Selasa, 14 Januari 2014

Near. -Part3-


Near

PART 3.
Author : Hasri Imroatul Izza
Follow @izzayaaku
Tinggalkan jejak dengan like dan coment ya:) jangan jadi pembaca gelap:p


“ngga mngkin!! Ngga mungkin!! Ini ngga mungkinnn!!!! Tuhan ini ngga mungkin!!”

Seseorang berteriak tak beraturan didalam kamarnyaa. Lebih tepatnya dalam kamar mandi kamarnya. Ia terus mengatakan ‘ngga mungkin!!!’ apa yang terjadi?
Dari raut wajahnyaa, siapapun tau bahwa gadis ini sedang mengalami masalah yang besar. Yah. Sangat besar.

2jam berlalu, namun tangis gadis ini tak kunjung mereda. Bahkan semakin deras hingga sesenggukan. Matanya yang tengah sembab tak berhentinya menatap sesuatu yang ia pegang sedari tadi.  Benda yang membuat dia shock.stres.dan frustasi.
Ia sangat shock saat ini. Air shower yang tumpah membasahi tubuhnya tak mengurangi kesembab’nya saat ini. Ia terus menangis dan menangis mengetahui apa yang terjadi saat ini. Yah fatal memang.

Ia terus menjerit sepuasnya karna ia tau saat ini rumahny masih dalam keadaan sepi, orangtua nya sedang pergi mengurusi bisnis yang entah kemana, adik satu-satunya yang tak kunjung pulang sekolah sampai saat ini dan pembantu yang sedang izin pulang kampung untuk beberapa hari kedepan.


‘Tap Tap Tap’

Terdengar suara langkah kaki yang sepertinya mengarah kearah tempat yang saat ini gadis ini tempati. Ia pun segera meredakan eh lebih tepatnya mencoba memelankan tangisanya. Gadis ini berusaha untuk menghentikan jalur air mata yang sedari tadi tak hentinya dilalui oleh butiran-butiran airmata. Ia  menatap benda yang sedari tadi berada dalam genggamanya yang tak lain merupakan benda terburuk yang pernah ia temukan. Dengan cepat ia segera menyembunyikan benda ini pada kantong belakang pada celana yang ia gunakan saat ini.
Berharap siapapun tak akan pernah mengetahui akan hal ini.


**

Tak perlu menunggu waktu lama, seorang  pelayan melangkahkan kakinya menuju meja pojok kanan untuk mengantarkan pesanan pada meja no. 5 ini  yang tak lain adalah meja tempat Difa dan tasya sekarang.
Tanpa menunggu instruksi apapun, Tasya yang memang sedari tadi terlihat lapar segera melahap makananya dengan begitu lahap. Entah apa yang membuat gadis ini berubah menjadi  hewan liar(?) Sebegitu laparnya kah sampai ia melahap makananya hingga seperti ini? Entahlaah..

Mata Difa tak henti-hentinya menatap sosok yang berada didepannya ‘lagi’ . ia masih tak menyangka bahwa gadis yang berada didepannya saat ini adalah gadis yang telah ia kenal belasan tahun silam.

Melihat ‘cara’ makan Tasya yang sebegitu liarnya mampu membuat cacing yang sedari tadi bernyanyi-nyanyi riang didalam perutnya seakan telah lenyap dalam sekeja.  Ia tak henti-henti nya menatap dan mengerutkan keningnya-_-
Sedang tasya yang merasa seperti diliatin’pun merasa risih dan sesaat ia mendonggakan kepalanya guna menatapp sahabat yang menurutnyaa...aneh.

“lho kok lo ga makan malah ngeliatin gue?”
Tanya tasya karena dirinya merasa bahwa sosok didepannya tak melahap makanannya justru malah memandanginya. Entah ada yang salah atau tidak tasya tak tau.

“napsu makan gue ilang ngeliat cara makan lo yang kaya monyet ga makan satu bulan tau ga-_- lo laper apa doyan sih?”

“dua-dua nya :Dhehe”

Tasya kembali melanjutkan lahapannya guna menghabiskan makanan yang ada dihadapannya saat ini. Tasya memang seperti itu. Ia selalu tampil apa adanya. Selalu cuek masalah penampilan, dan tak memperdulikan bahwasanya orang disekitar memandanginya. Menurutnya, mereka yang memandanginya hanya ‘iri’ karena mereka tak berani melakukan apa yang Tasya lakukan saat ini. ‘bodo amat orang lain mau ngomong apa.toh ini hidup juga hidup gue’ kalimat itulah yang menjadi motto dalam hidupnya.
Sedang difa hanya memandangi Tasya dan sesekali menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang menurutnya ...’tak punya malu’ . meskipun seperti itu, Difa sama sekali tak merasa malu sedikitpun . karna difa tau, inilah Tasya , Tasya yang apa adanya.


“oh iya ini lo yang bayar kan semua?”
Tanya Tasya tiba-tiba pada Difa dengan mulut masih berisi santapan atau lebih tepatnya lahapan terakhir yang tersisa.

“telen dulu kek makananya”

Tasya segera mengunyah makanannya yang terakhir dan segera mengambil jus Alpukat yang tadi Difa pesan guna mendorong lahapan yang terakhir masuk dalam kerongkongannya dengan baik._.

“ini lo yang nraktir gue kan?”
Tanya Tasya ulang setelah mematiskan bahwa suapan yang terakhir kini telah masuk sempurna dalam perutnya
Sedang yang ditanya, hanya menganggukan kepalanya yang tak lain adalah menggantikan jawaban “iya”

“mbaa!!”
Panggil Tasya tiba-tiba pada pelajayan Restoran SeaFood ini. Entah apa yang ingin dia lakukan . sedang Difa hanya menatap tatapan heran pada sahabatnya yang satu ini.

“iyaa, ada yang bisa saya bantu?” ucap pelayan sopan.

“pesen Cumi bakar 2 ya mbaa, dibawa pulang.  jangan terlalu pedes. “

“apalagi?”

“Jus Melon 2”

“oke”

Terdengar langkah pelayan yang sedari tadi berbincang bersama Tasya melangkah menjauh dari meja no.5 ini. Tasya kembali duduk bersandar dan menyeruput jus Alpokat miliknya. Terlihat dari pancaran mukanya, ia terlihat santai. Seakan tak memiliki dosa sama sekali.

Disisi lain, Terlihat sekali dari raut wajah difa yang mulai memerah. Memancarkan aura yang begitu mengerikan. Ia terus menatap sahabatnya yang terlihat seolah tak memiliki dosa ini  dengan pancaran mata kesal. ‘Bagaimana mungkin Tasya bisa seenaknya memesan seperti itu?’ Ah benar-benar edan.

“maksud lo apa sih main pesen gitu?”

“ya kan tadi lo bilang lo laagi nraktir gue kan?”

“ngga gitu juga! Kalo uang gue ga nyukup gimana?”

“derita lo”

“cssshhhhhh!!! Lo tuh ya!”

“biasa aja keles-_- lagian lo kan anak pengusaha terkenal, tinggal gesek juga keluar tuh duit”


“ya kan tapi..”

“lagian juga itu buat nyokap sama kak Shila. Lo kan jarang-jarang tuh mbeliin makanan ke nyokap gue. Udah sih ah. Pelit amat jadi orang”

“yayayayaya”

Difa mencoba mengalah. Difa tau jika sudah adu mulut seperti ini Tasya mana mungkin bisa dikalahkan olehnya. Difa mengeloskan nafas-nafasnya berkali dan sesekali menatap sekumpulan uang berwarna merah yang tersusun rapi dalam dompet hitamnya. Saat ini ia tau akan mengikhlaskan  belasan uang merah miliknya ini akan beralih tangan pada orang lain.

Dua sejoli ini melangkahkan kakinya menuju kasir guna membayar apa yang telah mereka pesan tadi. Selesai membayar kan sejumlah uang mereka menuju ke arah pintu restoran untuk keluar dari Restoran

‘Tap Tap Tap’

Suara sepatu yang saling beradu dengan tanah seakan mampu memecahkan keheningan padamalam hari ini. Malam? Yaah. Waktu seakan terasa cepat sekali berlalu jika dua orang ini bersama.
Langkah kaki mereka   berhenti pada parkir motor mall yang terletak persis didepan Restoran ini. Tak perlumenunggu waktu lama, Difa telah bertengger pada cagiva miliknya. Disusul dengan Tasya yang kemudia langsung menduduki ruang kosong pada bagian Jok Motor milik Difa.

‘BRRRMMM’

Cagiva ini melaju cepat ditengah hiruk piuk kota Jakarta ini. Difa meliuk-liukan motornya dengan begitu piawainya.Ramainya dunia malam ibukota tak menghalangi kecepatan laju Cagiva Difa sekarang. Karna  Ia dengan lihai’nya mampu menyelip kendaraan-kendaraan yang menurutnya ‘mengganggu’.Sedang Tasya, ia mau tak mau  melingkarkan kedua tangannya pada perut difa  karna hanya dengan cara seperti inilah dia terhindar dari bahaya jatuh dari motor._.


**
“Shilaa!! Shilaa”

‘Tap Tap Tap’

Suara langkah kaki wanita paruhbaya ini segera menuju anak pertamanya, yang seedari tadi diteriaki tak ada jawaban sama sekali. Ia melangkahkan kaki setapak demi setapak.

‘Cklek’
Suara gagang pintu telah berbunyi. Yangmenandakan  berarti wanita ini sudah berada dalam kamar anak pertamanya, Shila. Ia terus memanggil nama anak pertamanya yang ia cari. Namun nihil. Lagi-lagi Tak ada respon.

Mata ibu dua anak ini mengarah pada pintu kamarmandi anaknya. Entah kenapa feelingnya mengatakan bahwa anaknya Shila ada dalam sana. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang dimaksud.


“Astaghfirullah Shila!! Apa-apaan sih kamu ini naak!!! Kamu bisa sakit kalo kaya gini!!”

Bukan kelembutan yang diterima oleh gadis yang tak lain shilla ini, malah justru suara yang begitu lantang yang dikeluarkan oleh wanita paruhbaya yannnng tak lain ibunya sendiri. bukan malah tangisnya reda,  tangis shila justru semakin deras ketika mengetahui bahwa ibunya ‘malah membentaknya’
Wanita ini segera menutup keran shower yang sedari tadi mengguyur tubuh anakpertamanya ini. Dan dengan sigap ia segera membangunkan Shila agar keluar dari tempat ini.

“ayo sayang bangun, kamu kenapa sayang?”
Nada yang tadinya terkesan kasar dan membentak, kini berubah dengan nada halus dan lembut. Mungkin karena melihat mata anak nya yang semakin mengeluarkan air.
Shilla segera bangun dari tempatnya saat ini dengan dibantu oleh orang yang saat ini bersamanya yang tak lain ibu kandungnya. Namun...

‘Trak’

Suara seperti benda jatuh membuat kedua wanita ini mengarahkan matanya ke arah bawah. Mata shila membulat sempurna. Jantungnya berdetak 50x lebih cepan dari biasanya. Saat ini ia hanya bisa berharap. Berharap bahwa mamahnya tak melihat atau bahkan tak peduli tentang suatu benda yang jatuh barusan. Matanya masih terpejam.

Shilla masih terus berdoa agar sang mamah tidak penasaran atau bahkan tidak mencari tau benda apa yang terjatuh tadi. Namun naas. Semua tak seperti apa yang shilla harapkan. Wanita paruh baya ini berjongkok dan terus mencari tau benda apa yang tadi terjatuh. Mata wanita ini membulat ketika menangkap sesuatu benda yang menurutnya adalah benda yang terjatuh barusan.
Tangan kanannya segera mengambil benda yang dimaksud tersebut. Air mukanya secepat kilat berubah merah padam layaknya seekor singa yang hendak menerkam puluhan Rusa.

“Shila, ini apa shil?!”

Tanya sang mamah seraya menunjukan benda yang tadi dipungutnya. Benda yang mampu membuat sang mamah shock. Benda yang tak lain dan tak bukan adalah Test Pack, alat tes kehamilan. Sang mamah masih terus menatap mata anaknya yang masih terpejam, dan dari pancaran matanya terlihat sekali bahwa tatapan ini menunjukan pada Shilla unntuk menjelaskan apa yang telah terjadi pada anak pertamanya ini. Sedang yang ditanya, ia sama sekali tak sanggup untuk mengeluarkan sepatah katapun. Bibirnya seakan keluh untuk berucap meski hanya sekedar satu huruf saja.

“Shila!! Jawab pertanyaan mamah!!”

Ucap sang mamah kedua kalinya karna sampai saat ini sang anak belum mengeluarkan sepatah katapun.

“maah :’( maaf.. shila.. shila.. shila ngga bermaksud buat mamah kecewa.. shilla hanya dipaksa mahh:’( maaf mah maaf:’(“


‘Plak’

Sebuah tangan mendarat dengan keras pada pipi gadis ini. Shila yang mendapati sebuah tamparan dari sang mamah hanya bisa meringis kesakitan;

“siapa yang ngelakuin ini sama kamu?!! Siapa?!! Roy? Apa dia yang beraninya ngelakuin ini sama kamu? Iyaa?!!!! Dasar anak ngga tau diri!!!”


Amarah sang mamah telah meledak hebat. Mukanya memerah padam. Membuat siapapun yang melihat pasti akan lari ketakutan. Sedang Shila? Ia hanya bisa menangis, menangis dan menangis menerima apa yang saat ini ia rasakan.

‘Plak’  untuk kedua kalinya sebuah tamparan keras harus kembali mendarat pada pipi kiri Shila.
“nggausah sok cengeng!! Siapa yang ngehamilin kamu? Siapa?!! Roy pacar kamu?  Csshhh. Beranisekali dia menyetubuhi kamu!Brengsek!!”


“Roy orang baik mah, bukan dia yang ngelakuin ini. Tapi om Alex!! Selingkuhan mamah!! Shila diperkosa sama om Alex mah:’( shila diperkosa!!!“

Dengan susah payah gadis ini mengatakan kalimat itu. Ia tau apa akibatnya jika ia mengucapkan kata itu, ia tau bahwa sang mamah akan ‘lebih menakutkan’ setelah mendengar apa yang telah ia lontarkan tadi. Dan benar saja ..

‘Plak’ sebuah tamparan mendarat untukkesekian kali pada pipi Shila. Bahkan tamparan yang mamahnya berikan saat ini jauh lebih keras dari tamparan-tamparan sebelumnya.

“lancang sekali mulut kamu! Mana mungkin alex bisa tergiur dengan tubuh cungkring kamu! Mana mungkin!!”


**
Sebuah Cagiva merah telah berhenti di depan rumah besar bercat putih . Seorang gadis cantik segera turun dari motor cagiva milik sahabatnya ini. Dan segera membuka gerbang rumahnya untuk segera memasuki surga dunianya yang tak lain Rumahnya. Ia tak sabar untuk menemui sang kakak untuk segera menyerahkan ‘cumi bakar’ kesukaan kakaknya.

“bagus banget ya padahal udah ditolong, dibeliin baju, ditraktir tapi sama sekali ngga ngucapin ‘makasih’”

Langkah sang gadis yang tak lain Tasya segera berhenti ketika mendengar ucapan Difa yang menurutnya mengganggu pendengarannya. Ia segera membalikan tubuhnya dan segera melangkahkan kakinya pada sosok yang telah mengantarkannya saat ini.

Bersambung..

Kritik dan sarannya ditunggu :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar