17
Januari 2016
Aku merebahkan
diri pada kamar tercintaku, memandang langit-langit kosong yang entah kenapa
aku begitu menikmati pemandangan tak menarik itu. Namun tanpa kuduga, otaku
justru kembali mengingatmu. Ah kenapa selalu kamu... apa kaitannya kamu dengan
langit-langit? Tibatiba otaku memutar memori bersetting tempat parkir kelas 10.
Apa kamu ingat kejadian manis bersetting parkiran itu? bodoh. Pasti lupa lah.
Aku ingat betul kala aku dan kamu bertukar kertas. Kertas bergrafiti karya aku
dan kamu. Yang sama-sama kita buat secara special untuk satu sama lain.
Selembar kertas yang sangat berarti. Bytheway, aku masih sering membukanya, lho
hehe.
Fikiranku kini
telah tergantikan.. memori ini memutar kala kamu berulang tahun ke-15. Aku ingat
betul ketika aku mencoba memberimu surprise kecil untukmu. Bersetting tempat
studio ac*rd Masih tergambar jelas raut wajahmu yang kala itu begitu bahagia
melihat sosokmu yang tak kamu sangka hadir membawakan kue untukmu.
Aku kemudian
teringat ketika kau menjemputku berangkat sekolah. Ketika pukul 06:00 kamu
telah sampai depan rumahku. Jarak rumah kita yang begitu jauh, dari ujung ke
ujung ini membuktikan betapa rela berkorbannya kamu untuku kala itu.Aku
berterimakasih padamu, dan lagi-lagi aku mencintaimu.
Tiba-tiba aku
teringat seutas kenangan pada ruang tamuku. Iya, ketika kamu untuk pertama
kalinya mampir atau bahasa pacarannya ‘apel’ . aku ingat kamu yang dengan gaya
berjalanmu yang khas masuk dengan sebuah minuman fortyeight kesukaanku dan sebuah gitar ditanganmu. Lalu aku
memintamu untuk mengajariku gitar. Dan.......aah!!! kamu dengan telaten
mengajariku, mengenalkanku pada kunci-kunci dasar yang belum ku ketahui
28januari2015.
Yah ulang tahunku. Aku ingat betul kala kamu datang kerumahku malam hari tepat
sepulang kamu latihan futsal. Bukan untuk memberi surprise atau memberi seikat
bunga atau hal manis sebaginya, bukan. Aku tau betul kamu bukanlah tipe
romantis idaman perempuan perempuan diluar sana. Kamu selalu sederhana dan apa
adanya dalam berbagai hal. Mungkin itu lah yang menjadikan kamu sosok idama
wanita-wanita, dan aku termasuk dalam kategori wanita tersebut. Dan benar saja
entah kenapa aku selalu istimewa dibuatmu, Sangat istimewa. Bagi aku,
kedatanganmu kerumah membawakan sekotak kado jam tangan istimewa itu adalah hal
terindah yang pernah aku terima. Aku merasa begitu diistimewakan.. ya.. seditaknya
kala itu...
Hm aku masih
ingat dimana tongkrongan kita sepulang sekolah. Yap. Buurip. Disitulah kita
bersama, dalam satu warung, namun beda arah. Ketika aku berada sisi kanan kamu
kiri, kamu kanan aku kiri. Selalu begitu hingga tak pernah menemui titik
tengah. Namun tak apa, aku sangat bahagia berada didekatmu. Aku ingat ketika
salah satu diantara kita ingin pulang , kamu ataupun aku menemui satu sama lain
yang berada pada ujung. Hanya untuk sekedar berkata “aku pulang dulu ya”. Bahkan aku ingat betul ketika aku menyalami
tanganmu didepan teman-temanku dan teman temanmu... sesederhana itu, namun
begitu manis.
Oh iya, aku juga
ingat , sangaaat ingat ketika aku mengerjakan remidial fisika dirumahmu. Hanya
berdua. Iya, hanya ada aku , kamu dan kesunyian malam . kamu yang kebetulan
anak IPA senantiasa mengajariku fisika yang notabennya anak IPS. Aku menulis
fisika itu pada lembar folio, hingga selesai, kita duduk berdampingan. Untuk
pertama kalinya aku dan kamu tanpa jarak. Bahkan aku ingat betul saat kamu
bersandar padaku seraya membuka hp-ku. Mengecek seluruh hp-ku atau bisa
dibilang menguji kesetiaanku, ah kamu// dan aku bahkan ingat betul ketika adzan
berkumandang,kamu mengajaku sholat berjamaah. Its the best moment ever in my
life, Saku. Selesai sholat aku hanya mampu berdoa “YaAllah, aku ingin ia didepanku lah yang menjadi imamku kelak, boleh?”
namun nyatanya kamu pergi, meninggalkan luka...
Hingga lambat
laun kamu telah berubah sosok, menjadi sosok yang sama sekali tak ingin aku
inginin. Kamu berubah, entah karena apa. Aku masih ingat saat kamu mampu
membuatku menangis deras ditengah ramainya api unggun. Aku ingat betul
bagaimana sosokmu mengabaikanku secara nyata ditengah ramainya anak pramuka. .
hingga suatu hari aku memergoki kamu dengan gadis lain beberapa hari sepulang
camping. Aku melihat betul sosokmu secara nyata berdua mesra dengan gadis itu.
sedangkan bersamaku pun kamu tak pernah seperti itu. setiap kali ku tanya, kau
hanya bilang “kita hanya teman” hey.
Kamu fikir aku sebodoh itu yang tak bisa membedakan teman yang sebenarnya? Aku
tak menyangka kamu setega itu menghancurkan mimpi yang telah kita bangun satu
tahun itu. Aku tak menyangka betapa mudahnya hatimu tergoyahkan karenanya. Apa
kamu tak pernah menyayangkan hubungan
kita yang sudah satu tahun itu? apa kamu lupa jika kita pernah berjuang
mempertahankan hati? Apa tak ada istimewa-istimewanya aku dimatamu sebagai
kekasih pertamamu? Bukankah yang pertama lah yang paling terkenang? Namun
mengapa justru kamu lah yang selalu aku kenang padahal kamu cinta kesekian ku?
Aku rindu kamu, rindu kita, saku, ciku.
Dari
‘ciku’ yang selalu merindukan saku kekasihnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar