Jumat, 09 Februari 2018

do you remember? (2)



17 Januari 2016

Aku merebahkan diri pada kamar tercintaku, memandang langit-langit kosong yang entah kenapa aku begitu menikmati pemandangan tak menarik itu. Namun tanpa kuduga, otaku justru kembali mengingatmu. Ah kenapa selalu kamu... apa kaitannya kamu dengan langit-langit? Tibatiba otaku memutar memori bersetting tempat parkir kelas 10. Apa kamu ingat kejadian manis bersetting parkiran itu? bodoh. Pasti lupa lah. Aku ingat betul kala aku dan kamu bertukar kertas. Kertas bergrafiti karya aku dan kamu. Yang sama-sama kita buat secara special untuk satu sama lain. Selembar kertas yang sangat berarti. Bytheway, aku masih sering membukanya, lho hehe. 

Fikiranku kini telah tergantikan.. memori ini memutar kala kamu berulang tahun ke-15. Aku ingat betul ketika aku mencoba memberimu surprise kecil untukmu. Bersetting tempat studio ac*rd Masih tergambar jelas raut wajahmu yang kala itu begitu bahagia melihat sosokmu yang tak kamu sangka hadir membawakan kue untukmu.

Aku kemudian teringat ketika kau menjemputku berangkat sekolah. Ketika pukul 06:00 kamu telah sampai depan rumahku. Jarak rumah kita yang begitu jauh, dari ujung ke ujung ini membuktikan betapa rela berkorbannya kamu untuku kala itu.Aku berterimakasih padamu, dan lagi-lagi aku mencintaimu.

Tiba-tiba aku teringat seutas kenangan pada ruang tamuku. Iya, ketika kamu untuk pertama kalinya mampir atau bahasa pacarannya ‘apel’ . aku ingat kamu yang dengan gaya berjalanmu yang khas masuk dengan sebuah minuman fortyeight kesukaanku dan sebuah gitar ditanganmu. Lalu aku memintamu untuk mengajariku gitar. Dan.......aah!!! kamu dengan telaten mengajariku, mengenalkanku pada kunci-kunci dasar yang belum ku ketahui 

28januari2015. Yah ulang tahunku. Aku ingat betul kala kamu datang kerumahku malam hari tepat sepulang kamu latihan futsal. Bukan untuk memberi surprise atau memberi seikat bunga atau hal manis sebaginya, bukan. Aku tau betul kamu bukanlah tipe romantis idaman perempuan perempuan diluar sana. Kamu selalu sederhana dan apa adanya dalam berbagai hal. Mungkin itu lah yang menjadikan kamu sosok idama wanita-wanita, dan aku termasuk dalam kategori wanita tersebut. Dan benar saja entah kenapa aku selalu istimewa dibuatmu, Sangat istimewa. Bagi aku, kedatanganmu kerumah membawakan sekotak kado jam tangan istimewa itu adalah hal terindah yang pernah aku terima. Aku merasa begitu diistimewakan.. ya.. seditaknya kala itu...

Hm aku masih ingat dimana tongkrongan kita sepulang sekolah. Yap. Buurip. Disitulah kita bersama, dalam satu warung, namun beda arah. Ketika aku berada sisi kanan kamu kiri, kamu kanan aku kiri. Selalu begitu hingga tak pernah menemui titik tengah. Namun tak apa, aku sangat bahagia berada didekatmu. Aku ingat ketika salah satu diantara kita ingin pulang , kamu ataupun aku menemui satu sama lain yang berada pada ujung. Hanya untuk sekedar berkata “aku pulang dulu ya”. Bahkan aku ingat betul ketika aku menyalami tanganmu didepan teman-temanku dan teman temanmu... sesederhana itu, namun begitu manis.

Oh iya, aku juga ingat , sangaaat ingat ketika aku mengerjakan remidial fisika dirumahmu. Hanya berdua. Iya, hanya ada aku , kamu dan kesunyian malam . kamu yang kebetulan anak IPA senantiasa mengajariku fisika yang notabennya anak IPS. Aku menulis fisika itu pada lembar folio, hingga selesai, kita duduk berdampingan. Untuk pertama kalinya aku dan kamu tanpa jarak. Bahkan aku ingat betul saat kamu bersandar padaku seraya membuka hp-ku. Mengecek seluruh hp-ku atau bisa dibilang menguji kesetiaanku, ah kamu// dan aku bahkan ingat betul ketika adzan berkumandang,kamu mengajaku sholat berjamaah. Its the best moment ever in my life, Saku. Selesai sholat aku hanya mampu berdoa “YaAllah, aku ingin ia didepanku lah yang menjadi imamku kelak, boleh?” namun nyatanya kamu pergi, meninggalkan luka...

Hingga lambat laun kamu telah berubah sosok, menjadi sosok yang sama sekali tak ingin aku inginin. Kamu berubah, entah karena apa. Aku masih ingat saat kamu mampu membuatku menangis deras ditengah ramainya api unggun. Aku ingat betul bagaimana sosokmu mengabaikanku secara nyata ditengah ramainya anak pramuka. . hingga suatu hari aku memergoki kamu dengan gadis lain beberapa hari sepulang camping. Aku melihat betul sosokmu secara nyata berdua mesra dengan gadis itu. sedangkan bersamaku pun kamu tak pernah seperti itu. setiap kali ku tanya, kau hanya bilang “kita hanya teman” hey. Kamu fikir aku sebodoh itu yang tak bisa membedakan teman yang sebenarnya? Aku tak menyangka kamu setega itu menghancurkan mimpi yang telah kita bangun satu tahun itu. Aku tak menyangka betapa mudahnya hatimu tergoyahkan karenanya. Apa kamu  tak pernah menyayangkan hubungan kita yang sudah satu tahun itu? apa kamu lupa jika kita pernah berjuang mempertahankan hati? Apa tak ada istimewa-istimewanya aku dimatamu sebagai kekasih pertamamu? Bukankah yang pertama lah yang paling terkenang? Namun mengapa justru kamu lah yang selalu aku kenang padahal kamu cinta kesekian ku? Aku rindu kamu, rindu kita, saku, ciku.
                                                                                
                                                Dari ‘ciku’ yang selalu merindukan saku kekasihnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar