat sadar. dia sudah hebat. tak butuh kamu untuk membuatnya sempurna. dia sudah paket lengkap. tak perlu kamu untuk melengkapi hidupnya'
katanya sebelum akhirnya menghilang dari pandangan.

tanpa sadar, airmata menetes dari mata saya. entah sejak kapan.
saya lantas bercermin. mencoba menenangkan diri saya sekuat mungkin, mencoba menepis obrolan beberapa detik lalu. namun saya kalah, hati saya terlalu sensitif. saya memegangi kepala yang tak sakit. mencoba menguatkan diri sendiri. namun hati, ia selaly membenarkan.

'benar juga. dia telah sempurna. dia punya segalanya. bahkan bisa mendapatkan yang lebih baik dari saya. lalu untuk apa saya disini?'

'benar juga. ia bahkan tak pernah lagi berkata cinta. mungkin benar, dia tidak lagi butuh saya'
kan, begini jadinya. saya jadi meracau tak jelas.

'kata siapa saya tidak butuh kamu? saya sangat butuh kamu. untuk menyempurnakan agama saya, Dita'

pupil saya kembali melebar. suara itu, suara itu tiba-tiba muncul entah darimana. suara yang amat saya cintai selama beberapa tahun ini. saya membalikkan badan.

'kenapa diem?saya memang tidak pernah berkata cinta, tapi tidakkah kamu merasakan cinta dari saya?'

'apa saya masih dibutuhkan dalam hidup kamu?'

'kamu ini bicara apa. saya sangat butuh kamu; untuk menyempurnakan agama saya. bukankah itu sudah saya katakan 5tahun lalu?'

'itu sudah 5tahun berlalu. apakah masih berlaku untuk sekarang?'

'lantas untuk apa saya masih mempertahankan kamu selama ini, Dita?'

'saya kira, itu hanya bualan kosong lelaki, dan saya menjadi penikmat bualan itu, Rafi'

'ajakan menikah bukan hal sesepele itu untuk dijadikan bualan, bukankah kamu sendiri yang mengajarkan pada saya?'

'tapiada yang bilang..'

'jadi kamu lebih percaya saya, atau orang lain, sayang?'
katanya seakan mengerti akan mengarah kemana perkataanku.

.....
hening. saya tak tau harus berkata apa. yang saya lakukan hanya menggaruk rambut yang tidak gatal.

'lantas bagaimana?'

'lantas?'
lagi-lagi, aku memang seperti ini. `telmi tanpa tau waktu.

'lantas, apakah kamu mampu mewujudkan mimpi kita beberapa tahun silam?'

'mimpi yang mana? bukankah, kamu kini telah menggapai semua mimpi kamu?'

'benar. namun ada satu mimpi yang masih akan selalu saya perjuangkan?'

'apa? maafkan saya tmemang pelupa yang baik. namun kita memang telah terlalu banyak bicara mimpi sampai saya lupa mimpi mana yang kamu maksud'

'menikahimu'
katanya secepat kilat.
dan lagi, mata saya melebar. wajah saya tak lagi terkontrol. pasti sudah merah seperti tomat.

'menikahlah dengan saya untuk menyempurnakan agama saya. saya sangat butuh kamu. saya seperti ini pun karena dukungan dari kamu. amat tidak adil jika saya hanya menikmati ini sendirian; jadi, maukah kamu menikmati hasil kerja keras kita bersama?'

kali ini, dia berjongkok didepan saya. tanpa sadar, saya dan dia telah menjadi tontonan. mata saya berkaca tak lagi sanggup untuk berkedip. bibir saya kelu, tak lagi mampu berkata, atau bahkan meneguk ludah. saya hanya mematung seperkian detik hingga akhirnya saya mampu meregangkan otot leher saya untuk memberinya anggukan tanda setuju.

dan secepat kilat, dia memeluk saya erat. saya sebut, pelukan kasih.
terimakasih, telah berlaku istimewa dalam segala hal.
dan..
terimakasih senja, telah menyempurnakan sore manis ini.

-Hasrimrtlizza

Rabu, 12 Juli 2017

you've changed.


4tahun sudah saya mengenal kamu.

Namun, baru kali ini saya mencintai kamu se-gi-la ini.

Kamu sudah banyak berubah. Rambutmu tak lagi berhiaskan poni yang kala itu selalu menjadi penghalang saya untuk menatapparas tegar  kamu.

Kamu sudah banyak berubah. Kamu kini telah menjadi sosok pria yang kian dihargai keberadaanya; tak lagi dianggap biasa.

Kamu sudah banyak berubah. Menjadi sosok yang selalu dinanti-nantikan kedatangannya oleh siapapun.

Kamu sudah banyak berubah. Tawa senantiasa terlukis pada bibirmu; bukan lagi tangis yang kala itu kamu jadikan hobi saat kehilangan gadis bodoh 4 tahun lalu.

Kamu sudah banyak berubah. Menjadi sosok yang tawanya selalu dirindukan oleh siapapun.

Kamu sudah banyak berubah. Tak lagi penuh cinta (dengan saya).  Saya bersyukur kamu tidak lagi menggantungkan seluruh cinta pada saya. Saya bangga atas cara kamu yang telah menjadikan sakitmu untuk bangkit. Namun, saya masih ingat jelas bagaimana kamu memperlakukan saya dengan sebaik yang kamu bisa. Saya masih ingat jelas bagaimana kamu menggantungkan seluruh cinta yang kamu miliki pada saya. Saya masih ingat ketika kamu selalu rela menepikan motor hanya untuk membalas cepat pesan dari saya yang kala itu kamu anggap bidadari.

Saya masih ingat bagaimana kamu begitu berjuang untuk saya. Dan saya pun masih ingat betapa berengseknya saya selalu tidak menghargai kamu. Bahkan saya rasa, kata berengsek pun tak sanggup menggambarkan betapa busuknya saya kala itu. Jika suatu hari ada yang bertanya siapa orang paling tidak punya malu di dunia, tolong jawab saya.

Ya. Saya adalah orang paling tidak tahu malu didunia. Saya sudah mencampakan kamu. Namun kamu selalu menjadi baik pada saya. Saya yang selalu buat kamu tak lagi tegar selalu kamu buat senyum setiap harinya. Saya yang dahulu tak lagi menggunakan hati namun kamu selalu memastikan saya selalu aman. Betapa saya baru menyadari betapa tanggung jawabnya kamu dalam hal apapun dan pada siapapun. Kamu selalu berlaku baik. Selalu menebar hal positif. Selalu menjadi bumbu penyedap dalam persahabatan kita. Ya. Bahkan semenjak saya dan kamu memilih berpisah, saya dan kamu memilih bersahabat. Dalam hati saya berkata; betapa dewasanya kita kala itu.

Bahkan dalam persahabatan, kamu membuang jauh rasa kecewa kamu terhadap saya.  Seakan saya dan kamu tak pernah terikat oleh cinta dan terpisah oleh kejahanaman. Ah sebenarnya bukan membuang; menyembunyikan mungkin lebih tepatnya. Ku akui, caramu membuat kita biasa saja patut saya acungi 100 jempol. Karena kepiawaian kamu itu, saya dan kamu bisa sedekat nadi. Kamu mampu menjadi siapapun dalam hidup saya. Bahkan, hingga saya kamu buat bergantung kepada kamu. Ya. Kali ini, saya yang dibuat cinta. Kali ini, saya terlena. Kali ini, saya menyerah pada hati. Hati saya telah kembali jatuh; namun bukan lagi pada orang baru. Namun pada sosok lelaki yang pernah saya jadikan kekasih beberapa tahun lalu. Bahkan, saya dan kamu kini telah lebih dari seorang sahabat. Kita..sepasang kekasih.

Entah, bibir saya amatlah kelu mengucap nya. Sepasang kekasih? Ke-ka-sih? Saya dan kamu kini kembali mengukir cinta? Bagaimana mungkin kamu kembali mencinta saya? Sudah kubilang, saya memang perempuan paling tidak tau malu didunia, berani-beraninya kembali mencinta sosok penuh tanggung jawab seperti kamu. Dan kamu, karena kamu telah memilih saya lagi, gelarmu bukan lagi sang pecinta kopi. Namun pecinta saya. He he he.

Saya pernah bercerita tentang karma dan saya percaya itu. saya percaya akan selalu ada balasan atas hal apapun. Saya percaya jika kesakitan dalam hati pun akan terbalaskan hal serupa. Maka dari itu, saya siap menjadi baja. Siap membawa tameng, dan saya siap jatuh tersungkur. Mengingat seakarang yang begitu mencintai dan yang berlebihan memang selalu menyesakkan dada. Saya berharap, kamu bisa jauh lebih baik dari saya. Kamu tida seberengsek seperti saya kala itu. kamu telah sukses membuat saya kembali mencinta dan kamu tak akan ada bedanya dengan saya jika kamu balas dendam hal serupa yang saya lakukan dulu. Saya tahu kamu tidak sebodoh saya. Terimakasih, jutaan kasih saya beri untuk kamu yang telah lama pergi dan baru menampakan diri.

Kamis, 06 Juli 2017

Welcome (back), love.



Ada kabar gembira yang akan aku tujukan pada hati. Selamat, kini kau telah terbebas dari siksaan bodoh buatanku sendiri. Selamat, tubuhmu tak lagi penuh akan goresan-goresan rindu yang kian memuakan . Selamat, luka lebammu tak lagi kian menganga. Selamat, jutaan cinta aku berikan pada hati yang senantiasa menahan luka. Tak apa, karena  kini kau  telah terbebas akan itu, hai hati.
 
Tulisan kali ini aku tulis dengan penuh cinta. Bukan lagi dengan derai tangis seperti tulisan-tulisan sebelum ini. 

Tulisan kali ini aku tulis dengan senyum. Bukan lagi dengan sendu  yang kian hari kian menyesakkan.

Tulisan kali ini aku tulis dengan mata berbinar. Bukan lagi dengan mata yang kala itu membendung airmata.

Aku ingin bertanya, pernahkah kalian merasakan jatuh hati dengan sosok lalu? Ah tidak, kali ini aku tidak sedang dan tidak akan lagi membahas tentang saku yang selama ini namanya memenuhi blog-ku. Aku ingin menceritakan sosok baruku; ah tidak juga. Sebetulnya, dia sosok lama. Terlalu lama membenamkan diri dalam rulung hati hingga baru sekarang aku temukan (lagi). Sosok lama yang sudah terbenam sejak tahun 2013 lalu. 

Sebetulnya, aku masih tak percaya akan ini. Aku begitu dibuat kagum oleh dirinya. Sebenarnya lucu; bagaimana mungkin aku baru dibuat kagum jika selama ini dia-lah yang selalu mendukungku setiap waktu? Bagaimana mungkin aku baru dibuat cinta jika selama ini dialah orang no.1 paling bangga atas apapun pencapaianku? Bagaimana mungkin aku baru dibuat jatuh hati jika selama ini dialah yang selalu mengajariku arti kehidupan? Ah bukan, dia bukanlah seorang kekasih. Bukan pula sosok yang biasa kalian sebut ‘gebetan’. Namun, kita lebih dari seorang teman. Ya, kita bersahabat. (setidaknya, kala itu) 

Sekarang baru aku mengerti. Betapa status ‘sahabat’ dapat membuat segala rasa menjadi biasa. Membuat segala hal yang sebenarnya melampaui batas seakan masih dalam batas wajar. Iya, betapa aku tak pernah menyadari bahwa perhatian yang selama ini aku beri adalah bentuk dari mencinta. Betapa aku tak menyadari jika semua dukungan dan motivasi yang aku beri adalah bentuk dari kasih sayang. Betapa aku tak pernah menyadari jika tatapan kagumku selama ini adalah sebuah tatapan penuh arti dalam mencinta. Betapa aku tak pernah menyadari bahwa lelucon bahasan masalalu yang kala itu tak henti membuat ku tersenyum adalah sebuah pengharapan untuk kembali dalam masa itu. 

Ah, tak kusangka mencintai sahabat sendiri lebih rumit dari biasanya.
Namun kau tau, ini lebih asik dari biasanya. Ini lebih mendalam dari biasanya. Dan yang pasti, ini akan berjalan lebih tulus dari biasanya.

Jadi, siapapun kamu, aku ingin kau-pun mencobanya. Aku ingin kau merasakan betapa menyenangkanya mencinta sahabat sendiri, sama seperti aku. Ah tidak. Jangan. resikonya besar he he . terlebih, kau harus siap mencinta sendirian. Kali ini, aku hanya berharap; bukan hanya aku yang mencinta.

lots of love,
your bestfriend
your ex too.