Near
PART 3.
Author : Hasri Imroatul Izza
Follow @izzayaaku
Tinggalkan jejak dengan like dan coment ya:) jangan jadi
pembaca gelap:p
“ngga mngkin!! Ngga mungkin!! Ini ngga mungkinnn!!!! Tuhan
ini ngga mungkin!!”
Seseorang berteriak tak beraturan didalam kamarnyaa. Lebih
tepatnya dalam kamar mandi kamarnya. Ia terus mengatakan ‘ngga mungkin!!!’ apa
yang terjadi?
Dari raut wajahnyaa, siapapun tau bahwa gadis ini sedang
mengalami masalah yang besar. Yah. Sangat besar.
2jam berlalu, namun tangis gadis ini tak kunjung mereda.
Bahkan semakin deras hingga sesenggukan. Matanya yang tengah sembab tak
berhentinya menatap sesuatu yang ia pegang sedari tadi. Benda yang membuat dia shock.stres.dan
frustasi.
Ia sangat shock saat ini. Air shower yang tumpah membasahi
tubuhnya tak mengurangi kesembab’nya saat ini. Ia terus menangis dan menangis
mengetahui apa yang terjadi saat ini. Yah fatal memang.
Ia terus menjerit sepuasnya karna ia tau saat ini rumahny
masih dalam keadaan sepi, orangtua nya sedang pergi mengurusi bisnis yang entah
kemana, adik satu-satunya yang tak kunjung pulang sekolah sampai saat ini dan
pembantu yang sedang izin pulang kampung untuk beberapa hari kedepan.
‘Tap Tap Tap’
Terdengar suara langkah kaki yang sepertinya mengarah kearah
tempat yang saat ini gadis ini tempati. Ia pun segera meredakan eh lebih
tepatnya mencoba memelankan tangisanya. Gadis ini berusaha untuk menghentikan
jalur air mata yang sedari tadi tak hentinya dilalui oleh butiran-butiran
airmata. Ia menatap benda yang sedari
tadi berada dalam genggamanya yang tak lain merupakan benda terburuk yang
pernah ia temukan. Dengan cepat ia segera menyembunyikan benda ini pada kantong
belakang pada celana yang ia gunakan saat ini.
Berharap siapapun tak akan pernah mengetahui akan hal ini.
**
Tak perlu menunggu waktu lama, seorang pelayan melangkahkan kakinya menuju meja
pojok kanan untuk mengantarkan pesanan pada meja no. 5 ini yang tak lain adalah meja tempat Difa dan
tasya sekarang.
Tanpa menunggu instruksi apapun, Tasya yang memang sedari
tadi terlihat lapar segera melahap makananya dengan begitu lahap. Entah apa
yang membuat gadis ini berubah menjadi
hewan liar(?) Sebegitu laparnya kah sampai ia melahap makananya hingga
seperti ini? Entahlaah..
Mata Difa tak henti-hentinya menatap sosok yang berada
didepannya ‘lagi’ . ia masih tak menyangka bahwa gadis yang berada didepannya
saat ini adalah gadis yang telah ia kenal belasan tahun silam.
Melihat ‘cara’ makan Tasya yang sebegitu liarnya mampu membuat
cacing yang sedari tadi bernyanyi-nyanyi riang didalam perutnya seakan telah
lenyap dalam sekeja. Ia tak henti-henti
nya menatap dan mengerutkan keningnya-_-
Sedang tasya yang merasa seperti diliatin’pun merasa risih
dan sesaat ia mendonggakan kepalanya guna menatapp sahabat yang
menurutnyaa...aneh.
“lho kok lo ga makan malah ngeliatin gue?”
Tanya tasya karena dirinya merasa bahwa sosok didepannya tak
melahap makanannya justru malah memandanginya. Entah ada yang salah atau tidak
tasya tak tau.
“napsu makan gue ilang ngeliat cara makan lo yang kaya
monyet ga makan satu bulan tau ga-_- lo laper apa doyan sih?”
“dua-dua nya :Dhehe”
Tasya kembali melanjutkan lahapannya guna menghabiskan
makanan yang ada dihadapannya saat ini. Tasya memang seperti itu. Ia selalu
tampil apa adanya. Selalu cuek masalah penampilan, dan tak memperdulikan
bahwasanya orang disekitar memandanginya. Menurutnya, mereka yang memandanginya
hanya ‘iri’ karena mereka tak berani melakukan apa yang Tasya lakukan saat ini.
‘bodo amat orang lain mau ngomong apa.toh ini hidup juga hidup gue’ kalimat
itulah yang menjadi motto dalam hidupnya.
Sedang difa hanya memandangi Tasya dan sesekali
menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang menurutnya ...’tak
punya malu’ . meskipun seperti itu, Difa sama sekali tak merasa malu sedikitpun
. karna difa tau, inilah Tasya , Tasya yang apa adanya.
“oh iya ini lo yang bayar kan semua?”
Tanya Tasya tiba-tiba pada Difa dengan mulut masih berisi
santapan atau lebih tepatnya lahapan terakhir yang tersisa.
“telen dulu kek makananya”
Tasya segera mengunyah makanannya yang terakhir dan segera
mengambil jus Alpukat yang tadi Difa pesan guna mendorong lahapan yang terakhir
masuk dalam kerongkongannya dengan baik._.
“ini lo yang nraktir gue kan?”
Tanya Tasya ulang setelah mematiskan bahwa suapan yang
terakhir kini telah masuk sempurna dalam perutnya
Sedang yang ditanya, hanya menganggukan kepalanya yang tak
lain adalah menggantikan jawaban “iya”
“mbaa!!”
Panggil Tasya tiba-tiba pada pelajayan Restoran SeaFood ini.
Entah apa yang ingin dia lakukan . sedang Difa hanya menatap tatapan heran pada
sahabatnya yang satu ini.
“iyaa, ada yang bisa saya bantu?” ucap pelayan sopan.
“pesen Cumi bakar 2 ya mbaa, dibawa pulang. jangan terlalu pedes. “
“apalagi?”
“Jus Melon 2”
“oke”
Terdengar langkah pelayan yang sedari tadi berbincang
bersama Tasya melangkah menjauh dari meja no.5 ini. Tasya kembali duduk
bersandar dan menyeruput jus Alpokat miliknya. Terlihat dari pancaran mukanya,
ia terlihat santai. Seakan tak memiliki dosa sama sekali.
Disisi lain, Terlihat sekali dari raut wajah difa yang mulai
memerah. Memancarkan aura yang begitu mengerikan. Ia terus menatap sahabatnya
yang terlihat seolah tak memiliki dosa ini
dengan pancaran mata kesal. ‘Bagaimana mungkin Tasya bisa seenaknya
memesan seperti itu?’ Ah benar-benar edan.
“maksud lo apa sih main pesen gitu?”
“ya kan tadi lo bilang lo laagi nraktir gue kan?”
“ngga gitu juga! Kalo uang gue ga nyukup gimana?”
“derita lo”
“cssshhhhhh!!! Lo tuh ya!”
“biasa aja keles-_- lagian lo kan anak pengusaha terkenal,
tinggal gesek juga keluar tuh duit”
“ya kan tapi..”
“lagian juga itu buat nyokap sama kak Shila. Lo kan
jarang-jarang tuh mbeliin makanan ke nyokap gue. Udah sih ah. Pelit amat jadi
orang”
“yayayayaya”
Difa mencoba mengalah. Difa tau jika sudah adu mulut seperti
ini Tasya mana mungkin bisa dikalahkan olehnya. Difa mengeloskan nafas-nafasnya
berkali dan sesekali menatap sekumpulan uang berwarna merah yang tersusun rapi
dalam dompet hitamnya. Saat ini ia tau akan mengikhlaskan belasan uang merah miliknya ini akan beralih
tangan pada orang lain.
Dua sejoli ini melangkahkan kakinya menuju kasir guna
membayar apa yang telah mereka pesan tadi. Selesai membayar kan sejumlah uang
mereka menuju ke arah pintu restoran untuk keluar dari Restoran
‘Tap Tap Tap’
Suara sepatu yang saling beradu dengan tanah seakan mampu memecahkan
keheningan padamalam hari ini. Malam? Yaah. Waktu seakan terasa cepat sekali
berlalu jika dua orang ini bersama.
Langkah kaki mereka
berhenti pada parkir motor mall yang terletak persis didepan Restoran
ini. Tak perlumenunggu waktu lama, Difa telah bertengger pada cagiva miliknya.
Disusul dengan Tasya yang kemudia langsung menduduki ruang kosong pada bagian
Jok Motor milik Difa.
‘BRRRMMM’
Cagiva ini melaju cepat ditengah hiruk piuk kota Jakarta ini.
Difa meliuk-liukan motornya dengan begitu piawainya.Ramainya dunia malam
ibukota tak menghalangi kecepatan laju Cagiva Difa sekarang. Karna Ia dengan lihai’nya mampu menyelip
kendaraan-kendaraan yang menurutnya ‘mengganggu’.Sedang Tasya, ia mau tak
mau melingkarkan kedua tangannya pada
perut difa karna hanya dengan cara
seperti inilah dia terhindar dari bahaya jatuh dari motor._.
**
“Shilaa!! Shilaa”
‘Tap Tap Tap’
Suara langkah kaki wanita paruhbaya ini segera menuju anak
pertamanya, yang seedari tadi diteriaki tak ada jawaban sama sekali. Ia
melangkahkan kaki setapak demi setapak.
‘Cklek’
Suara gagang pintu telah berbunyi. Yangmenandakan berarti wanita ini sudah berada dalam kamar
anak pertamanya, Shila. Ia terus memanggil nama anak pertamanya yang ia cari.
Namun nihil. Lagi-lagi Tak ada respon.
Mata ibu dua anak ini mengarah pada pintu kamarmandi
anaknya. Entah kenapa feelingnya mengatakan bahwa anaknya Shila ada dalam sana.
Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang dimaksud.
“Astaghfirullah Shila!! Apa-apaan sih kamu ini naak!!! Kamu bisa
sakit kalo kaya gini!!”
Bukan kelembutan yang diterima oleh gadis yang tak lain
shilla ini, malah justru suara yang begitu lantang yang dikeluarkan oleh wanita
paruhbaya yannnng tak lain ibunya sendiri. bukan malah tangisnya reda, tangis shila justru semakin deras ketika
mengetahui bahwa ibunya ‘malah membentaknya’
Wanita ini segera menutup keran shower yang sedari tadi
mengguyur tubuh anakpertamanya ini. Dan dengan sigap ia segera membangunkan
Shila agar keluar dari tempat ini.
“ayo sayang bangun, kamu kenapa sayang?”
Nada yang tadinya terkesan kasar dan membentak, kini berubah
dengan nada halus dan lembut. Mungkin karena melihat mata anak nya yang semakin
mengeluarkan air.
Shilla segera bangun dari tempatnya saat ini dengan dibantu
oleh orang yang saat ini bersamanya yang tak lain ibu kandungnya. Namun...
‘Trak’
Suara seperti benda jatuh membuat kedua wanita ini
mengarahkan matanya ke arah bawah. Mata shila membulat sempurna. Jantungnya berdetak
50x lebih cepan dari biasanya. Saat ini ia hanya bisa berharap. Berharap bahwa
mamahnya tak melihat atau bahkan tak peduli tentang suatu benda yang jatuh
barusan. Matanya masih terpejam.
Shilla masih terus berdoa agar sang mamah tidak penasaran
atau bahkan tidak mencari tau benda apa yang terjatuh tadi. Namun naas. Semua tak
seperti apa yang shilla harapkan. Wanita paruh baya ini berjongkok dan terus
mencari tau benda apa yang tadi terjatuh. Mata wanita ini membulat ketika
menangkap sesuatu benda yang menurutnya adalah benda yang terjatuh barusan.
Tangan kanannya segera mengambil benda yang dimaksud
tersebut. Air mukanya secepat kilat berubah merah padam layaknya seekor singa
yang hendak menerkam puluhan Rusa.
“Shila, ini apa shil?!”
Tanya sang mamah seraya menunjukan benda yang tadi
dipungutnya. Benda yang mampu membuat sang mamah shock. Benda yang tak lain dan
tak bukan adalah Test Pack, alat tes kehamilan. Sang mamah masih terus menatap
mata anaknya yang masih terpejam, dan dari pancaran matanya terlihat sekali
bahwa tatapan ini menunjukan pada Shilla unntuk menjelaskan apa yang telah
terjadi pada anak pertamanya ini. Sedang yang ditanya, ia sama sekali tak
sanggup untuk mengeluarkan sepatah katapun. Bibirnya seakan keluh untuk berucap
meski hanya sekedar satu huruf saja.
“Shila!! Jawab pertanyaan mamah!!”
Ucap sang mamah kedua kalinya karna sampai saat ini sang
anak belum mengeluarkan sepatah katapun.
“maah :’( maaf.. shila.. shila.. shila ngga bermaksud buat
mamah kecewa.. shilla hanya dipaksa mahh:’( maaf mah maaf:’(“
‘Plak’
Sebuah tangan mendarat dengan keras pada pipi gadis ini.
Shila yang mendapati sebuah tamparan dari sang mamah hanya bisa meringis
kesakitan;
“siapa yang ngelakuin ini sama kamu?!! Siapa?!! Roy? Apa dia
yang beraninya ngelakuin ini sama kamu? Iyaa?!!!! Dasar anak ngga tau diri!!!”
Amarah sang mamah telah meledak hebat. Mukanya memerah
padam. Membuat siapapun yang melihat pasti akan lari ketakutan. Sedang Shila? Ia
hanya bisa menangis, menangis dan menangis menerima apa yang saat ini ia
rasakan.
‘Plak’ untuk kedua
kalinya sebuah tamparan keras harus kembali mendarat pada pipi kiri Shila.
“nggausah sok cengeng!! Siapa yang ngehamilin kamu? Siapa?!!
Roy pacar kamu? Csshhh. Beranisekali dia
menyetubuhi kamu!Brengsek!!”
“Roy orang baik mah, bukan dia yang ngelakuin ini. Tapi om
Alex!! Selingkuhan mamah!! Shila diperkosa sama om Alex mah:’( shila
diperkosa!!!“
Dengan susah payah gadis ini mengatakan kalimat itu. Ia tau
apa akibatnya jika ia mengucapkan kata itu, ia tau bahwa sang mamah akan ‘lebih
menakutkan’ setelah mendengar apa yang telah ia lontarkan tadi. Dan benar saja
..
‘Plak’ sebuah tamparan mendarat untukkesekian kali pada pipi
Shila. Bahkan tamparan yang mamahnya berikan saat ini jauh lebih keras dari
tamparan-tamparan sebelumnya.
“lancang sekali mulut kamu! Mana mungkin alex bisa tergiur
dengan tubuh cungkring kamu! Mana mungkin!!”
**
Sebuah Cagiva merah telah berhenti di depan rumah besar
bercat putih . Seorang gadis cantik segera turun dari motor cagiva milik
sahabatnya ini. Dan segera membuka gerbang rumahnya untuk segera memasuki surga
dunianya yang tak lain Rumahnya. Ia tak sabar untuk menemui sang kakak untuk
segera menyerahkan ‘cumi bakar’ kesukaan kakaknya.
“bagus banget ya padahal udah ditolong, dibeliin baju,
ditraktir tapi sama sekali ngga ngucapin ‘makasih’”
Langkah sang gadis yang tak lain Tasya segera berhenti
ketika mendengar ucapan Difa yang menurutnya mengganggu pendengarannya. Ia segera
membalikan tubuhnya dan segera melangkahkan kakinya pada sosok yang telah
mengantarkannya saat ini.
Bersambung..
Kritik dan sarannya ditunggu :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar