17
Januari 2016
Teruntuk kamu yang telah lama hilang.
Entah sudah
berapa ratusribu detik setelah perpisahan kita kala itu, aku masih senantiasa
disini. Ditempat yang sama, dengan perasaan yang sama dan tentu untuk orang
yang sama. Kamu.
Hari ini seperti
biasa aku menjalankan aktivitasku. Tak ada yang istimewa. Semuanya berjalan
seperti biasa. Flat. Ya. Tak seperti beberapa bulan lalu ketika kamu masih
bersamaku. Namun kali ini hariku nampak berbeda, ketika aku ingin melangkahkan
kaki keluar kelas, mataku tak sengaja menangkapmu yang kala itu berada dua
puluh meter dari tempatku berdiri. Aku memilih tak melanjtkan langkah dan
berhenti ditempat ini, tepatnya dibalik pintu kelasku yang aku dapat dengan
mudahnya memerhatikanmu melalui bangku terdepan dalam ruangan ini.
Aku sangat
bersyukur kali ini dapat dengan nyata melihat sosokmu dengan begitu bebas.
Kupandangi liuk piuk tubuhmu sedetail mungkin. Matamu masih sama seperti
dahulu, cara mu memandang orang pun masih sangat aku kenali betul. Rambutmu, ah
rupanya kamu tampil dengan hairstyle baru. Darimana saja aku hingga tak
menyadari gaya rambutmu yang justru kian membuatku terpesona itu? dari sini aku
lihat kamu sedang bercengkrama, ah aku begitu merindukan ketika kamu mulai
membuka pembicaraan diantara kita, memecah keheningan ditengah-tengah hembusan
angin, aku rindu percakapan kita, dan aku sangat rindu nada bicaramu yang
begitu menggetarkan jiwa. Kali ini aku lihat kamu tersenyum. Senyum itu....
senyum yang beberapa bulan lalu senantiasa ada kala kita berpas-pasan. Senyum
yang sampai saat ini masih terpampang nyata pada deretan foto pada layar hp-ku,
senyum yang dahulu senantiasa kau persembahkan untuku, namun kini telah
berganti penerima.
Aku masih tak
berpaling dari tempatku, dan kini kulihat suatu hal yang sangat sangat tak
asing lagi dimataku.....ah tatapan itu! aku sangat mengenal betul tatapan itu.
Tatapan mata yang dahulu menjadi andalanmu ketika menatapku. Tatapan nyata
penuh kehangatan, penuh cinta kasih yang dahulu hanya kau persembahkan untuku.
Namun kali ini.. mengapa kau menggunakan tatapan mata itu juga? Untuk siapa
tatapan matamu itu kau persembahkan? Ah sial dari sini aku tak dapat melihat
betul sosok penerima tatapan itu, mengharuskanku untuk melangkahkan kaki
sedikit untuk bisa mengetahuinya. Dan benar saja. Perempuan itu! perempuan
itulah ternyata si penerima tatapan maut darimu. Perempuan jahanam yang telah
merusak surga yang sedang kita bangun kala itu. seharusnya aku tak perlu
bertanya lagi akan tatapan mautnya, karna ia lah yang telah menggantikan posisiku
dihatinya. Ia lah yang telah mendepak-ku pergi jauh dari hidupnya, dan ia lah
bagian dari hidupnya, bukan lagi aku. Harusnya aku sudah sadar itu sejak
beberapa bulan yang lalu. Namun pada kenyataannya aku masih tak sepenuhnya sadar,
bahkan tak ingin sama sekali untuk sadar bahwa kini kau tak lagi miliku. Sebuah
mimpi yang teramat sangat buruk yang kini menjelma menjadi kenyataan pahit yang
harus aku lalui. Aku tak peduli jikalau hatimu bukan lagi buat aku. Aku tak
peduli jika sosokmu kini bukan lagi milikmu. Aku tak peduli jika semua
tentangku telah kamu hilangkan. Tapi yang pasti, kamu untukku selalu sama.
Selalu menjadi sosok special yang selalu aku harapkan kehadirannya.
Dari
‘ciku’ yang masih menyayangimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar