Jumat, 09 Februari 2018

Teruntuk kamu yang telah lama hilang.



17 Januari 2016
Teruntuk kamu yang telah lama hilang.

Entah sudah berapa ratusribu detik setelah perpisahan kita kala itu, aku masih senantiasa disini. Ditempat yang sama, dengan perasaan yang sama dan tentu untuk orang yang sama. Kamu.  
Hari ini seperti biasa aku menjalankan aktivitasku. Tak ada yang istimewa. Semuanya berjalan seperti biasa. Flat. Ya. Tak seperti beberapa bulan lalu ketika kamu masih bersamaku. Namun kali ini hariku nampak berbeda, ketika aku ingin melangkahkan kaki keluar kelas, mataku tak sengaja menangkapmu yang kala itu berada dua puluh meter dari tempatku berdiri. Aku memilih tak melanjtkan langkah dan berhenti ditempat ini, tepatnya dibalik pintu kelasku yang aku dapat dengan mudahnya memerhatikanmu melalui bangku terdepan dalam ruangan ini. 

Aku sangat bersyukur kali ini dapat dengan nyata melihat sosokmu dengan begitu bebas. Kupandangi liuk piuk tubuhmu sedetail mungkin. Matamu masih sama seperti dahulu, cara mu memandang orang pun masih sangat aku kenali betul. Rambutmu, ah rupanya kamu tampil dengan hairstyle baru. Darimana saja aku hingga tak menyadari gaya rambutmu yang justru kian membuatku terpesona itu? dari sini aku lihat kamu sedang bercengkrama, ah aku begitu merindukan ketika kamu mulai membuka pembicaraan diantara kita, memecah keheningan ditengah-tengah hembusan angin, aku rindu percakapan kita, dan aku sangat rindu nada bicaramu yang begitu menggetarkan jiwa. Kali ini aku lihat kamu tersenyum. Senyum itu.... senyum yang beberapa bulan lalu senantiasa ada kala kita berpas-pasan. Senyum yang sampai saat ini masih terpampang nyata pada deretan foto pada layar hp-ku, senyum yang dahulu senantiasa kau persembahkan untuku, namun kini telah berganti penerima.

Aku masih tak berpaling dari tempatku, dan kini kulihat suatu hal yang sangat sangat tak asing lagi dimataku.....ah tatapan itu! aku sangat mengenal betul tatapan itu. Tatapan mata yang dahulu menjadi andalanmu ketika menatapku. Tatapan nyata penuh kehangatan, penuh cinta kasih yang dahulu hanya kau persembahkan untuku. Namun kali ini.. mengapa kau menggunakan tatapan mata itu juga? Untuk siapa tatapan matamu itu kau persembahkan? Ah sial dari sini aku tak dapat melihat betul sosok penerima tatapan itu, mengharuskanku untuk melangkahkan kaki sedikit untuk bisa mengetahuinya. Dan benar saja. Perempuan itu! perempuan itulah ternyata si penerima tatapan maut darimu. Perempuan jahanam yang telah merusak surga yang sedang kita bangun kala itu. seharusnya aku tak perlu bertanya lagi akan tatapan mautnya, karna ia lah yang telah menggantikan posisiku dihatinya. Ia lah yang telah mendepak-ku pergi jauh dari hidupnya, dan ia lah bagian dari hidupnya, bukan lagi aku. Harusnya aku sudah sadar itu sejak beberapa bulan yang lalu. Namun pada kenyataannya aku masih tak sepenuhnya sadar, bahkan tak ingin sama sekali untuk sadar bahwa kini kau tak lagi miliku. Sebuah mimpi yang teramat sangat buruk yang kini menjelma menjadi kenyataan pahit yang harus aku lalui. Aku tak peduli jikalau hatimu bukan lagi buat aku. Aku tak peduli jika sosokmu kini bukan lagi milikmu. Aku tak peduli jika semua tentangku telah kamu hilangkan. Tapi yang pasti, kamu untukku selalu sama. Selalu menjadi sosok special yang selalu aku harapkan kehadirannya. 

                                                                                                                                Dari ‘ciku’ yang masih menyayangimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar